
"Bagaimana bisa kau berubah menjadi seperti itu?" tanya Kevin.
"Aku menggunakan sihir waktu pada diriku sendiri, karena perlu waktu untuk menggunakannya serta mana yang banyak, aku selalu menahan diri dalam sebuah pertempuran."
"Sepertinya bukan hanya aku yang memiliki kartu As di tanganku, ini akan jauh menarik."
Puluhan lingkaran sihir tercipta di langit yang mana masing-masing dari mereka menjatuhkan kilatan petir ke permukaan tanah bahkan meledakan rumah-rumah di sekelilingnya.
"Bisakah kau hentikan hal yang bodoh seperti ini, sihir tidak berguna jika digunakan dua kali saat melawanku."
"Apa yang kau katakan, apa kewarasanmu telah lenyap?"
"Tidak juga."
Earlene menjentikkan jarinya dan hanya dengan itu seluruh lingkaran sihir Kevin hancur berserakan.
"Mustahil? Tidak masuk akal."
"Aku hanya menganalisa lingkaran sihirmu kemudian menghancurkannya dengan lingkaran sihir yang sama."
"Sialan."
Sihir tak bisa digunakan karena itulah Kevin memutuskan untuk menyerang secara langsung, dia kembali bergerak dengan kecepatan tinggi, tidak seperti sebelumnya Earlene melompat dengan ringan untuk melewatinya.
Ia terlihat seperti seorang yang bermain-main dengan tarian.
"Uh.. hampir saja."
"Walau kau bisa melihatnya seharusnya tubuhmu tidak terbiasa menghindarinya!"
__ADS_1
"Kau terlalu menganggap dirimu tinggi."
Earlene menahan pukulan Kevin dengan satu tangan menciptakan ledakan luar biasa dari pijakannya, meski begitu, Earlene tidak pernah bergeser dari tempatnya berdiri.
Di sisi lain tubuh Kevin perlahan mulai membeku.
"Maaf saja tapi kau tidak pernah bisa melampauiku."
Sekilas Kevin mengingatkan perkataan yang sama di masa lalu.
"Raja iblis kesombongan Galius."
Mengatakan itu, tubuhnya hancur berserakan menjadi serpihan es bersama kristal miliknya yang jatuh ke tanah. Earlene memungutnya sebelum melambaikan tangan ke arah Agil dan Asmiranda.
"Sudah selesai, mari kembali."
Asmiranda melompat padanya.
"Aku tetap sama dan sebaiknya berhentilah memelukku sebelum kita sampai di asrama."
"Baik."
Dengan penampilannya yang berbeda itu juga telah mempengaruhi pandangan semua siswa akademi lainnya, Arthur dan Bellina yang telah kembali ke akademi juga turut mengerumuni sosok Earlene yang baru.
"Kau? Kenapa kau bisa berubah dewasa?"
"Apa maksudmu? Aku memang sudah dewasa."
"Tidak, sebelumnya kau setinggi kecoa."
__ADS_1
Bellina mengatakannya selagi menunjukan perbedaan tingginya dengan lantai.
"Aku tidak ingat setinggi itu, singkatnya ini berkat sihir."
Dengan pernyataan itu, semua orang langsung berhenti menanyainya. Padahal masalah Prancis yang terjadi beberapa hari sebelumnya lebih cocok dijadikan berita panas dibanding menanyai Earlene yang secara ajaib telah berusia 15 tahun.
Saat Rosa masuk ke dalam kelas pelajaran dilanjut seperti biasanya, tak hanya pengetahuan umum mereka juga dilatih dengan gaya pertarungan pedang.
Bagi Earlene dia sudah tidak memiliki minat dengan hal tersebut maka ia akan pergi ke atap sekolah untuk membolos bersama Agil dan Asmiranda yang sedang bermain kartu tanpa taruhan.
Agil tampak frustasi karena dia terus mendalami kekalahan beruntun.
Mereka bertiga memang terlalu bersikap santai.
Alpha, Delta dan juga Testa muncul setelah jam sekolah selesai.
"Nona Earlene, kami datang untuk melaporkan bahwa sebentar lagi pencalonan anggota OSIS berikutnya akan dilakukan, kami sudah mendaftarkan diri dan sudah membentuk panitia sebagai dukungan besar untuk kami."
"Itu bagus."
Singkatnya Alpha akan mencalonkan diri sebagai ketuanya dan Delta sebagai wakilnya, untuk Testa hampir mustahil dia melakukannya.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Earlene.
"Belum nona."
"Kalau begitu mari pergi cari makanan dan aku akan mentraktir kalian sesuatu."
"Terima kasih banyak."
__ADS_1
Earlene memiliki banyak uang dari penjualan material monster yang dia buru jadi dia bisa membeli apapun yang dia sukai.