
Masalah yang ditimbulkan bangsawan telah berakhir tanpa kesulitan, Earlene kembali memeriksa keadaan kota Hantu yang kini telah hidup kembali.
Kota hantu tidak sesuai dengan apa yang ditunjukkan namanya meski begitu, Arline tidak berniat mengganti namanya.
Dia berjalan di perkarangan istananya yang telah selesai sepenuhnya. Itu benar-benar luas.
Para pelayan yang terdiri dari manusia, half elf yang sedang menyapu halaman berhenti untuk menyapanya.
"Kalian bekerja dengan baik, lanjutkan."
"Baik yang mulia."
Earlene merasa sudah sejak lama suasana seperti ini tidak pernah dirasakannya, Agil dan Asmiranda pasti sedang berada di dungeon, dia mendengar bahwa mereka tak ingin tersusul oleh para anggota pelatihan Theresia yang mulai masuk ke dalam sana juga.
Earlene memasuki istana yang dipenuhi berbagai perabotan mewah, di aula singgasana sendiri dia bisa melihat sebuah kursi yang dibuat hanya untuknya, ada tangga yang menghubungkan lantai dan tempat duduknya.
Ia berjalan naik kemudian duduk di atasnya selagi memperhatikan seberapa luas ruangan ini terlihat dari atas.
"Sudah sejak lama aku tidak merasakan hal seperti ini," dia menyilangkan kakinya yang sepenuhnya tidak menyentuh lantai selagi menopang dagunya dengan posisi miring.
"Raja iblis kesombongan telah kembali," pikirnya dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu Arthur dan Bellina berada di dalam perpustakaan dengan situasi sunyi senyap, Bellina sudah meminta kepala sekolah untuk membantunya dimana dia memiliki koneksi paling cepat dibandingkan siapapun.
Hanya menunggu 30 menit dia masuk ke dalam perpustakaan dengan wajah bermasalah sebelum duduk mengambil tempat di antara keduanya.
"Bagaimana?"
"Seperti yang kalian duga, memang ada pemberontakan di ibukota yang dilakukan Merlin. Raja dan ratu berhasil diselamatkan dan dibawa ke hutan monster."
"Bukannya itu tempat yang berbahaya?"
"Itu memang tempat berbahaya namun tempat teraman juga hingga pasukan pengejar akan berfikir dua kali, lagipula Jeanne pasti yang memimpin pelarian jadi semuanya akan baik-baik saja, yang paling buruk adalah bahwa Merlin menggunakan muridnya untuk menjatuhkan Prancis."
Murid Merlin disebut murid paling berbakat diantara Murod lainnya.
"Pantas saja Eligor tanpa ragu menunjukkan keterlibatan dirinya dengan raja iblis nafsu, mereka sudah bergerak... lebih tepatnya seseorang memancingnya."
"Benar sekali, saat semua orang teralihkan atas kasus para bangsawan, dia kemudian bergerak... ini semua hal yang diinginkan Merlin sejak awal, tanpa ada kasus soal pembocoran data, Eligor akan menyeret bangsawan itu juga sayangnya dia didahului oleh seseorang bahkan namanya turut terseret di dalamnya. Kita bisa mengesampingkan siapa pelakunya... Jadi apa yang akan kau lakukan nona Bellina?"
"Aku ingin memastikan keselamatan orang tuaku termasuk guruku."
"Aku tahu kau akan berkata begitu jadi aku meminta wali kelas kalian untuk ikut, masuklah Rosa."
__ADS_1
"Aah."
Dia berjalan dengan penampilan seperti biasanya. Yang jelas itu tampak seksual.
"Anda memang luar biasa guru."
"Kau orang yang selalu menatapku dengan tatapan mesum, siapa namamu?"
"Tolong ingat nama muridmu juga, aku Arthur."
"Terserahlah."
Arthur merasa sebuah pedang menusuk hatinya, Bellina bahkan menatap jijik padanya, selain Siscon, orang ini juga menyukai wanita lebih dewasa darinya.
"Dibandingkan siapapun Rosa yang paling mengerti hutan monster, ia bisa membantu kalian berdua."
"Begitulah, aku hidup di sana jadi jangan khawatir soal jalan dan rute-rute yang sulit."
Bellina tampak memiringkan kepalanya, dia wali kelasnya tapi belum tahu seperti apa kehidupannya, tentu itu juga bukan kesalahannya, pada dasarnya Rosa sama sekali tidak pernah membicarakan tentang dirinya.
Semua murid hanya berfikir dia orang yang tegas, sulit ditebak dan sesekali bertingkah menggoda.
__ADS_1
"Kalau begitu mohon bantuannya."
"Aah."