
Di bawah langit malam berbintang Arthur dan Bellina duduk di depan api unggun selagi memakan paha ayam.
"Dari sini kini akan mengambil jalan berputar untuk sampai ke Olimpus, jadi tidurlah lebih awal."
"Kenapa kita harus melakukan itu, itu akan mengurangi sehari dari perjalanan kita."
"Mau bagaimana lagi, kemungkinan akan ada yang menyerang kita. Jika perwakilan Prancis tidak datang kita sudah langsung dianggap sebagai mitra raja iblis kesombongan. Hal itu bisa membawa seluruh negara menyerang Prancis."
"Itu akan jadi masalah serius."
Arthur mengangguk mengiyakan. Baginya yang harus diwaspadai adalah pasukan dari Jerman mereka memiliki senjata yang bisa membunuh seseorang dari jarak jauh tanpa sihir dan pedang hal itu benar-benar merepotkan.
Arthur menyiapkan alas tidur terbuat dari dedaunan serta selimut yang cukup hangat, Bellina yang memandanginya dengan tatapan tajam.
"Kau tidak akan menyerangku kan?"
"Aku bukan pria seperti itu, kau terlalu banyak membaca buku-buku aneh di kamarmu."
"Ugh.... darimana kau tahu? Kau menyelinap ke kamarku!"
"Hanya untuk memeriksa bahwa di dalamnya tidak ada barang mencurigakan."
"Lupakan saja, jika aku menemukanmu di sana aku akan menebasmu."
"Baik, baik, putri yang suka menebas... silahkan tidur aku akan memasang beberapa jebakan untuk berjaga-jaga jika ada hewan liar atau musuh yang mendekat."
Arthur berbalik dan ia melakukan hal yang dikatakannya, ketika dia berbalik kembali sosok Bellina sudah tidur dengan nyenyak hanya kurang dari 30 detik saja.
"Dia benar-benar jauh dari kata putri ataupun gadis suci."
__ADS_1
Pagi berikutnya bunyi lonceng dari jebakan Arthur telah membangunkan keduanya, Arthur menarik pedangnya saat dia melihat seorang tergantung di atas pohon.
"Tolong tenang dulu, kita bisa membicarakannya baik-baik kan."
Yang ada di sana secara terbalik itu adalah seorang pria dengan bagian bawah merupakan kaki kambing dan atas bertanduk.
"Makhluk apa itu?" tanya Bellina yang mengintip dari belakang.
"Dia satir, makhluk yang menjaga hutan maupun pegunungan."
Arthur mengayunkan pedangnya dan itu memotong tali yang mengikat kakinya hingga dia jatuh ke tanah.
"Bisakah kau sedikit lembut, bung."
"Aku ingat tidak bersikap merusak hutan hingga Satir datang untuk membunuh kami."
"Aku tidak berniat membunuh siapapun oke, aku hanya penasaran ada manusia datang kemari jadi aku ingin memperingati bahwa di depan sana ada monster yang bisa membunuh kalian."
"Monster apa itu?
"Chimera, beberapa hari ini dia datang kemari dan memburu teman-temanku."
Arthur mendesah pelan.
"Kau baik juga rupanya."
"Kau tahu kami dianggap peri hutan memperingati dan melindungi adalah tugas kami."
"Bagaimana sekarang tuan putri, kita pergi sekarang."
__ADS_1
"Pergi, aku ini calon pahlawan ke-502 Prancis, kita kalahkan Chimera itu."
"Begitu katanya, sayang sekali dia memilih melawan."
"Kalian pasti manusia yang suka menantang nyawa."
"Tunjukan jalannya."
"Laksanakan... ngomong-ngomong namaku Silenos."
Arthur dan Bellina juga memperkenalkan dirinya dan sedikit membicarakan tentang perjalanan mereka.
"Kalian mau pergi ke Olimpus, di sana tadinya tempat para dewi berkumpul... tempat itu sangat indah."
"Kau sepertinya tahu banyak Silenos?" tanya Bellina.
"Tentu saja, kami Satir juga sering melayani mereka sebagai pelayan namun karena manusia selalu berperang dewi mulai enggan turun ke dunia ini, terlebih keberadaan raja iblis membuat mereka juga tidak nyaman."
"Raja iblis?"
"Ah iya, saat itu raja iblis kesombongan menyerang Olimpus dan bertarung dengan mereka bahkan Dewi kearifan Minerva juga turut bertarung."
"Dewi Minerva juga?"
Dewi Minerva dikatakan jarang bertarung, ia selalu mengambil jalan damai dan musyarawah untuk menyelesaikan satu masalah.
"Aku tidak tahu tapi raja iblis kesombongan mampu membuatnya sangat marah."
Bellina mengepalkan tangannya dan bertekad untuk menjadi lebih kuat lagi.
__ADS_1