
Sementara keduanya sibuk bertarung, Rosa menarik Arthur untuk mundur.
"Ada apa guru?"
"Kita tidak boleh lupa tujuan kita datang kemari."
"Bukannya tujuan kita untuk.."
Seolah menyadari hal yang penting, Arthur menghentikan perkataannya.
"Benar juga, mari lakukan."
Keduanya mengangguk mengiyakan.
Pepohonan di sekitar pertarungan hancur berkeping-keping. Bellina memutar pedangnya searah jarum jam dan Aura menahannya dengan cermat. Tidak ada waktu menggunakan sihir karenanya keduanya hanya bisa bergantung pada seni pedang mereka.
"Kamu lumayan, sayangnya staminamu sudah terkuras habis, teknik seni pedang dipengaruhi oleh pernapasan, jika pernapasanmu tidak stabil maka kau akan kalah," kata Aura yang dibalas dengan kerutan kening.
"Aku sudah tahu."
Keduanya menjaga jarak sekitar satu meter sebelum kembali menyerang, Bellina mengambil arah dari bawah ke atas sementara Aura mengambil arah berbeda.
Dentrang.
Aura tersenyum riang bagaimana lawannya benar-benar mengarahkan segala kekuatannya, ini pertama kalinya seseorang bertarung dengan dirinya begitu lama.
Jika melawan Jeanne sesungguhnya dia tidak benar-benar bertarung dengannya, ia mengatakannya untuk memberikan dorongan kuat pada muridnya.
Kedua pedang saling menahan satu sama lain sebelum sesuatu bergulir di bawah kaki mereka.
"Apa itu?" tanya Aura dan seketika asap tebal membungkus keduanya, di momen tersebut Arthur berlari dari belakang merangkul Bellina untuk berlari bersamanya.
"Arthur?"
__ADS_1
"Kita tidak perlu repot-repot melawannya, mari masuk saja ke Neverland."
"Apa boleh seperti ini?"
"Kita tidak punya waktu meladeninya."
Aura yang melihat kepergian keduanya hanya menghela nafas panjang selagi menyarungkan kembali pedangnya.
"Yare, yare, sungguh cara yang licik."
"Kau tidak mengejarnya?" ucap Rosa dari belakangnya.
"Dari awal aku tidak berniat menghalangi mereka, aku hanya ingin mencoba bagaimana kemampuan mereka. Sekarang mereka belum sanggup... akan tetapi suatu hari kurasa mereka akan jauh lebih berkembang dari sekarang."
"Perkataanmu seperti orang tua."
"Kau juga orang tua sekarang."
"Sayang sekali tapi aku ini 17 abadi."
"Mana mungkin, lihat dadamu kendor sementara punyaku kencang."
"Bukannya sebaliknya."
Mereka mulai meributkan sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu.
Di sisi lain Arthur dan Bellina baru saja melewati pohon yang mereka masuki, seharusnya mereka tiba di balik pohon tersebut atau di dalamnya namun yang mereka lihat sangatlah berbeda.
Setiap tempat dihiasi rerumputan hijau serta taman bunga, ada danau yang mengalirkan air melewati sungai-sungai kecil di sekitarnya serta sebuah pegunungan yang memukau.
"Jadi ini Neverland."
Keduanya mengalihkan pandangan ke arah berbeda, di mana di samping pohon itu banyak kemah-kemah yang telah didirikan dengan baik.
__ADS_1
Salah seorang gadis kecil menghampiri mereka berdua.
"Kalian datang kemari juga."
"Siapa anak manis ini?"
"Apa kalian benar-benar tak mengenalku."
Ah.
Mereka baru menyadarinya, gadis berusia awal belasan tahun itu adalah Jeanne d'Arc. Dia berubah menjadi gadis kecil.
Arthur dan Bellina melihat dirinya sendiri di pantulan air sungai dan akhirnya mereka juga melihat dirinya telah menjadi seorang anak-anak.
"Sesuai yang kuduga aku memang imut," kata Arthur berpose seperti model majalah profesional yang mana mendapatkan tinju Bellina.
"Ugh, sakit.. apa kau selalu ingin memukulku?"
"Kau menjijikan terutama sifat Sisconmu."
"Siapa yang kau panggil Siscon, aku tidak."
"Bagaimana dengan penampilan Charlotte?"
"Dia sangat mempesona."
"Sudah kuduga."
"Bukannya wajar jika mengagumi sosok kakaknya sendiri."
Jeanne bertepuk tangan sekali untuk melerai keduanya.
"Sudah, sudah, bagaimana kalau kita minum teh bersama, raja dan ratu pasti sudah mengharapkan kedatangan kalian berdua."
__ADS_1
Keduanya mengangguk sebagai jawaban.