
Di atas bangunan paling tinggi Aria duduk di pinggirnya selagi memainkan bonekanya, Earlene yang berdiri di belakangnya menatap jauh bagaimana matahari akan tenggelam seutuhnya.
"Warna yang bagus."
"Aku juga setuju, dengan kekuatanmu dari awal kau tidak perlu melakukan negosiasi denganku gunakan kemampuanmu itu untuk memaksaku dalam pertarungan."
"Aku tidak mencari rekan dengan kekuatan, aku menaruh kepercayaan bagi siapapun yang kuajak bergabung."
"Hoh, kata-kata yang sulit dipercaya keluar dari seorang raja iblis."
Earlene berjalan sedikit sebelum berdiri di dekat Aria yang pandangannya tak pernah lepas dari boneka di tangannya, dia berkata dengan nada kesedihan yang bercampur dengan perasaan empati.
"Sejak dulu aku membenci perang, perang merebut ibuku, ayahku, paman penjual kue yang baik hati padaku dan orang-orang yang selalu tersenyum dan bahagia akan kehidupannya."
"Sejujurnya aku juga sedikit membencinya, sebelum Prancis menyerang wilayahku. Aku selalu menjaga perdamaian tersebut, orang yang bilang perdamaian bisa diraih hanya dengan peperangan adalah sesuatu yang konyol, perang hanya merenggut apapun yang kita miliki entah lawan atau musuh, entah keluarga atau kenalan hanya ada kematian yang menyertainya, dan semua itu tidak pernah menciptakan seorang pemenang, kedua belah pihak hanya akan mendapatkan kerugian yang sama."
"Meski kau tahu itu kau memilih untuk perang."
__ADS_1
"Ini demi rakyatku, demi orang yang mempercayaiku dan demi mengambil kehormatanku sebagai raja iblis kesombongan."
"Apa kau pernah merasa walau perkataanmu terdengar dalam, itu tidak cocok dengan gadis 10 tahun."
Earlene tersenyum masam selagi membalas dengan ringan.
"Sepertinya begitu," dia sedikit berdeham " Jadi kota seperti apa yang harus kuhancurkan?"
"Konstantinopel."
"Kota itu kah."
"Mereka selalu berperang jadi itu adalah satu-satunya untuk menghentikannya."
"Tak kusangka kau mengincar hal itu, Yap.. aku akan mengeluarkan orang-orang yang tidak bersalah dari sana sebelum pembantaian dan mengumumkan diriku sebagai raja iblis kesombongan yang baru."
"Itu akan menjadi pertunjukan yang meriah, demi melindungi identitasmu aku berikan topeng ini."
__ADS_1
Earlene memiringkan kepalanya, itu bukan topeng yang dia lihat di manapun topeng itu memiliki motif wajah rubah putih dan saat dia mengenakannya pakaiannya berubah sedikit lebih panjang dan sembilan ekor putih menyeruak dari belakangnya.
"Ugh, aku jadi siluman rubah."
"Bukannya cocok, dengan rambutmu yang berwarna perak kau terlihat sempurna, kuharap kau cepat tumbuh juga sedikit lebih tinggi."
"Kau harus mengharapkan untuk dirimu juga."
"Aku jelas akan selalu terjebak di tubuh kecil."
Earlene menciptakan lingkaran sihir untuk memanggil seekor naga hitam yang menjadi tunggangannya, ia melepaskan topengnya sebelum naik dan terbang menembus kegelapan.
Tak lama seorang wanita berambut hijau muncul dari belakang Aria.
"Hazel, bagaimana dengan tubuh barumu?"
"Aku perlu membiasakan diri nona Aria, tapi rasanya sulit juga hanya untuk berdiri."
__ADS_1
"Begitukah, raja iblis kesombongan membuatkanmu tubuh dari humonculus jadi akan sedikit berbeda dari manusia pada umumnya."
"Tak apa, aku sangat berterima kasih... kalau saja putri dan suamiku masih hidup aku ingin sekali lagi bersama mereka."