Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak

Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak
Chapter 57 : Melawan Vanesa


__ADS_3

Di luar perkarangan Akademi, seluruh staf pengajar menggunakan sihir mereka untuk mendorong para ular yang terus menerus menerobos maju.


Elma selalu duduk di kursinya tapi sekarang dia telah berjalan menuruni tangga untuk mengambil alih semuanya. Dia berjalan dengan sepatu hak tingginya dan meminta seluruh staf untuk mundur.


"Kepala sekolah?"


"Biar aku saja yang mengatasinya, kalian mundur saja."


Selagi menyilangkan tangannya seluruh deretan lingkaran sihir muncul di depan wajahnya, mereka saling bersenambung satu sama lain dengan warna emas yang terlihat seperti sebuah percikan petir.


Petir itu mulai membesar kemudian menyambar para ular tersebut hingga hancur berkeping-keping. Dalam sekejap tak ada yang tersisa selain jalur dari kehancuran.


Menyadari bahwa ularnya telah dihancurkan, Vanesa menunjukkan wajah kebingungan. Earlene berusaha menebaknya.


"Ular-ularmu pasti sudah dikalahkan bukan?"


"Ugh."


"Di sana ada Elma... sudah sepantasnya hal itu terjadi."


"Terserahlah, dengan kekuatanku yang sekarang sudah lebih cukup."

__ADS_1


Vanesa kembali maju, ular di lehernya menyemburkan asap keunguan yang menelan keberadaan Earlene. Earlene berusaha untuk meloloskan diri namun tentu saja Vanesa tak akan membiarkannya begitu saja.


Dia mengayunkan pedang secara horizontal saat Earlene menutupi hidungnya dengan tangan kiri sedangkan tangan lain memblokir serangan miliknya.


"Sudah kuduga tubuhmu hanya manusia."


Itulah kelemahan Earlene tubuhnya tidak sanggup menahan racun, meski begitu dia tidak akan mendapatkan kematian selain rasa kelelahan saja karena menghirup racun.


Pedang Vanesa menyayat bagian ujung pipinya dan saat berputar ke arah sebaliknya Earlene telah menunduk untuk menghindarinya, dia balas dengan sebuah tusukan dan itu menembus kepala ular, hingga ular jatuh ke bawah.


"Beraninya kau."


Keduanya kembali membenturkan pedang masing-masing sebelum mundur menjaga jarak, Earlene melompat dengan gerakan pedang menebas dari atas ke bawah.


Sebuah tato ular muncul di wajahnya.


"Kutukanku telah aktif di tubuhmu, sekarang kau akan mati jika menolak perintahku. Namun meskipun kau menurut, keduanya hanya akan sama saja... sekarang bunuh dirimu sendiri."


Earlene memiringkan kepalanya dengan tatapan kosong.


"Apa kau gila, mana mungkin aku melakukan hal itu."

__ADS_1


"Mustahil? Bagaimana bisa?"


Tato ular di wajah Earlene mulai memudar dan menghilang seutuhnya. Ini adalah pertama kalinya bahkan bagi Vanesa sendiri.


"Kenapa bisa?"


"Ah, tubuhku kebal akan kutukan dan racun, yang barusan kutunjukan hanya akting saja."


"Kau? Matilah kau raja iblis kesombongan."


Perlahan wajah Vanesa berubah menjadi ular kemudian menerjang ke arah Earlene, hanya dengan gerakan pelan dan mulus pedang es di tangannya memanjang kemudian menusuknya tepat di jantungnya.


Vanesa menyemburkan darah dari mulutnya.


"Diantara dosa kematian, kesombongan adalah akar dosa dari dosa lainnya, itu karena dosa kesombongan adalah dosa yang lebih mengerikan dan kuat dibandingkan lainnya, kesalahan kalian karena bermain-main denganku, selamat tinggal, dengan ini adalah akhirmu."


Earlene hanya melihat bagaimana Vanesa roboh ke depan sebelum mengalihkan pandangan ke atas langit.


"Kalau tidak salah orang bernama Aura terkena kutukan ini, aku yakin dia pasti sudah sembuh."


Earlene membawa tubuh Vanesa di tangannya, kemudian muncul di kota hantu dan menjatuhkannya ke lantai. Dia kemudian mengarahkan tangannya dan dalam sekejap luka di tubuh Vanesa telah kembali disembuhkan, jantungnya juga telah berdetak kembali, bahkan ular miliknya telah sembuh sedia kala.

__ADS_1


"Sekarang apa yang harus kulakukan padanya?" tanyanya dengan nada lemas.


__ADS_2