
Mendengar nama raja iblis nafsu disebutkan Bellina sedikit mengerutkan keningnya, ada kemungkinan pemberontakan ini juga didalangi olehnya termasuk dengan Merlin.
Dia memiliki satu ide tapi sebelum itu dia harus menkonfirmasi hal yang seharusnya dia tanyakan sejak awal.
"Apakah beberapa hari sebelumnya, ada yang masuk ke dalam Neverland?"
"Ada, kurasa itu beberapa pasukan kesatria dengan raja dan ratu, dan salah satunya orang yang mengalahkanku."
Itu pasti gurunya.
"Jeanne?"
"Benar, namanya itu... mereka bilang hanya ingin tinggal sementara jadi aku mengizinkannya."
"Dengan kata lain jika kami ingin masuk, kami harus mengalahkan dirimu juga."
"Benar sekali."
"Kemungkinan besar kami juga akan bertarung dengan raja iblis nafsu bisakah kami masuk dengan tenang dan berjanji bahwa kami akan mengalahkannya."
"Itu terdengar bagus tapi aku tetap tidak akan melakukannya."
Arthur maupun Rosa bersiap untuk bertarung saat Aura berdiri dari tempat duduknya setelah menarik pedangnya.
__ADS_1
Barusan hanya percobaan, jika dengan cara ini mereka tidak bisa masuk, maka tidak ada jalan lagi untuk melakukan pertarungan.
Bellina melompat untuk mengirim tebasannya yang mana ditahan oleh Aura sebelum dia menendangnya menjauh, selanjutnya Arthur lalu disusul oleh Rosa.
Gerakan yang ditunjukkan oleh Aura begitu ringan, bahkan ketika dia menyentuh tanah kakinya seperti tidak mengenainya dan melompat seperti udara, dia menahan tebasan Arthur di depan kemudian menghempaskan Rosa hanya dengan sihir angin, Bellina diam-diam menyerangnya hingga entah Arthur dengan dirinya diterbangkan menjauh.
Ketiganya dikalahkan dengan mudah bahkan sebelum mereka bisa menyentuh rambut Aura.
"Kalian memang menjanjikan tapi dengan hanya kekuatan barusan melawan raja iblis nafsu, benar-benar tidak mungkin dilakukan."
"Barusan hanya pemanasan," ucap Bellina dengan senyuman kecil.
"Itu benar."
"Mari hajar dia."
Aura menangkis tebasan Bellina di udara kemudian menggunakan sisi pedang tumpul untuk membuatnya tersungkur jatuh, selanjutnya dia beralih pada Arthur dengan sebuah hempasan sihir angin sebelum lanjut pada Rosa.
Rosa menunduk saat tebasan dilancarkan padanya berulang kali, dia mempersempit jarak dengan menggunakan kedua kakinya. Saat Aura hendak menjatuhkan dirinya, dia mencengkeram tangannya.
"Tanpa pedang kau tidak akan terlalu kuat."
Rosa berhasil memindahkan pedang ke tangannya meskipun dia di tendang menjauh setelahnya, Arthur dan Bellina kembali maju namun masing-masing pedang mereka ditahan oleh sebuah ranting yang sangat rapuh.
__ADS_1
"Cukup bagus."
Mereka dihempaskan dengan sebuah tornado dari putaran tebasan ranting hingga sejajar dengan tanah, Rosa bersembunyi di pohon begitu juga yang lainnya.
"Cara terbaik mengalahkan musuh yang lebih kuat dari kalian adalah menggunakan apapun keuntungan yang bisa didapatkan dari area bertarung kalian, kalian benar-benar telah belajar," ucap Aura santai.
Arthur berbisik pada Bellina.
"Dia adalah pemilik sekolah kita, tentu ini bukan hal mudah.. kau punya rencana yang lain Bellina."
"Tak perlu menanyakan lagi... jelas aku tidak punya, serang saja semaumu."
"Paling tidak pura-puralah menjadi pemimpin terbaik."
Pohon mereka diterjang angin besar hingga keduanya memutuskan untuk keluar dan berlari secara bersamaan pada Aura. Dia sudah kehilangan pedangnya kendati demikian dua ranting di tangannya masih bisa digunakan sebagai senjata.
Dia melumpuhkan Arthur dengan menyerang titik sendinya.
"Ugh."
"Usaha bagus anak muda, dan gadis kecil."
"Aku bukan gadis kecil, jika guruku bisa mengalahkanmu maka aku juga harus bisa."
__ADS_1
"Kau murid Saint kah."
Keduanya saling membenturkan kembali senjata mereka.