
Arthur dan Bellina bisa melihat bagaimana Chimera itu sedang berbaring diam dimana di sekitarnya banyak potongan tubuh yang tergeletak begitu saja.
Sebagian adalah rekan-rekannya dan sebagian lagi para penghuni hutan, Bellina menarik pedangnya dan hanya sedikit suara gesekan Chimera itu terbangun dalam posisi bersiaga.
Bellina berjalan paling depan dan Arthur mengikuti di belakang. Adapun yang bersembunyi hanyalah Silenos.
Tanpa menunggu ataupun membuat strategi Bellina melesat maju, Chimera menunjukan taringnya lalu mengirim kaki depan sebagai serangan, Bellina hanya berputar menghindarinya selagi memberikan tebasan membuat luka di sepanjang kakinya.
Arthur mengambil sisi berbeda dan melakukan hal sama, pertarungan antar mereka terus berlanjut beberapa saat, menyerang dan bertahan.
Yang satu mengalihkan perhatian dan satu lagi menyerang.
Ekor Chimera yang berbentuk ular memberikan perlawanan dengan melakukan cambukan.
Dia menahannya dengan baik namun, kaki depan Chimera membuatnya terlempar ke belakang, Arthur hendak melangkah maju sementara Chimera menyemburkan nafas api untuk membuatnya tak bergerak.
Melawan Chimera sama dengan melawan seekor naga, hal itu bisa dia rasakan dalam pertempuran ini.
Chimera meraung sementara Bellina bangkit dengan tubuh yang terselimuti api suci, warnanya jernih dan perasaan yang dihasilkan dari sana semacam kekuatan yang ditakuti oleh iblis.
__ADS_1
Chimera menerjang padanya saat api itu mulai terhisap ke dalam pedangnya kemudian menebaskannya membelah dua bagian Chimera tanpa kesulitan.
Arthur menerobos api yang menutupi dirinya sejak lama lalu bergegas untuk memeriksa keadaan Bellina, akhirnya dia tahu bahwa Chimera telah dihabisi olehnya. Dia pikir jika Bellina menggunakan sihir dalam pertarungan duelnya dia mungkin adalah orang yang kalah.
Keduanya menyarungkan kembali pedangnya sementara Silenos mendekat untuk berterima kasih.
"Tak masalah, kami harus segera pergi lagi," balas Bellina.
"Bagaimana kalau aku menunjukan rute yang tercepat untuk sampai ke Olimpus. Rute ini lebih cepat dan tentu lebih aman."
Bellina dan Arthur saling menatap kemudian mengangguk sepakat, tidak ada salahnya untuk mempercayai orang di depannya.
"Bukannya jika lewat sini adalah jalan buntu?" tanya Arthur yang dijawab ringan oleh Silenos yang telah menyentuh batu selagi bergumamkan sebuah mantra. Tangannya kemudian masuk ke dalam batu.
"Itu?"
"Batu ini adalah batu perpindahan, jika kau masuk lewat sini maka kau akan keluar di batu yang sama yang berada di Olimpus, kalian akan lebih cepat sampai di sana."
Silenos mengarahkan dua tangannya untuk mempersilahkan mereka pergi. Arthur dan Bellina sesaat kembali menatap satu sama lain dengan ragu dan akhirnya memutuskan untuk masuk.
__ADS_1
"Kau tidak ikut dengan kami?"
"Aku perlu menguburkan teman-temanku, mereka bertarung demi melindungiku. Inilah yang bisa kulakukan untuk mereka."
Arthur, Bellina yang memasuki batu tersebut telah muncul di sebuah bukit yang tidak terlalu terjal bahkan bisa dilalui oleh kuda mereka, dan di depan mereka sedikit jauh adalah sebuah bangunan serba putih yang tampak menjulang cukup tinggi.
"Jadi itu Olimpus."
"Kita akan membuat perkemahan di sekitarnya, saat dimulai kita baru akan masuk bersama negara lainnya."
Bellina mengangguk sebagai jawaban.
Sementara di tempat lain Earlene yang menggunakan sebuah penyamaran telah membunuh banyak orang yang bertugas sebagai penjaga rumah bangsawan, dia bahkan tidak repot-repot bertarung dengan tangannya. Dia menciptakan jarum-jarum es dan membunuh mereka dengan sekali tembakan sebelum masuk ke dalam mansion dan membunuh pemiliknya yang hanya bisa duduk di ruangannya tanpa daya.
Dia adalah orang yang memberikan izin pelelangan di kota ini dengan menerima uang suap cukup besar.
Di meja itu Earlene menemukan pemberitahuan tentang konferensi meja bundar yang dilakukan antar negara di Olimpus.
Earlene tanpa sadar tersenyum kecil dari balik topengnya.
__ADS_1
"Ini akan menarik."