
Setelah beberapa saat Jeanne berkata.
"Entahlah, tapi aku rasa ada yang aneh saat itu terjadi. Bagaimana mengatakannya, seolah raja iblis kesombongan memang sengaja untuk kalah."
"Mungkinkah raja iblis kesombongan yang baru adalah orang yang sama."
"Kemungkinan besar begitu, meski aku yakin telah mengalahkannya bisa saja itu semua hanya penyamaran."
Sebelum mengurus hal itu, Bellina tahu bahwa pertama dia juga harus kembali merebut kerajaan Prancis. Semua orang di sini menunggu hal yang sama.
Tiga hari berikutnya mereka telah bergerak, paling tidak raja dan ratu akan aman di tempat di sebut Neverland ini.
Earlene menjalani rutinitas hariannya di akademi dengan damai, untuk alasan yang tidak diketahui kini yang mengajar Elma sendiri dan dia bisa melihat bahwa kursi Bellina dan Arthur telah kosong.
Dia menjalani kehidupannya lebih santai sampai dirinya dipanggil Elma untuk menemuinya di ruangannya.
"Apa ada sesuatu yang kepala sekolah inginkan dariku?"
"Kamu adalah salah satu murid akademi terbaik di sekolah ini, ini adalah permintaan dari Saint Agung."
"Yang kuingat aku tidak mengenalnya."
"Mungkin Bellina yang merekomendasikanmu untuk ikut pertempuran ini."
Elma memberikan surat pada Earlene dan melihat bahwa itu sebuah undangan untuk berkumpul di salah satu desa di dekat ibukota Prancis.
"Terjadi pemberontakan di ibukota dan semua orang sudah mulai bergerak untuk merebut kembali kerajaan."
__ADS_1
"Mungkin ada kesalahan, aku ini cuma gadis berusia 10 tahun loh."
Earlene memilih agar bisa menghindari konflik seperti ini.
"Aku juga tidak lupa bagaimana kau membunuh ketiga murid dan menghidupkannya kembali."
"Ugh."
"Aku mengandalkanmu."
"Dasar negara kejam, bisa-bisanya kalian mengirim gadis kecil imut ke medan perang."
"Apa kau menolaknya?"
Earlene buru-buru mengambil sebuah kotak berisi emas yang disodorkan kepala sekolah padanya.
"Bagus sekali, kita bisa saling mengerti satu sama lain rupanya."
Dia benci bahwa dia benar-benar butuh uang sekarang. Earlene memunculkan seekor serigala hitam di perkarangan akademi kemudian naik ke punggungnya untuk melesat pergi.
Di sepanjang jalan dia melewati beberapa gunung dan pemukiman, berbeda dengan seekor naga yang mencolok, berpergian dengan serigala dia bisa bergerak secara sembunyi-sembunyi.
Setahunya belum ada yang mengendari naga selain dirinya.
Dia berhenti di dekat kolam mata air untuk melepaskan dahaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan, setelah langit berubah menjadi oranye di tengah padang rumput itu dia melihat beberapa orang sedang berpiknik dan bercanda gurau, jauh di belakangnya adalah desa yang dimaksud kemungkinan mereka orang-orang dari desa.
"Kurasa ini tempatnya, terima kasih bantuannya."
__ADS_1
Serigala itu menghilang sementara Earlene berjalan untuk menyentuh punggung dari seorang gadis yang memunggunginya.
"Kau benar-benar suka bunga, Bellina."
"Gwaaah... kenapa kau ada di sini?"
"Bukannya aku diminta kemari."
"Maksudku apa kau datang ke sini hanya dalam setengah hari."
"Sepertinya begitu."
Earlene melihat Jeanne, Arthur dan Rosa di sisi lain yang sedang merangkai bunga. Darimana pun melihatnya apa mereka benar-benar berniat bertarung? Jika benar, mereka terlalu santai.
Bellina membawa Earlene untuk diperkenalkan pada semua orang. Jeanne menatapnya dengan cukup dekat.
"Perasaan ini, rasanya tidak asing."
"Mungkin hanya perasaan, kita baru bertemu sekarang."
"Kurasa kau benar."
"Lalu kapan kalian mulai menyerang ibukota?"
"Besok pagi, hari ini kita akan bersenang-senang di kota, untuk perayaan bunga."
Earlene memiringkan kepalanya imut.
__ADS_1