
Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa kelompok Earlene dengan mudah mengalahkan setiap musuh, raja iblis dibuat takluk dengan mudah dan mereka dipaksa untuk mendatangi surat perjanjian.
"Benar-benar konyol, kau bilang kau tidak berniat membunuh kami tapi aku sama sekali tak melihat sosok Kevin di mana-mana," ucap Glutony mengejek, sementara Earlene hanya mengangkat bahunya lemas.
"Dia ada di sana."
Earlene menunjuk ke arah pojokan dan di sana memang ada orang yang dimaksud, ia menggunakan kamuflase jadi dia tak terlihat untuk sesaat.
"Jadi kau juga kalah," ucap Glutony kesal.
"Aku tak ingin mengatakannya, yang jelas aku dibangkitkan kembali."
"Aah."
Setelah mereka mendatangi perjanjian, Asmiranda mengumpulkannya kemudian memberikannya pada Earlene.
Dengan kristal dan juga pernjanjian ini, dia sudah meraih keinginannya. Raja iblis kecemburuan hanya menghela nafas panjang.
Dia adalah orang pertama yang dikunjungi Earlene karena itulah situasi yang terjadi sekarang sudah diprediksi olehnya sejak lama, dia adalah raja iblis yang menampung penduduk dari raja iblis kesombongan termasuk sosok Theresia.
Saat Theresia dipanggil, dia tahu bahwa raja iblis kesombongan telah kembali. Rencana mengalahkannya dengan membuat pahlawan Prancis menyerangnya sudah dia perkirakan hanya akan berakhir sia-sia, meski begitu dia tidak berniat menghentikan raja iblis lainnya dan hanya menjadi penonton saja.
Setelah menyelesaikan semuanya sebuah pesta besar-besaran telah dibuat di kota Hantu. Asmiranda minum banyak bir dan mabuk karenanya.
__ADS_1
Sementara Agil hanya mendesah pelan selagi menggelengkan kepalanya.
"Pertarungan macam apa itu, aku tidak pernah berfikir raja iblis bisa dikalahkan dengan mudah."
"Karena raja iblis kecemburuan dan Nafsu ikut membantu, semuanya jadi beres."
Agil masih menunjukan ketidaksenangannya.
Berbeda dengan saat dia menaklukkan dungeon di bawah akademi ia sama sekali tidak merasakan puas.
Itu bukan karena mereka lemah, alasannya karena dia yang terlalu kuat, ketika dia memikirkannya Agil merasakan satu hal.
"Princess, jangan bilang karena Anda kuat, Anda jarang menikmati pertempuran."
"Itu benar, karena itulah aku selalu mencari hobi yang berbeda selain hanya bertarung."
Agil pikir wajar saja jika tuannya sampai pergi ke dunia manusia hanya untuk membaca buku dan menemukan sesuatu yang baru, itu karena dia bosan.
"Sepertinya Asmiranda sudah terlalu mabuk, aku akan mengantarkan ke kamarnya."
"Aku mengerti."
Earlene menggendong Asmiranda untuk membawanya.
__ADS_1
"Asmiranda kau benar-benar tidak boleh menyentuh minuman."
"Aku belum mabuk Ojou-sama, tolong tambah lagi."
"Itu sudah cukup."
Beberapa hari berikutnya Earlene menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah kawasan high elf. Dia datang sendiri dan segera disambut oleh pemimpinnya bernama Sofia.
Dia memiliki rambut panjang emas yang memikat dengan wajah cantik serta telinga runcing. Itu bukan hal aneh yang dimiliki elf karena itulah Earlene tidak terpikat sama sekali.
"Sebuah kehormatan bahwa raja iblis kesombongan datang ke wilayah kami, apa ada yang saya bisa bantu?"
"Aku ingin menanyakan soal buku."
"Buku itu yah, kebetulan bahwa saya sendiri yang menulisnya tak disangka bahwa Anda yang menemukannya, jika tidak keberatan silahkan ikuti saya."
Sofia mengambil buku tersebut lalu memimpin di depan untuk menunjukan ruangan yang bisa mereka pakai untuk mengobrol.
Mereka berjalan dan menemukan sebuah ruangan luas dengan sofa dan meja. Kedatangan Earlene ke tempat ini jelas bukan sesuatu yang sia-sia.
"Silahkan duduk di mana Anda sukai, jika Anda datang kemari maka saya bisa mengatakan bahwa Anda telah mengumpulkan seluruh kristal."
"Kau bisa menebaknya jadi kurasa semuanya bisa berjalan dengan cepat" katanya santai.
__ADS_1