
Setelah pertemuan singkat itu, Earlene berpapasan dengan Bellina dan Arthur di koridor.
"Kau sepertinya dapat masalah dari para gadis?" ejek Bellina.
"Mau bagaimana lagi mereka mencintaiku, aku memang tidak menyukai pria tapi aku tidak bisa menerima pengakuan mereka, atau sejujurnya aku lebih tertarik denganmu."
"Apa yang kau?"
Earlene menyelinap ke bawah rok Bellina kemudian menjatuhkannya di lantai.
"Tunggu dimana kau menyentuh, jangan di sana, aah aah..."
"Eh kau masih perawan."
"Arthur bantu aku."
"Ini bukan pemandangan yang buruk."
"Dasar Brengsek!"
Bellina mencengkeram kepala Earlene dengan mudahnya kemudian menghantamkannya ke dinding hingga sebuah lubang raksasa tercipta di sana. Kabut debu menyembur ke udara dan hal itu tidak luput dari banyak siswa yang melihatnya.
Bellina yang kesal berjalan dengan langkah lebar dan terus mengutuk keberadaan Earlene.
Hanya Arthur yang masih berdiri di sana sambil menarik kepala Earlene dari lubang, bahkan untuk raja iblis serangan barusan benar-benar mematikan.
"Jika manusia normal kau sudah mati."
"Kurasa begitu."
__ADS_1
Earlene menepuk-nepuk pakaiannya dan melirik ke arah Bellina.
"Sikapnya benar-benar tidak mencerminkan seorang Saint."
"Aku lebih suka dia yang seperti itu, mungkin karena dia memikul beban kerajaannya jadi dia harus bersikap layaknya seorang putri."
Earlene mengacak-acak rambutnya.
"Jadi bangsawan memang merepotkan, mereka terlalu banyak memiliki ego."
"Apa kau benar-benar ingin menaklukkan dunia ini, aku melihat bawahanmu muncul di konferensi meja bundar di Olimpus."
"Aah, itu hanya jalan-jalan satunya yang bisa kulakukan meski aku menaklukkan dunia bukan berarti aku akan semaunya melakukan hal-hal aneh seperti keinginan raja iblis lainnya."
Tanda tanya muncul di kepala Arthur, namun dia tahu jika pun dia menanyakan lebih jauh belum tentu Earlene menjawabnya.
Dia sedang mengarahkan tangannya ke lubang yang sebelumnya dihancurkan Bellina, dengan rapalan sederhana lubang itu tertutup dan setiap puing-puing kembali ke posisinya sedia kala.
"Kalau begitu sampai nanti," kata Earlene melewati Arthur kemudian berbalik.
"Arthur."
"Apa?"
Sebuah botol ramuan berwarna biru dilemparkan padanya dan dengan sigap Arthur menangkapnya dengan baik.
"Kau tidak mengatakan apapun soalku pada semua orang, anggap saja itu hadiah dariku."
"Aku tidak membutuhkannya."
__ADS_1
"Tapi ibumu memerlukannya, jika meminum ramuan itu bahkan wajahnya akan kembali sedia kala."
Earlene melanjutkan langkahnya selagi melambaikan tangannya, tubuhnya hanya gadis kecil berusia 10 tahun tapi saat ini Arthur melihat tubuh pria dewasa yang mengenakan mantel kebesaran yang sedang memunggunginya.
Arthur meninggalkan jam pelajaran dengan tergesa-gesa, jika ada sesuatu yang bisa membantu ibunya hal seperti apapun tidak pernah dia pedulikan, ibunya sering diejek karena menutup wajahnya dengan perban.. ia pernah bertanya padanya namun dia hanya berkata seperti biasanya.
"Tak masalah bukan, mereka juga mungkin takut dan merasa kurang nyaman."
Bagi Arthur itu bukan sesuatu yang sepele, ia ingin mengembalikan wajah ibunya sedia kala meski demikian dia tidak pernah tahu bagaimana caranya.
Dan sekarang....
Ia berlari menerobos orang-orang yang berada di arah berlawanan darinya, masuk ke dalam gang-gang sempit sebelum akhirnya dia tiba di rumah sederhana yang berada dia daerah sedikit kumuh.
Dia membuka pintu dan ibunya yang sedang memasak tampak terkejut.
"Arthur, bukannya ini masih jam sekolah?"
Arthur hanya berdiri dengan terengah-engah selagi menyodorkan botol pada ibunya.
"Tolong minum ini."
"Ini apa?"
"Tolong minum saja."
Sementara Arthur mengatur nafasnya, ibunya dengan ragu meminumnya. Sebuah cahaya bersinar menyelimutinya selanjutnya ibunya tiba-tiba ingin melepaskan perban di wajahnya. Ia meraba-raba sesaat sebelum bercermin dengan tergesa-gesa.
Ia menutup mulutnya saat air mata menetes dari wajahnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Aku sembuh."
Bagi Earlene itu hal biasa bahkan dia sedang menguap di ruang kelasnya karena mengantuk, akan tetapi bagi keduanya merupakan sebuah keajaiban.