
Di dalam Asrama, Asmiranda terus memeluk Earlene selagi menangis.
"Aku sangat kangen sekali dengan Ojou-sama, hueeh."
"Aku juga begitu."
Agil yang melihatnya hanya menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Latihan kami sedikit terlambat namun sekarang kami sudah bertambah kuat princess."
"Aku bisa melihat itu, kerja bagus untuk kalian berdua."
Earlene mulai *******-***** pantat Asmiranda hingga dia terus mengeluarkan suara seksi.
"Untuk hari ini, bisa kau tinggalkan kami berdua."
"Ah tentu saja, aku akan datang pagi nanti."
Agil menundukkan kepalanya sebelum menutup pintu. Dia sudah tahu tentang hubungan keduanya jadi dia memilih memberikan privasi untuk mereka.
Agil keluar dari akademi dan melihat bahwa hari ini sama sekali tidak ada bintang ataupun cahaya bulan.
"Padahal aku menyukai langit malam yang indah," dia kembali berjalan dan menemukan dirinya di sebuah bar yang hanya beroperasi saat malam hari.
"Yo Agil, kukira kau sudah tidak datang kemari," yang berkata itu adalah pria yang sedang mabuk berat.
__ADS_1
Dia duduk sendirian jadi Agil mengambil tempat di depannya, mereka sudah saling mengenal dan sesekali bertemu di sini.
Para wanita berpakaian renang mulai meletakan pesanan di meja-meja lain dan Agil meminta satu bir dengan ukuran medium.
"Ini minuman Anda."
"Terima kasih."
Agil melepaskan helmnya dan di sana bukanlah kepala tengkorak melainkan wajah seorang pria dewasa sebagai mestinya.
"Ugh, ini baru pertama kalinya kau melepaskan helmmu, kau punya wajah bagus rupanya."
"Aku tidak terlalu ingin menunjukannya, bersulang."
"Bersulang."
Semua itu berkat Theresia yang membantunya.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah mendengar soal rumor pembunuh berantai?"
"Rumor pemburu berantai?"
"Ah iya, dia selalu muncul di kota sebelah dan menargetkan siapapun yang ada di luar jam malam, aku dengar mereka dihabisi dengan tragis."
"Bagaimana soal penjaga yang bertugas."
__ADS_1
"Mereka tidak berani keluar, yang jelas kota itu seperti kota mati saja di malam hari."
"Malam ini aku senggang, aku pikir aku akan ke sana."
"Kau benar-benar nekat, pastikan kau selamat."
"Aah."
Agil menutup wajahnya kembali, setelah melakukan pembayaran dia memutuskan pergi ke kota yang dimaksud, dia mengarahkan tangannya dan seekor kuda tanpa kepala muncul dari sebuah bayangan dan ia naik ke atasnya.
Kuda itu dua kali lipat lebih besar dengan empat kakinya yang jauh berotot.
Entah bagaimana caranya kuda itu bisa bergerak tanpa kesulitan, sesampainya di sana Agil menghilangkan kendaraanya dan mulai menyisir kota.
"Malam ini pasti akan sedikit tidak membosankan," katanya demikian.
Sebelum pelatihan Agil memang terkadang sering melakukan rutinitas seperti ini, ia bahkan dijuluki sebagai kegelapan yang membantu orang-orang.
Mengesampingkan hal itu, Agil berjalan dengan santai dan menemukan seorang pria yang berdiri di perempatan jalan.
"Oi, apa yang kau lakukan di sana... ini sudah malam loh."
Agil menarik pedangnya dan berjalan dengan siaga, saat pria itu berbalik dia menemukan bahwa pria itu bukanlah manusia, mulutnya mengeluarkan gigi berjeruji, mata semerah darah dan terlebih telinga yang naik ke atas, bisa dipastikan dia sedikit menyerupai kelelawar.
"Hoh, jadi ini ulahmu... kau memburu manusia."
__ADS_1
Makhluk itu tidak menjawabnya melainkan langsung berlari ke arah Agil, tanpa ragu Agil membelah tubuhnya menjadi dua bagian melalui pedang besarnya.