
Mereka dibawa ke sebuah bangunan toko yang terlihat terawat dan terjaga seutuhnya, di dalamnya bersih dan dihiasi perabotan pada umumnya. Ada seekor boneka beruang seukuran manusia yang membuatkan teh untuk mereka bagaimana tangannya bisa membuatnya adalah hal yang patut dipertanyakan.
"Terima kasih," ucap hormat Agil dimana boneka beruang mengangguk mengiyakan sebelum berdiri di belakang Aria yang menyeruput tehnya dan membiarkan boneka beruang kecil tetap berada di pangkuannya.
"Apa boneka yang ini tidak bergerak?" tanya Asmiranda.
"Tidak, ini boneka yang diberikan ibuku... hanya boneka inilah yang tidak boleh diisi roh siapapun."
"Ah begitu."
Earlene yang telah menyesap tehnya mulai menjelaskan kedatangannya.
"Aku ingin Aria bergabung denganku, dengan kemampuanmu para pasukanku yang berkurang akan terisi kembali dan kita bisa bertarung dengan raja iblis lainnya."
"Aku sudah mengatakan sejak awal jawabanku tetap sama."
"Apa tidak bisa dipikirkan lagi?"
"Terlibat pertarungan bukan hal yang baik, aku membunuh orang-orang yang kalian lihat karena tidak ada jalan lagi sebenarnya jauh dari lubuk hatiku sama sekali tidak menginginkannya."
"Kalau menjadi maskot?"
"Mau aku hajar."
"Lupakan saja, ngomong-ngomong siapa yang di belakangmu, aku yakin sebelumnya dia tidak berada di sini?"
"Namanya Hazel, dia pelayan setiaku... aku menemukannya bergentayangan di luar kota jadi aku membuat kontrak dengannya."
"Hmmm begitu. Bukannya lebih baik jika dia memiliki tubuh boneka manusia dibandingkan beruang?"
Beruang yang dimaksud menggelengkan kepalanya seolah berkata bahwa itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Memang benar, ia sedikit kesulitan dalam pekerjaan rumah tangga. Hanya boneka ini yang ada di tempat ini."
"Aku bisa membuatkannya jika kau mau namun tentu dengan syarat?"
"Meski kau bilang begitu aku masih menolak dengan apa yang kau tawarkan."
"Tidak, tidak, kau menolak berperang tapi jika hal lain tidak masalah bukan. Aku ingin membuat kerajaanku yang baru karena wilayah sebelumnya telah dihancurkan."
"Maksudmu di wilayah manusia?"
"Tepatnya di sini, aku akan mengambil alih wilayah ini dan menjadikannya kerajaanku."
"Kau gila itu sama saja mengibarkan peperangan melawan manusia?"
"Ini adalah kesalahan mereka karena telah menyerangku padahal seperti yang kau tahu aku bukan tipe yang menyerang lebih dulu."
Aria mendesah pelan.
"Tepat sekali."
"Jika itu untuk Hazel, kurasa aku tidak keberatan."
Hazel memeluk Aria dari belakang seolah menunjukkan bahwa dia tidak terlalu membutuhkan tubuh seperti itu dan Earlene melanjutkan.
"Aku belum mengatakannya, aku bilang tubuh boneka tapi sejujurnya tubuh manusia yang akan kuberikan padamu."
Mendengar itu Hazel tampak terkejut.
"Dibandingkan tubuh itu, tubuh barumu bisa berbicara dan juga melakukan aktivitas lainnya walaupun mungkin tidak bisa tumbuh tapi aku tidak masalah menjadikanmu terlihat muda."
"Tidak, aku ingin tubuhnya mirip dengan dirinya sendiri."
__ADS_1
Aria mengulurkan sebuah foto dimana di sana menampilkan seorang wanita berumur 30an dengan rambut hijau serta gaun putih yang sedang memegang bunga dengan senyuman indah.
"Hazel adalah orang yang memiliki toko ini sebelumnya."
"Untuk berumur 30an, nyonya Anda sangat manis."
Beruang itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan malu-malu atas pujian tulus Agil.
"Aku tidak keberatan dengan hal itu."
"Untuk pekerja aku tidak akan menggunakan mayat yang kalinya lihat di sana, aku minta kau menguburkannya."
"Kalau begitu biar aku saja Ojou-sama."
"Baiklah kuserahkan padamu."
"Iya."
Earlene mengalihkan pandangan kembali ke arah Aria yang kembali menambahkan.
"Ada satu kota yang ingin kau hancurkan, merekalah yang lebih cocok aku buat menjadi bonekaku."
"Baiklah."
"Princess apa aku harus ikut juga?"
"Tidak usah, biar aku saja sendiri yang melakukannya.. Agil kau bantu Asmiranda saja."
"Owh, baiklah."
Ada alasan dari pernyataan Aria yang tersembunyi.
__ADS_1