
Ketika jam pelajaran telah usai para siswa akan kembali ke akademi, kemudian ke ruang makan yang telah disediakan selanjutnya kembali ke asrama untuk tidur, saat ini Earlene tidak melakukannya namun secara diam-diam menyelinap untuk pergi ke ruang bawah tanah.
Ruang bawah itu telah ditutup sejak lama dan hampir tidak ada siapapun yang mau membukanya, bahkan pihak akademi tidak mau repot-repot menempatkan penjaganya.
Earlene membuka gerbang yang menghubungkan ruangan bawah tanah dan akademi kemudian berjalan menuruni tangga dengan lentera di tangannya yang di dalamnya terdapat batu cahaya.
Semakin dalam maka semakin gelap yang dapat dirasakan, ketika tangga berakhir adalah ruangan luas yang menantinya.
Dia mengarahkan lentera ke sekelilingnya dan menemukan bahwa tidak ada apapun di sini, semuanya mirip sebuah altar. Earlene berfikir ini pasti semacam aula yang berfungsi untuk mengumpulkan banyak siswa. Di masa lalu tempat ini dijadikan ruangan ujian untuk memberikan pengalaman realita bagi para siswa namun semenjak sebuah insiden terjadi tempat ini telah dikosongkan. Insiden sendiri akibat seekor monster kelabang bernama Doselas keluar dari sini membantai siswa kemudian menghancurkan kota, Doselas berhasil dimasukan kembali yang menyatakan bahwa dia masih hidup di dalamnya.
Earlene menengadah dan melihat sebuah gerbang raksasa yang telah diikat rantai hingga seberapa kau memaksa masuk itu tidak akan bisa dilakukan.
Jika dia merusaknya mungkin akan ada seseorang yang mengetahuinya karena itulah, dia menggunakan kemampuan yang tidak pernah dimiliki banyak orang, yaitu menembus dinding.
__ADS_1
Dia hanya berjalan dan selanjutnya muncul di sisi lain gerbang. Tak perlu lentera karena di dalam dungeon ini banyak dihiasi batu bercahaya, Earlene menggantungkan lentera miliknya di dindingnya kemudian berjalan dengan santai.
Makhluk-makhluk seperti kelelawar raksasa, kecoak, katak, monyet, ular, dan juga kadal berusaha menyergapnya namun untuknya mereka hanya seperti sebuah mainan.
Tanpa membunuhnya dia hanya membuat mereka tak bisa bergerak.
"Sepertinya tempat ini cukup menjanjikan, pantas saja manusia juga menggunakannya di masa lalu," katanya menilai.
Tempat ini menyimpan banyak monster yang setiap lantainya akan semakin kuat, jika Earlene ingin membuat pasukannya menjadi kuat maka tempat ini sangat cocok untuk digunakan sebagai pelatihan.
Seluruh lantai telah berhasil dia terobos, walau hanya 50 lantai tempatnya sendiri luas dan sangat dalam, pada akhirnya dia sampai ke ujung dungeon dan melihat bahwa seekor kelabang raksasa telah menatapnya dari tumpukan tulang berulang. Ia memiliki tubuh raksasa dan di atas kepalanya ada tubuh manusia atau lebih tepatnya tubuh pria.
"Jadi kau Doselas, seperti rumor kau benar-benar kelabang mengerikan."
__ADS_1
Kelabang tersebut menyergap Earlene tanpa mengatakan apapun, sehingga dia melompat menghindar selagi mengirimkan bongkahan es padanya, itu sama sekali tidak mempan hingga tubuh Earlene tertabrak dari depan lalu menukik ke arah tumpukan tulang hingga berserakan.
"Sayang sekali, kau makhluk yang sebentar lagi bisa berevolusi namun sepertinya kau tidak bisa mempertahankan kesadaranmu hingga hanya menjadi binatang buas yang lapar."
Earlene berguling ke samping saat kepala kelabang memberikan serangan lanjutan, dia bangkit lalu berlari ke sisi berbeda.
Earlene mengarahkan tangannya untuk memanggil lima golem raksasa yang masing-masing membawa pedang besar.
"Majulah."
Kelima Golem itu menyerangnya secara serempak namun sayangnya itu dihancurkan dengan mudah.
Earlene berfikir untuk membiarkan kelabang ini menjadi bos terakhir di tempat ini namun sepertinya jika dia lakukan dia merasa bahwa makhluk ini akan menjadi ancaman.
__ADS_1
Earlene menciptakan pedang es di tangannya.
Kelabang itu menerjang padanya, dengan sekali tebasan tubuhnya terbelah dua bagian dari ujung ke ujung lainnya.