
Bukan berarti Vanesa menyetujui keinginan Earlene untuk memindahkan ras iblis ke dunia sebelumnya, hanya saja.. dia hanya ingin tahu hasil apa yang akan diraih olehnya.
"Jika kita berasal dari dunia lain maka apa elf dan ras lainnya juga sama seperti kita?"
"Kurasa begitu. Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi di dunia sebelumnya tapi sepertinya nenek moyang kita dan elf pergi bersama ke dunia ini.. entah mereka menemukan jalan kemari, atau sesungguhnya melarikan diri dari dunia sebelumnya belum bisa aku selidiki."
Earlene memberikan buku yang telah terbakar pada Vanesa.
"Buku ini adalah catatan seseorang dari dunia paralel, sayang sekali Merlin malah membakarnya saat dia berusaha merebut pengetahuanku... tubuh manusia bisa kembali dibentuk dengan sihir namun buku ini tidak bisa."
"Omong kosong, bukannya kau bisa menggunakan sihir waktu?"
"Aku sudah mencobanya sayangnya gagal karena sihir waktu hanya berfungsi saat benda itu baru dihancurkan."
Vanesa membuka tiap lembarnya dan menemukan bahwa buku itu tidak ditulis dengan bahasa yang dikenalnya.
"Aku tidak bisa membacanya?"
"Itu wajar karena bukunya ditulis dengan bahasa kuno ras elf, aku meminta Aura untuk mengajariku tulisannya dan barulah aku memahami semuanya, memang benar ada bagian terpotong namun tidak sulit untuk memahaminya walaupun sedikit."
Vanesa memilih menutup bukunya kemudian mendorong kembali ke arahnya.
"Apapun itu, aku hanya ingin menunggu hasilnya... jadi apa yang harus kulakukan di sini?"
__ADS_1
"Mulai sekarang kau tahanan kami, meski begitu kau bisa bebas berpergian kemanapun yang kau mau kecuali keluar dari kota."
"Kalau begitu aku ingin melihat senyaman apa tempat ini."
Earlene hanya melihat bagaimana Vanesa baru melewati gerbang dan berjalan semakin menjauh dengan ular di lehernya, Aria muncul di sampingnya.
"Kau yakin akan membiarkannya begitu saja, padahal dia berusaha membunuhmu."
"Yang lalu biar saja berlalu, sekarang aku akan lebih fokus untuk menyelesaikan hal lainnya."
"Kau terlalu santai, boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Entahlah, namun jika mereka memilih untuk tinggal di sini aku akan menunggu kita kembali setelah mereka tiada."
"Jadi begitu, kau juga masih memiliki sifat manusia."
Earlene mengangkat kedua bahunya lemas sebelum akhirnya menghilang dan kembali muncul di asrama.
Agil dan Asmiranda masih dalam pelatihan dan itu sedikit membuat Earlene sedikit kesepian.
"Apa mereka berdua masih belum selesai?' gumamnya pelan.
__ADS_1
Keesokan paginya akademi berjalan sedia kala, walaupun kelas Earlene untuk sementara waktu telah dihentikan karena guru mereka masih belum kembali.
Menurut kabar raja dan ratu telah kembali ke istana dan pengkhianat Merlin telah dipublikasikan ke media koran, hanya menunggu waktu sampai semuanya berjalan sedia kala.
Earlene duduk di atas atap akademi selagi melihat Alpha, Delta dan Testa sedang membagikan selembaran tentang dukungan pemilihan ketua OSIS di akademi ini.
Misal jika ras iblis tidak ada di dunia ini? Apa keadaan ini akan sama.
Tentu saja pertanyaan Earlene tidak bisa dijawab begitu saja.
"Kau di sini rupanya? Apa kau benar-benar menyukai tempat tinggi."
"Kepala sekolah Elma, Anda sepertinya terlihat santai."
"Hanya kelihatannya saja, banyak bangunan yang dihancurkan dan aku turut menjadi orang yang berperan penting untuk mengembalikan keadaannya sedia kala."
"Jadi begitu, semangat... lakukan tugasmu dengan baik."
"Aneh, jika gadis kecil sepertimu menyemangatiku."
"Benarkah, beberapa orang selalu senang disoraki oleh gadis manis dan lucu sepertiku."
"Hal itu hanya berpengaruh untuk Lolicon."
__ADS_1