
Ketika Arthur berumur 5 tahun, monster telah menyerang istana, mereka dikenal sebagai Lizardman sebuah monster menyerupai kadal yang bertarung layaknya manusia.
Beberapa penjaga dikalahkan dengan mudah, tepat saat itu bahkan cakar telah melukai wajah seorang wanita cantik hingga dia terduduk selagi memeganginya. Arthur yang melihat itu berteriak.
"Ibu."
"Jangan kemari Arthur, cepat pergi dari sini."
"Tapi.."
"Cepat pergi!"
Lizardman kembali hendak mengayunkan cakarnya namun Arthur tidak tinggal diam, dia menarik pedang dari tubuh mayat seorang penjaga kemudian berlari menerjang ke depan menusukkannya tepat menembus tubuh Lizardman hingga dia roboh ke samping.
Dengan tangisan ia memeluk ibunya, dia berhasil menyelamatkan ibunya akan tetapi tidak dengan kehidupannya, semenjak serangan itu ibunya menutupi wajahnya dengan perban dan dia akan diasingkan ke tempat lain, raja yang sekarang atau ayah Arthur memiliki hobi untuk mengoleksi wanita cantik di dekatnya, dia seorang yang telah dibutakan keindahan dari duniawi sementara kebenaran telah tertutup seutuhnya. Dia bahkan melanjutkan peperangan untuk melawan Prancis.
Dibandingkan diasingkan, ibu Arthur memilih untuk pergi.
"Biarkan aku tinggal bersama ibu juga."
"Tidak, ibu tidak bisa, di sini kamu bisa memiliki masa depan yang baik."
"Tapi."
Ibunya berlutut untuk memegangi bahu Arthur lalu berkata.
__ADS_1
"Ini permintaan ibu, jadilah seorang yang bisa membantu banyak orang tanpa menghilangkan keadilanmu, hingga merubah dunia ini menjadi lebih baik."
Arthur mulai menangis sementara ibunya menyeka sudut matanya.
"Lalu ibu mau pergi ke mana?"
"Ibu sebenarnya berasal dari Prancis, ibu akan kembali ke sana walaupun ibu mungkin telah mengkhianati Prancis dengan menikahi pemimpin Britania."
"Tapi ibu tidak salah, ibu berniat menghentikan peperangan juga."
Ibunya tidak membalas melainkan hanya mengelus rambut putra kesayangannya lalu berdiri dengan koper di tangannya.
"Jaga dirimu."
"Aku akan menemui ibu nanti, aku akan menjadi kuat bahkan Britania akan mendengarkanku."
Setelah 20 menit bertarung Bellina telah mengalami kelelahan yang cukup berat. Lawannya Arthur tak pernah berhenti menyerangnya, yang paling menyebalkan jika dia mau bahkan membunuhnya bisa dilakukannya dan Bellina kesal dengan hal itu.
Dalam segi kemampuan berpedang mereka seimbang namun dalam stamina Bellina telah kalah, pedangnya telah terlempar ke udara lalu menusuk jauh dari sampingnya.
Dengan tergagap dia mengakui kekalahannya hingga akhirnya Arthur menjadi pengawalnya untuk mengantarnya ke konferensi meja bundar di tempat yang dinamakan Olimpus.
Itu berada di luar Prancis dan merupakan daerah netral sebagai lokasi gencatan senjata sementara.
Arthur menggunakan kuda hitam sementara Bellina kuda putih dan bersama-sama mereka berlari melewati padang rumput.
__ADS_1
Mereka mengenakan pakaian sederhana dengan jubah coklat yang menyelimuti tubuh mereka.
"Kau masih marah soal duelnya?"
"Tentu saja aku marah, aku kalah."
"Kau benar-benar jujur, jika kau banyak memiliki pengalaman kau bisa mengalahkanku nanti."
Bellina mendecapkan lidahnya frustasi, setelah Arthur mengetahui sifat sesungguhnya darinya Bellina jelas tidak menahan diri lagi.
Arthur mempercepat langkah kudanya hingga dia mampu menghentikan Bellina.
"Ngomong-ngomong Bellina saat waktu itu tepatnya saat duel Earlene. Apa kau benar-benar akan menebasnya jika dia bergerak?"
"Tentu saja, entah itu anak kecil, berbeda gender ataupun orang kaya aku akan melakukannya, aku merasa dia gadis berbahaya dan sekilas aku merasa dia akan membunuh kita semua."
Arthur menyadari hal penting, Asmiranda bilang kemungkinan Earlene akan membunuh mereka karena alasannya sudah tidak ada, namun kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran dan memilih menyerah?
Satu kesimpulan masuk ke dalam pikiran Arthur.
Dengan kata lain semuanya karena Bellina, dia telah menyelamatkan kami. Walau tidak bisa mengalahkan Earlene paling tidak dia dapat merubah pola pikirnya.
"Kenapa diam? Ayo bergerak."
"Dimengerti."
__ADS_1
Arthur melihat punggung Bellina sebelum mengikutinya.
Dia mungkin adalah harapan terakhir umat manusia, pikir Arthur dalam hati.