
Rasa manis memenuhi mulut Earlene.
"Sekarang ke sana, ayo Ojou-sama."
"Baiklah."
"Sudah mau pergi lagi, permen kapasku belum selesai."
Agil buru-buru untuk mengejar keduanya. Mereka mencoba setiap kuliner yang mereka temukan di sini, untuk Asmiranda dia malah terlihat terbawa suasana hingga ia terus menjajalkan makanan ke mulut Earlene termasuk mendandaninya dengan segala pernak-pernik perhiasan dan gaun mewah.
"Aku benar-benar tidak cocok dengan hal seperti ini."
"Mana mungkin, Ojou-sama terlihat imut."
"Aku juga sepakat."
"Kalian benar-benar menikmatinya," kata lemas Earlene.
Setelah terpuaskan dengan segala hal di kota, saat matahari tenggelam mereka mulai mengendap-endap di antara kegelapan malam, seperti yang diduga semua orang akan langsung menghilang bahkan saat matahari masih sedikit tenggelam.
Agil bersandar pada dinding selagi memikirkannya.
"Bagaimana kalau kita coba pancing mereka dengan Asmiranda."
__ADS_1
"Yah.. aku tidak keberatan, serahkan padaku Ojou-sama."
"Aku mengandalkanmu," kata Earlene tersenyum kecil yang mana dijawab dengan anggukan mantap.
Earlene dan Agil mengawasi dari sudut bangunan saat Asmiranda berjalan seperti sosok yang rapuh. Ada beberapa pergerakan di atas kepalanya dan dalam sekejap Asmiranda robohkan dengan pukulan tangannya.
"Apa tak masalah ia membunuh mereka princess?"
"Lawan kita sesungguhnya adalah raja iblis ketamakkan, hanya ini cara dia keluar, sampai anak buahnya terbunuh semuanya, baru dia keluar."
"Dia benar-benar sangat pengecut."
Beberapa saat kemudian Agil menyadari bahwa Earlene tidak berada di sampingnya, melainkan dia sudah berada di depan Asmiranda dan juga memberikan pukulan pada orang yang sebelumnya telah melukai Agil hingga terlempar jauh sejajar dengan trotoar.
"Baik Ojou-sama."
Orang bernama Kevin berdiri selagi menyentuh wajahnya yang berdarah.
"Jadi begitu, kau raja iblis kesombongan yang baru itu."
"Begitulah, aku adalah raja iblis yang menggantikan raja iblis sebelumnya."
"Hoh, Galius memiliki penerus gadis kecil rupanya dan juga kau manusia.. sungguh konyol, sungguh beruntung bahwa pahlawan telah membunuhnya. Dia adalah aib bagi ras iblis."
__ADS_1
Earlene tampak kesal.
"Harusnya kalian yang mengikuti cara hidupnya bukan malah menentangnya."
"Haha konyol, jika aku bertemu dengannya aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri sayangnya Glutony malah memilih untuk membuat banyak skenario di sana."
"Dia dalangnya bukan."
Earlene menciptakan lingkaran sihir es dan dari sana tombak-tombak tajam meluncur pada Kevin. Kevin menutupi dirinya dengan jubah miliknya yang mana menghilangkan seluruh pengaruh serangan tersebut sebelum dia melesat maju.
"Darahmu pasti sangat enak, aku akan menghisapnya sampai kering."
"Kau berbicara seolah kau bisa melakukannya."
Earlene membuat pijakan miliknya licin hingga Kevin berhenti bergerak, sedangkan Earlene sendiri meluncur di atas es dengan pedang es di tangannya.
"Sebelumnya kau melukai anak buahku yang berharga jadi aku tidak akan menahan diri."
"Anak buah, maksudmu si undead itu, dia benar-benar lemah."
Earlene mengayunkan pedangnya dan dia menangkapnya dengan tangan kosong sementara tangan lain telah bergerak untuk menyerang.
Earlene segera melepaskan pedangnya kemudian berguling ke samping untuk menghindarinya, dia menyentuh lantai esnya dengan kedua tangan, dan dalam sekejap bongkahan es menyeruak ke atas dengan ujung lancip.
__ADS_1
Kevin melompat ke udara untuk menghindarinya namun bongkahan es terus mengejarnya yang mana memaksanya menumbuhkan sayap kemudian terbang ke langit. Dia meluak-liuk di udara untuk menghindari semua serangan.