
Earlene muncul di kota Andreas dan melihat bagaimana kekacauan telah terjadi di sini. Di beberapa tempat asap telah mengepul ke udara dan pertarungan di sekelilingnya tak bisa dihindari. Tentu, sebagian bangunan tampak porak poranda.
Raja iblis nafsu berniat mengambil seluruh kekuatan dari tempat ini, dan itu benar-benar terlihat jelas oleh Earlene yang berjalan di sepanjang reruntuhan yang dilaluinya.
Beberapa tubuh ditemukan mengering seolah dihisap tanpa sisa.
Tepat saat Earlene memeriksanya ular-ular hitam bermunculan dari celah-celah bebatuan kemudian terjulur padanya dan secara bersamaan melilit kakinya, sebelum mereka bisa naik ke atas, ular-ular tersebut terbakar dengan api.
"Hoh, kau memang menyedihkan Vanesa."
Earlene berbalik dan melihat sosok wanita berdiri di tiang lampu selagi menatapnya intens. Ia memiliki rambut langit malam dengan gaun terbuka.
Ada tanduk di atas kepalanya.
"Jadi begitu, raja iblis kesombongan ternyata masih hidup dan sekarang menyamar jadi gadis kecil, hoh... apa yang akan dikatakan raja iblis lainnya jika mereka mengetahuinya, terlebih dia malah memihak manusia."
"Aku tidak memihak kalian atau manusia, aku hanya berjalan dengan kehendakku... dan tak akan ada yang bisa mengaturnya."
__ADS_1
"Sombong sekali."
Vanesa melompat turun dengan bunyi retakan di bawah kakinya.
"Aku sudah mendapatkan kekuatan yang kuinginkan, sekarang aku bisa mengalahkanmu dengan mudah dan membunuhmu."
"Itulah yang ingin kudengar darimu, karena aku juga tidak berniat membiarkanmu hidup karena melibatkanku dalam peperangan tak berarti.. apa kau tahu betapa menyebalkannya setiap saat ada pahlawan yang muncul untuk membunuhku."
"Haha, kami hanya tertawa melihatnya... kau tidak mau bertarung melawan manusia jadi kami biarkan kau mengambil panggung juga, sungguh sebuah kesalahan menjadikan dirimu sebagai raja iblis."
"Katakan itu pada orang-orang di kerajaanku sebelumya."
Bunyi dentingan logam menyertai pergerakan keduanya.
Earlene melompat untuk memberikan tebasan, sayangnya tubuhnya telah terlilit ular yang mana mampu mengganggu konsentrasinya sebelum dia ditendang ke bawah sampai menembus tanah bersama Vanesa di atasnya.
"Guakh."
__ADS_1
Vanesa berniat menancapkan pedangnya namun Earlene mengelak ke samping kemudian menendang Vanesa dengan kedua kakinya hingga dia melompat menjauh karena kakinya menembakan bongkahan es yang mengerucut.
Earlene berdiri selagi menyeka mulutnya.
Tubuh Earlene hanya berusia 10 tahun karena itulah posisinya tidak menguntungkan saat berhadapan dengan wanita bertubuh dewasa, bahkan jika dia terlihat seperti anak kecil orang di depannya tidak akan pernah memberikan sedikit simpati ataupun rasa kasihan.
Karena begitulah sifat iblis, mereka tak peduli dengan kekejaman yang mereka akan perbuat.
Earlene mengulurkan tangannya untuk memanggil 5 golem yang secara bersamaan berlari menerjang ke depan dengan pedang besar di tangan mereka. Vanesa menghindari dua di antara mereka dengan lompatan kecil kemudian melompat ke salah satu yang ketiga.
Dia memotong kepalanya menjadi dua bagian kemudian memotong tubuhnya dengan beberapa tebasan cepat, dua Golem itu berbalik dan keduanya mengalami hal sama.
Dia kuat.
Beginilah kenapa raja iblis terdahulu tidak mudah untuk dikalahkan.
Earlene berniat mengeluarkan naganya namun itu hanya akan sia-sia jika melawannya, dia tidak terlalu ingin kehilangan naga yang telah banyak membantunya.
__ADS_1
"Bagaimana, kekuatanku begitu melimpah bukan? Tinggal mengambil kekuatan para murid di akademi maka aku akan semakin kuat," katanya menyeringai.