
Aura memiliki sebuah keinginan yaitu menciptakan sebuah sekolah yang mampu menghasilkan bibit luar biasa demi kebaikan kerajaan ini, namun jauh dari itu ada satu hal yang ingin dia lakukan yaitu membuat dirinya menjadi abadi.
Elf tidaklah abadi mereka hanya berumur panjang, tidak kurang ataupun lebih, mereka juga bisa mati karena sebuah penyakit dan Aura adalah salah satunya.
Demi menyembuhkan dirinya dia mengumpulkan para muridnya yang jenius untuk membantunya, sayangnya itu hanya berakhir menjadi sebuah kegagalan sampai suatu saat ketika dia berjalan di kota dia bertemu dengan seorang anak laki-laki bersama pelayannya yang jelas merupakan iblis.
Itu sedikit membuatnya penasaran jadi dia mengikutinya hingga akhirnya sampai di sebuah rumah kecil yang jauh dari pemukiman. Saat dia berdiri di depan pintu pelayan wanita itu membukanya.
"Kau terus mengikuti kami, apa yang bisa kubantu?"
"Yah, aku hanya sedikit penasaran... kenapa iblis seperti kalian datang ke dunia manusia?"
"Kau benar-benar mengetahuinya, masuklah kami tidak berniat membuat keributan atau hal lainnya."
Dengan ragu dia mengikuti pelayan tersebut dan melihat bahwa anak kecil yang dia ikuti telah membenamkan dirinya pada buku-buku yang jelas tidak sesuai dengan umurnya, ada buku kuno yang sulit dibaca juga.
"Ini?"
"Oh jadi elf itu yang mengikuti kita."
"Namaku Aura, aku hanya penasaran.. tolong jangan bunuh aku.. guakh."
Darah menyembur dari mulutnya hingga jatuh dan ditangkap sang pelayan, tak perlu menunggu lama dia langsung pingsan.
"Tuan Galius, apa dia mati?"
"Jika dia mati kita bisa disalahkan, mungkin kita akan ketahuan.. bawa dia cepat Asmiranda."
"Baik."
__ADS_1
Asmiranda mengikuti apa yang dikatakan Galius kecil katakan, dia memeriksanya dan menyibakkan gaunnya.
"Tuan bukannya tidak sopan melucuti wanita, jika anda ingin melakukan itu bisa denganku."
"Bukan itu yang ingin kulakukan, aku yakin pernah melihat kutukan seperti ini."
"Ah."
Di perutnya ada lambang ular.
"Apa dia bawahan raja iblis nafsu?"
"Bisa iya bisa tidak juga."
Galius mengembalikan gaunnya sedia kala, sementara Asmiranda memiringkan kepalanya bingung.
"Selain ciri, ini biasanya digunakan untuk memperkuat bawahannya tapi jauh lebih dari itu sebenarnya tanda ini adalah sebuah kutukan."
"Bagi siapapun yang mencoba menolak perintah pemiliknya, dia akan terkena kutukan kematian, wanita ini mungkin tidak akan selamat."
"Eh?"
Aura yang sadar membuka matanya.
"Apa kau mengetahuinya?"
"Aku adalah raja iblis kesombongan, Galius... aku jelas mengetahui hal-hal seperti ini."
"Kau terlihat muda dari yang kupikirkan."
__ADS_1
"Yah kau tahu, aku baru naik tahta dan memutuskan untuk tinggal sementara waktu di dunia manusia, bukan berarti aku berniat menghancurkan Prancis, aku hanya ingin membaca banyak buku yang sangat menarik di sini."
Aura bangkit kemudian melihat banyak buku di rak, dia sedikit mengintip judulnya.
"Tuan goda aku lagi, terjebak di ranjang dengan wanita asing, bukannya novel ini."
"Ahaha pria suka hal seperti ini, aku hanya penasaran saja sebagai riset."
Wajah Asmiranda memerah.
"Kalian sangat mencurigakan."
"Mari kesampingkan hal itu, apa mungkin kau mengikuti kami untuk mencari sesuatu tentang kutukanmu?"
"Iya, aku melihat kalian membawa buku jadi kupikir aku bisa menanyakan hal-hal seperti menghilangkan kutukan ini."
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, sayangnya tanda ini akan menghilang saat pemiliknya mati."
"Maksudnya harus ada yang membunuh raja iblis nafsu."
"Benar tapi kurasa kau tidak mungkin melakukannya ataupun orang lain."
Aura tampak putus asa, hingga akhirnya Galius kecil melanjutkan.
"Ada satu hal untuk membuatmu tetap hidup."
"Apa itu?"
"Di dekat hutan monster ada sebuah pohon kehidupan yang menjadi gerbang menuju Neverland, jika kau tinggal di sana kau tidak akan mati dan jika tanda di tubuhmu menghilang maka kau bisa hidup bebas kembali, tapi kurasa itu pasti memerlukan waktu yang lama."
__ADS_1
"Tidak, itu bagus... aku akan menjadi penjaga tempat itu sampai kutukanku hilang, apa aku juga bisa hidup abadi?"
"Hidup abadi tidak terlalu menyenangkan kau tahu, aku rasa menjalani hidupmu seperti biasanya jauh lebih baik," perkataan itu dihiasi senyuman yang mendalam.