
Sebelum duel Arthur duduk bersama Jeanne di salah satu tempat terbaik di kerajaan ini yaitu taman belakang yang dipenuhi bunga Lavender. Jeanne menuangkan air dalam poci ke cangkir kemudian mendorongnya ke arah Arthur yang menerimanya dengan senyuman.
"Silahkan."
"Terima kasih, bisa minum dengan Saint Agung benar-benar sebuah kehormatan yang luar biasa."
"Kamu mengucapkannya terlalu berlebihan, namamu Arthur kan."
"Itulah namaku."
Mereka menyeruput teh di waktu bersama memenuhi aura di sekitar keduanya dengan perasaan tenang, kecuali satu orang yang sedang bersembunyi untuk mengintip.
"Bellina kamu bisa bergabung juga bersama kami loh," perkataan Jeanne membuatnya tersentak namun dia memilih tak melarikan diri dan berjalan mendekat.
"Bellina kau bisa duduk di pangkuanku," perkataan Arthur membuatnya menerima pukulan keras di bahu.
Gadis ini kasar.
"Aku tidak ingin dilecehkan olehmu."
Gurunya tertawa kecil sebelum menyodorkan teh baru untuknya.
"Kenapa guru tertawa?"
"Bukannya ini pertama kalinya kamu bisa berbicara dengan pria secara normal."
__ADS_1
"Yah, aku bisa menebaknya... selama ini kepribadianmu pasti hanya tipuan."
Wajah Bellina memerah namun dia tidak membiarkan hal itu berlalu saja jadi dia mencekiknya.
"Ugh, kau ingin membunuhku?"
"Aku memang ingin membunuhmu!" teriaknya demikian.
Bagi Arthur melihat sisi yang sesungguhnya lebih menyenangkan baginya, bahkan ketika bersama raja iblis kesombongan dia juga melihat sisi berbeda.
Bellina melepaskan cengkeramannya lalu meminum tehnya.
Saat duel digelar di lapangan terbuka, Bellina memasang kuda-kuda dengan pedang di tangannya sementara yang berdiri santai Arthur juga melakukan hal sama.
"Apa pedang perunggumu bisa melawan pedangku?"
"Sekilas ini memang seperti pedang perunggu namun sebenarnya pedang ini dibuat dari batu yang jatuh dari langit."
"Jatuh dari langit?"
"Aku juga tidak tahu namanya tapi pedang ini aku sebut sebagai Excalibur."
"Lumayan, itu nama yang bagus."
"Terima kasih, jadi bagaimana peraturannya?"
__ADS_1
"Tidak boleh menggunakan sihir, jika seorang menyerah atau tak bisa melanjutkan duel maka dia yang kalah."
"Sepakat."
Raja, ratu dan saint agung melihat dari kejauhan, harusnya ada Merlin juga yang turut bergabung sayangnya dia sedang sibuk melakukan penelitian yang tak bisa diganggu sedikitpun.
Kembali ke pertarungan, Bellina menghentakkan kakinya untuk melesat maju. Di depan Arthur dia mengayunkan pedangnya dan saat tertahan menciptakan percikan kembang api ke udara.
Tubuh Arthur terdorong namun tidak jauh, dia berhasil menahan dan balik mendorong Bellina hingga dia sedikit bergerak.
Arthur tak hanya memberikan hal itu dia juga memberikan tebasan cepat, dar kiri ke kanan yang diimbangi Bellina dengan baik sebelum akhirnya mereka tertahan satu sama lain.
"Aku harus mengalahkan raja iblis dan menjadi seorang juru penyelamat, tak mungkin kalah olehmu."
"Maaf membuatmu kecewa tapi kau masih belum banyak berpengalaman."
"Apa?"
Mereka mundur lalu berlari secara menyamping selagi menebaskan pedangnya, kedua tubrukan logam itu menciptakan suara memekikkan telinga bersamaan dengan kilatan cahaya. Arthur memberikan tusukan yang ditangkis oleh Bellina walaupun sedikit menyerempet bahunya.
Seharusnya mereka melakukan duel dengan pedang kayu akan tetapi keduanya sepakat untuk menggunakan pedang asli. Bellina membalas dan Arthur menghindarinya setipis rambut dan keduanya kembali membenturkan pedang dan tertahan dimana masing-masing bisa merasakan nafas satu sama lain.
"Ketika umurku 5 tahun aku telah melawan monster, itu adalah keadaan dimana aku bisa mati kapanpun."
"Kau bisa memilih untuk tidak bertarung."
__ADS_1
"Tidak mungkin, karena hanya aku yang bisa melindungi ibuku."