
Setahun sekali desa ini mengadakan sebuah perayaan bunga, ini adalah ucapan syukur karena desa ini selalu dikelilingi berbagai bunga indah yang berbeda, bunga-bunga di sini juga dijual ke ibukota karenanya menjadi ladang usaha untuk semua orang.
Earlene duduk di kursinya selagi menyeruput susu di cangkirnya, dia ingin minum bir seperti apa yang dilakukan banyak orang sayangnya penampilannya jelas akan memberikan rasa curiga pada orang lain jika dia melakukannya. Para gadis desa yang mengenakan gaun bermotif bunga telah mengambil tempat dengan bentuk hati kemudian menari-nari mengikuti irama yang dimainkan oleh para pria, itu benar-benar mengagumkan bagaimana mereka melakukannya.
Desa ini memiliki budaya dan tarian yang menyenangkan, Earlene mengakuinya dalam hati sebelum memakan daging panggang.
"Untuk gadis kecil makanmu cukup besar."
"Aku terburu-buru jadi perutku benar-benar kosong, kau mau?"
"Tidak, terima kasih," balas Bellina acuh tak acuh.
"Ngomong-ngomong apa hubungan mereka berdua?"
Earlene menunjuk ke arah Rosa dan Arthur yang saling mengobrol satu sama lain, itu terlihat intens dan juga sangat dekat.
"Anggap saja mereka pasangan."
"Jadi begitu."
Earlene tak ingin menanyakan lebih jauh meskipun sepertinya Rosa mulai melakukan hal-hal nakal di sana.
Bellina duduk di sebelah Earlene selagi meminum air putih, bukan berarti dia mau duduk bersamanya, ia hanya terlalu lelah karena kemeriahan ini.
__ADS_1
Gurunya sedang menari dengan yang lainnya dan terus mengajaknya untuk ikut serta, baru sekarang dia akhirnya bisa meloloskan diri.
"Ngomong-ngomong berapa pasukan yang akan kita kerahkan?"
"Cuma 30 orang."
"Itu jumlah yang sedikit."
"Ah iya, hampir semua pasukan membelot ke Merlin."
Memenangkan perang dengan jumlah seperti itu sangatlah tidak masuk akal, pantas saja mereka mau tak mau melibatkan Earlene di dalamnya sebagai tenaga tambahan.
"Merlin digadang-gadang sebagai penyihir terkuat di kerajaan, aku sebenarnya tidak yakin bisa mengalahkannya terlebih ada kemungkinan raja iblis nafsu berada di sana juga."
"Entahlah, guru bilang saat mengalahkan raja iblis kesombongan mungkin hanya sebuah kekeliruan, dia juga tidak begitu yakin bisa mengalahkan raja iblis lainnya."
Earlene tersenyum pahit, sudah dia duga bahwa Jeanne memang akan tahu. Earlene melawannya tidak serius saat itu.
"Begitu, ini berarti sulit."
"Earlene, menurutmu apa Prancis bisa bekerja sama dengan raja iblis kesombongan yang baru?"
Earlene memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Lupakan saja, anggap aku tidak mengatakan hal barusan. Hanya saja, jika aku menyerah terhadapnya mungkin kami bisa mengalahkan raja iblis yang lain tentu dengan sebuah syarat yang dia inginkan. Aku dengar hubungannya dengan raja iblis lainnya sangat buruk."
Earlene hanya mengangkat kedua tangannya lalu menambahkan dengan perkataan ambigu.
"Ikuti saja kata hatimu."
"Kata hati yah."
Walau saat ini penuh dengan keramaian bagi keduanya semuanya terasa sepi, mereka berpesta sepanjang malam dan keesokan paginya seluruh pasukan mulai bergerak.
Jeanne bahkan menggunakan armor yang sering dia gunakan bersama pedang di pinggangnya.
"Kita akan merebut kembali Prancis, apapun yang terjadi kalian jangan sampai mati."
"Baik."
Jeanne jelas meminta hal yang sulit, pikir Earlene dalam hati.
Mengesampingkan hal itu semua orang menyatukan semangatnya begitu juga Earlene yang jelas tidak menyukainya sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kota lebih dulu.
Dia mengarahkan tangannya dan puluhan lingkaran sihir muncul di atas langit. Dia bertugas sebagai pengecoh saat ini.
"Kalian benar-benar menyuruh gadis 10 tahun bertarung, apa boleh buat... jangan salahkan aku jika semuanya mati," katanya menyeringai senang.
__ADS_1