
Di hutan rimbun sebelah Utara dari kota hantu, sebuah teriak terdengar satu persatu dari mulut orang-orang yang dihabisi, tubuh mereka dibelah dua, dan begitu saja tergeletak.
"Dasar iblis, jangan mendekat," suaranya bergetar.
Satu orang yang masih hidup mengacungkan senjatanya namun sebelum dia berhasil menembak seluruh tubuhnya terpotong-potong oleh sebuah cambuk tajam, menyisakan seonggok daging yang menggenang bersama darahnya sendiri.
Yang melakukan kekejian itu adalah seorang wanita yang memiliki peran penting di kota hantu, penampilannya begitu sempurna dengan gaun ketat yang menunjukan lekukan sempurna. Sama seperti iblis, ada empat tanduk di kepalanya yang menghiasi rambut biru panjangnya.
Dia menjilat bibirnya yang semerah delima.
"Kau seperti biasa tidak ada ampun Nona Theresia."
"Diablo kah, kau kemana saja?"
"Aku mengawasi tempat lain," dia berdiri selagi menunjukan sebuah kepala yang telah dipenggalnya.
"Orang itu?"
"Kurasa dia pemimpinnya, aku rasa jika aku menunjukan ini, bisa sedikit mengurangi moral pasukannya."
"Begitu."
"Apa menurutmu Nona Earlene terlalu santai... beliau bahkan membiarkan mereka lebih dulu bergerak."
"Aku sudah tahu bagaimana dia bertindak, ia selalu bersikap santai dan tak peduli, namun jika dibutuhkan dia bisa bergerak dengan cepat bahkan sebelum musuhnya menyadarinya."
__ADS_1
"Apa ini era dimana raja iblis hanya akan ada satu saja."
"Siapa tahu... kalau begitu aku pergi untuk membereskan yang ada di depan."
"Ah iya, kalau begitu aku akan pergi ke arah sana."
Mereka bergerak ke tempat berbeda. Theresia berjalan santai saat beberapa orang yang bersembunyi menembakan peluru mereka padanya, itu menembus jantungnya, hatinya kemudian kepalanya hingga dia terlempar jatuh.
"Kita berhasil membunuhnya, rasakan itu iblis sialan," teriak salah satu penembak disusul penembak lainnya.
"Jangan remehkan manusia."
Sebelum mereka tahu, seluruh rekan mereka telah terbantai.
"Ba-bagaimana bisa?"
Cambuk melilit leher salah satunya, menariknya ke atas dan mati, hal yang sama juga berlaku untuk rekannya yang masih hidup.
"Kalian semua benar-benar menyedihkan."
Peluru yang menembus Theresia mulai tertarik ke luar dan berjatuhan di tanah begitu saja. Dia melanjutkan langkahnya hingga sampai ke sebuah camp yang dijadikan markas sementara tentara Jerman.
Sejauh ini baru mereka saja yang telah bergerak, sisanya jelas masih ragu untuk menyerang saat Jeanne tidak berada bersama mereka.
Theresia memecutkan cambuknya dan itu membelah tanah yang mana menelan tentara ke dalamnya, mereka menembakinya dengan senjata api sayangnya tidak ada yang benar-benar membunuhnya.
__ADS_1
"M-mustahil?"
Hanya keputusasaan yang mereka dapatkan dari semua usaha yang mereka telah lakukan.
Mereka menjatuhkan senjata mereka dan berharap akan sebuah pengampunan, tentu saja itu tidak akan mungkin terjadi? Iblis tidak memiliki rasa simpati terhadap manusia, mereka dengan mudah membunuh siapapun seperti yang Theresia lakukan sekarang.
Dia berjalan di genangan darah dengan senyuman mengerikan.
"Jangan bunuh aku, aku mohon."
"Kalau begitu suruh semua orang menyerah dan minta atasanmu untuk memberikan seluruh kekuasaan negaramu pada raja iblis kesombongan yang baru, jika kalian melakukannya maka kami tidak akan menyakiti kalian."
"Aku mengerti."
Dari ratusan orang hanya satu orang yang dibiarkan hidup, ini adalah era dari keterpurukan umat manusia.
***
Jeanne menuangkan teh untuk semua orang, gerakannya yang anggun adalah ciri khas yang dia tunjukkan untuk semua orang.
"Silahkan."
"Terima kasih."
Bellina yang sempat ragu sesaat membuka mulutnya untuk bertanya pada Jeanne.
__ADS_1
"Guru, aku ingin menanyakan satu hal... apa guru benar-benar mengalahkan raja iblis kesombongan saat itu?"
Jeanne tak langsung menjawabnya melainkan menutup matanya untuk mengingat kejadian itu, kejadian saat dia dinyatakan sebagai seorang Saint Agung.