Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak

Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak
Chapter 07 : Ujian


__ADS_3

Ketika semua orang berkerumun untuk melihat sosok dua orang yang menjanjikan, seorang pemuda yang berdiri di samping Earlene menyapanya.


"Benar-benar menyebalkan bukan."


"Begitulah, siapa kau?"


"Namaku Arthur, aku dari Britania dan aku mencoba mendaftar di akademi ini."


"Britania?"


"Ibuku berasal dari negara ini dan ayahku dari sana, karena dia sudah menikah lagi aku memutuskan tinggal di sini bersama ibuku mulai sekarang."


"Pasangan bercerai."


"Aku harap kau sedikit peka saat berbicara itu pada orang asing."


Arthur memiliki rambut hitam mangkuk dengan pedang perunggu di punggungnya, pakaiannya lusuh walaupun sikapnya begitu tenang.


"Kau belum mengatakan namamu?"


"Aku Earlene dan ini pelayanku Asmiranda, yah seperti kau lihat kami juga mendaftar di sini."


"Jadi begitu, kau punya pelayan... apa kau keluarga bangsawan?"


Earlene memang bangsawan iblis namun dia tidak cukup gegabah mengatakannya, dia hanya mengatakan kebenaran hidupnya sekarang, seorang gadis yang berasal dari desa terpencil.

__ADS_1


"Benarkah? Aku rasa orang yang mempunyai pelayan bukan berarti mereka orang kaya."


Asmiranda bisa merasakan bahwa Arthur tidak memiliki niat jahat dalam perkataannya jadi dia sama sekali tidak tersinggung ataupun marah. Dia 5 tahun lebih tua dari Earlene namun dia juga terlihat lebih dewasa dari Asmiranda.


Sosok yang benar-benar dilatih untuk menjadi seorang pemimpin, entah Earlene atau Asmiranda menunjukkan rasa penasaran sebelum akhirnya pengawas ujian muncul.


Mereka ditempatkan di lapangan luas dan mulai membagi ujian menjadi tiga tahapan, pengetahuan dasar, pedang serta sihir.


Bagi penyihir mereka tidak mengambil ujian pedang maupun sebaliknya tapi jika mereka ingin mengambil dua-duanya tidak ada masalah untuk itu.


Earlene menguap lebar saat dia mengisi lembar soalnya dengan pandangan mengantuk. Pengawas berdiri di sampingnya dan berkata.


"Wajar saja karena semua pengetahuan ini tidak mungkin di ketahui gadis 10 tahun."


Earlene dengan santai menyerahkan kertas jawabannya sebelum meninggalkan ruang tes. Wajah pengawas memucat.


"Apa-apaan gadis itu, dia menjawabnya dengan tepat bahkan sampai ke bagian detailnya, siapa sebenarnya dia?"


Itu tidak akan bisa dijawab siapapun kecuali jika orangnya sendiri yang mengatakannya.


Walau Earlene bersinar masih tidak ada orang yang memperhatikan, semua orang sudah terlalu terbuai oleh sosok dua orang sebelumnya.


"Mereka benar-benar menyebalkan," umpat Asmiranda yang selalu mengagumi sosok tuannya.


Arthur entah sejak kapan terus bersama keduanya.

__ADS_1


"Kau tidak harus bersama kami, kau tahu?" ucap Earlene memperingati.


"Aku tidak memiliki kenalan atau teman, aku rasa aku akan lebih senang jika bersama kalian berdua."


"Sesuai yang diharapkan dari Ojou-sama, Anda langsung punya bawahan baru."


"Aku rasa tidak begitu juga Asmiranda."


Perkataan itu berlalu begitu saja.


Di ujian berikutnya Earlene mendapatkan nilai sempurna diikuti Arthur di belakangnya. Mereka tidak memiliki hambatan berarti, kecuali diabaikan siswa lain.


"Lupakan saja, orang-orang ini sudah parah."


"Aku juga setuju."


Daftar pengumuman kelulusan ujian masuk telah ditempel di papan sehingga semua orang bisa melihatnya. Dari ribuan orang hanya akan lulus sebanyak 100 orang setiap ajaran.


Posisi Arthur maupun Earlene berada di akhir walaupun mereka sangat kuat.


"Kenapa kita berada di bagian akhir?"


"Aku pikir karena status kita yang rendah. Dunia memang selalu begini, paling tidak kita berhasil lolos tanpa seseorang menendang kita dan bilang bahwa kita masih di bawah umur," ucap datar Earlene yang dibalas perkataan lemas.


"Sepertinya begitu."

__ADS_1


__ADS_2