Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak

Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak
Chapter 71 : Pertemuan Kembali


__ADS_3

Earlene tidak berada lama di wilayah elf, setelah dia kembali Asmiranda melompat padanya.


"Ojou-sama."


"Apa kau baik-baik saja Asmiranda?"


"Aku hanya merindukan Ojou-sama."


"Padahal aku hanya keluar sebentar."


Aria tampak menggoda dengan tertawa kecil.


"Aku tidak bisa lagi melihat hubungan cinta Yuri kalian berdua, benar-benar menyilaukan."


Earlene dan Asmiranda hanya tersenyum masam.


Masalah dengan raja iblis telah selesai dan sekarang tinggal masalah dengan seluruh negara yang mencoba menyerang kota hantu.


Di pesisir laut, ratusan armada spanyol telah bergerak untuk menyerang pasukan Earlene yang dipimpin oleh Diablo, alih-alih menunggu mereka mendarat Diablo lebih memilih untuk menyelesaikan semuanya di tempat ini.


Pasukan Diablo telah memasang berbagai meriam dan ketika dia berseru 'tembak' mereka langsung meluncurkan bola-bola hitam ke udara.


Ketika bola itu menyentuh perahu, itu menghasilkan ledakan yang mana menenggelamkannya tanpa ampun. Armada Spanyol juga tak tinggal diam dan balik membalas.


Semua pertarungan itu dilihat dengan baik oleh Earlene yang duduk di dahan pohon selagi mendesah pelan.


"Ya ampun, sekarang malah banyak manusia yang mati.. aku pikir aku akan mengatakan pada mereka untuk menahan diri."


Earlene menghilang dan muncul di akademi, lebih tepatnya di perpustakaan yang sering dia kunjungi.


Ini sudah sore hari meski demikian ia memilih menghabiskan waktu di tempat seperti ini.

__ADS_1


Ia membawa beberapa buku di meja sebelum seseorang menutup matanya dari belakang.


"Tebak siapa aku?"


"Asmiranda."


"Kenapa Ojou-sama mengetahuinya dengan mudah padahal aku sudah menyamarkan suaraku."


"Kita selalu bersama sejak lama, hal itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan."


Dia mengembungkan pipinya sebelum duduk di samping.


"Agil tak bersama denganmu?"


"Ia bilang punya janji minum dengan orang-orang di bar."


"Begitu."


"Sebelum masalah dengan negara lain tambah parah, aku akan menghentikan peperangan ini secepatnya... mari lakukan genjatan senjata."


"Aku pikir mereka tidak mungkin menerimanya Ojou-sama, lagipula kitalah yang memulai peperangan... paling tidak kita harus mengalahkan mereka semua."


"Rasanya sangat merepotkan, salahku mengirim Theresia ke pertemuan itu dan juga kesalahanku yang mencoba menaklukkan mereka semua."


"Tak masalah Ojou-sama, lebih menarik seperti ini menurutku."


Earlene hanya menjatuhkan kepalanya di meja, dia tidak mungkin mencoba rencana seperti pura-pura kalah dan terbunuh seperti sebelumnya.


Itu akan memakan waktu, satu hal yang dia bisa lakukan adalah bernegosiasi dengan pahlawan yang pernah membunuhnya.


Hanya itu.

__ADS_1


Jeanne d'Arc yang baru selesai makan malam merasakan hal janggal saat dia melirik ke arah jendela.


Barusan dia melihat sesuatu namun setelah lebih ditelaah tidak ada siapapun yang berada di sana, ketika dia menjatuhkan pandangan ke bawah, ia menemukan sebuah pesan yang memintanya untuk pergi ke alun-alun ibukota.


Ketika dia sampai dia bisa melihat seorang gadis telah berdiri di dekat tiang dengan wajah tertutup topeng serta sembilan ekor di belakangnya.


Dia berjalan mendekat di mana jarak mereka hanya terpaut lima meter.


"Lama tak bertemu Jeanne."


"Raja iblis kesombongan yang baru."


"Aku pikir akan lebih baik jika kau menyebut diriku dengan namaku yang sekarang."


Gadis itu membuka topengnya dan Jeanne jelas terkejut dengannya.


"Earlene, kamu raja iblis kesombongan?"


"Lebih tepatnya aku Galius dan sekarang aku Earlene."


Jeanne memunculkan pedangnya dan tanpa ragu dia melompat di atasnya, Earlene hanya menahan tebasan pedang itu dengan satu jari dan hancur setelahnya.


Jeanne tampak terhuyung namun dia akhirnya tidak meragukan perkataannya.


"Jadi benar, kau adalah raja iblis waktu itu."


"Tak perlu khawatir, aku tidak berniat melakukan hal buruk seperti menghancurkan negaramu ataupun melukai orang di dekatmu, jika aku berniat itu bukannya aneh waktu itu aku malah membantu kalian."


Jeanne menenangkan dirinya, tak seperti sebelumnya wajahnya dalam mode kesatria.


"Apa yang kau inginkan?"

__ADS_1


Earlene tampak nostalgia dengan perasaan seperti ini.


__ADS_2