Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak

Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak
Chapter 34 : Konferensi Meja Bundar


__ADS_3

Hari yang telah ditunggu akhirnya telah datang, di lorong yang cukup jauh Arthur mengikuti Bellina Arna yang berjalan di depan. Sebentar lagi konferensi meja bundar yang membahas raja iblis akan dimulai dan keduanya terus bersiaga.


Sesampainya di ujung koridor ada sebuah pintu besar yang ketika itu dibuka, banyak orang yang telah menunggu kedatangan keduanya, mereka adalah perwakilan dari negara berbeda meliputi. Spanyol, Swiss, Italia dan Jerman.


Mereka adalah negara yang telah menerima dampak paling berat saat konstantinopel dihancurkan.


Dari Jerman adalah pria berkumis dengan seragam militer bernama Rogen.


Dari Italia seorang pria berambut pirang berpakaian formal hitam putih, Gustav.


Dari Swiss wanita berambut pirang panjang spiral dengan gaun putih dan sebuah kipas di tangannya, Pauline.


Dan yang terakhir dari Spanyol pria dengan rambut panjang coklat dikepang satu menggantung di dada, Orlando.


Tiga pria dan satu wanita ditambah gadis muda bernama Bellina maka semuanya hampir lengkap.


Masing-masing dari mereka membawa dua pengawal kecuali Bellina.


Dia duduk setelah Arthur menarik kursi untuknya.


"Bukannya kalian terlalu cepat datang kemari?"


"Kami tidak sabar untuk membahas hal ini, sayang sekali bahwa Saint Agung dari Prancis tidak hadir dan digantikan gadis yang masih hijau."

__ADS_1


"Jangan khawatir aku bukan hanya gadis polos yang tidak tahu apapun," mendapatkan jawaban keras dari Bellina, pria dari Jerman itu mengerenyitkan alisnya.


Perwakilan dari Swiss tertawa kecil.


"Fufu sepertinya orang-orang Jerman terlalu meremehkan seorang gadis, mereka itu sangat indah dan berkilau. Kalau bisa aku juga ingin bisa kembali ke usia remaja."


Perwakilan dari Italia menimpali.


"Jika Nyonya Pauline kembali muda aku yakin Anda akan jauh lebih mengerikan dari sekarang, bukannya di usia muda Anda sudah membantai ribuan orang karena pemberontakan."


"Haha itu benar, kurasa tidak ada yang menginginkannya."


Perwakilan dari Spanyol turut menyela.


"Aku menerima pujian itu."


Bellina pikir tempat ini akan terasa canggung akan tetapi sepertinya itu jauh dari yang diperkirakan. Satu orang yang belum datang adalah perwakilan Britania Raya. Jika Arthur menebaknya pasti orang itulah yang akan muncul.


Seorang gadis berambut ungu panjang dengan tatapan yang bisa melihat segalanya, seorang yang bisa membaca pikiran dan juga seorang musuh yang tidak bisa diprediksi.


Tepat saat dia memikirkannya seorang yang dimaksud telah muncul bersama dua wanita sebagai pengawalnya.


Dia seorang gadis cantik namun di luar itu dia juga begitu mengerikan, ia seperti seorang putri tidur yang bisa terbangun kapanpun.

__ADS_1


"Charlotte," panggil Arthur dan gadis yang dimaksud tersenyum lembut.


"Ara, aku bertemu dengan adikku yang menyebalkan, lihat apa kau sekarang memihak pada Prancis... padahal ayah kita sudah mencoba untuk menaklukkan mereka."


Dia adalah putri tunggal ratu dan kandidat paling dekat menjadi penerus tahta Britania Raya.


"Kata-katamu seperti biasanya tajam."


"Benarkah, aku merasa biasa saja."


Dia duduk dengan elegan selagi mengalihkan pandangan ke arah Bellina dengan tatapan menilai.


"Syukurlah bukan aku seorang gadis di tempat ini, aku tidak terlalu suka dikelilingi orang tua yang menjijikan."


"Apa kau bilang?" teriak perwakilan Jerman yang segera dihentikan oleh perwakilan Swiss.


"Tenanglah tuan Rogen, dan juga nona muda Charlotte tolong jaga sedikit perkataanmu, kita sekarang melawan musuh yang sama kita tidak ingin pertemuan ini berakhir hingga terjadi perang dunia ke 3 bukan."


Pengawalnya turut membantu.


"Benar nona, yang mulia mungkin akan marah jika seluruh negara memilih menyerangnya."


"Aku menyesal, silahkan lanjutkan."

__ADS_1


Arthur sudah tahu bagaimana gadis itu bereaksi, dia tidak pernah meminta maaf atau berterima kasih untuk hal-hal sekecil ini.


__ADS_2