
Di konferensi ini Pauline akan berperan sebagai moderator untuk membahas isu-isu yang telah menganggu seluruh dunia. Khususnya keterlibatan Prancis yang bersekongkol bersama raja iblis kesombongan yang baru.
Pertanyaan itu diberikan pada Bellina yang menjawab tanpa ragu dan jelas.
"Kami tidak bersekongkol dengannya, seperti yang kalian tahu bahwa guruku nona Jeanne d'Arc telah mengalahkannya dan semua orang melihat bagaimana tubuhnya diarak ke seluruh penjuru Prancis dan beritanya dikabarkan ke seluruh dunia."
Perkataannya tak bisa dibantah siapapun, bahkan tubuh Galius sudah diikat di tiang lalu dibakar di depan khalayak umum.
Gustav mengangguk mengiyakan sebagai balasan alu melanjutkan.
"Jika Prancis tidak terlibat dengannya, maka apa dia juga bergabung dengan raja iblis lainnya. Kami dapat informasi bahwa mereka bergerak secara bersamaan untuk menaklukkan wilayah manusia."
"Itu mungkin saja tapi saat konstatinovel dihancurkan semua orang hanya melihat satu orang yang mengaku raja iblis jadi hal itu belum dipastikan," tambah Orlando sebelum Rogen mengutarakan pendapatnya sendiri.
"Apapun itu mereka adalah musuh dunia, kita akan menghabisi semuanya."
"Kalian salah satu hal."
Tepat mereka saling mengutarakan pendapat seorang wanita telah berdiri di meja atau lebih tepatnya diantara mereka semua.
Seluruh pengawal kecuali Arthur mengirimkan pedang mereka dengan gaya tusukan namun semuanya dipatahkan dengan mudah, potongan pedang berjatuhan menghiasi pertunjukan tersebut.
"Kalian benar-benar tak tahu menahan diri saat berhadapan dengan iblis."
Seperti yang dia katakan dia adalah iblis, bukan hanya iblis biasa melainkan iblis yang sangat dekat dengan raja iblis kesombongan.
"Namaku Theresia, bisakah aku turut bergabung dengan obrolan kecil kalian."
Pauline tertawa sedangkan Charlotte tersenyum tipis dan berkata.
"Iblis jauh-jauh datang kemari, bukannya bagus jika kita bisa menangkapnya dan mengintrogasinya secara menyeluruh."
"Kau gadis yang kejam, tapi jangan khawatir tanpa melakukan itu aku akan mengutarakan apapun rencana yang diinginkan raja iblis kesombongan yang baru."
"Apa itu?" ucap Bellina dan Theresia menatapnya dengan tatapan intens.
"Kau dari Prancis kan, ngomong-ngomong kami telah mengambil wilayah kalian yang disebut kota hantu. Kini kota itu menjadi wilayah kami."
__ADS_1
"Apa?!"
Bellina berdiri hendak menarik pedangnya dan Arthur dengan sigap segera menghentikannya.
"Dia hanya datang untuk berbicara, mari dengarkan lebih jauh, silahkan dilanjutkan."
"Kau sepertinya orang yang bisa berfikiran ke depan, biar aku luruskan bahwa tuanku tidak bergabung dengan siapapun, entah itu raja iblis yang lain atau pihak Prancis... kita berbicara raja iblis sebelumnya, awalnya beliau adalah iblis yang menjauhi peperangan dan dianggap aib bagi iblis lainnya namun berkat Prancis tiba-tiba menuduhnya dan membunuhnya, kini penerusnya yang baru berfikir akan membalas dendam dengan menaklukkan dunia kalian."
Orlando menunjukan protes keras.
"Tolong jangan bercanda, menjauhi perang... Galius telah menghancurkan armada Spanyol yang hendak membantu Prancis melawan Britania, apa itu juga bukan ulahnya?"
"Benar sekali, semua itu rencana raja iblis yang lain... yah hal itu sudah tidak ada kaitannya lagi, yang jelas entah itu raja iblis atau manusia kalian semua akan dimusnahkan," mendengar perkataan itu semua orang menjadi kaku.
Mereka bisa merasakan ketakutan di dalam diri mereka walau pun hanya sedikit.
Rogen bereaksi setelah meninggalkan intimidasi tersebut.
"Jangan remehkan manusia, entah iblis atau raja iblis kami akan membunuhnya... manusia lebih kuat dibandingkan yang kalian tahu."
Theresia menghilang meninggalkan orang-orang yang tidak bisa berkata-kata lagi, waktu yang mereka memiliki selanjutnya hanyalah perjanjian kerja sama dan percobaan untuk menjatuhkan raja iblis kesombongan yang sekarang berada di wilayah Prancis.
Di koridor itu, Arthur berdiri bersandar saat Charlotte muncul mendekatinya.
"Kenapa kau mengundangku datang kemari, apa mungkin kau jatuh cinta padaku?"
"Jangan bercanda, bagaimana menurutmu dengan deklarasi perang raja iblis kesombongan."
"Kenapa kau bertanya lagi, bukannya itu menarik."
Ekpresi wajah Charlotte yang anggun dan tenang menjadi sedikit liar dan menakutkan, dia melihat keluar jendela selagi melebarkan tangannya.
"Aku selalu mencoba untuk terlibat peperangan yang besar, karena perjanjian perdamaian semuanya jadi tidak menyenangkan, namun...."
Dia berbalik ke arah Arthur selagi menyinggungkan senyumam sadis.
"Peperangan ini akan luar biasa, manakah yang akan bertahan sampai akhir umat manusia atau malah iblis, salah satu dari keduanya akan hancur haha... dan juga, Arthur ada yang harus kukatakan padamu saat ini."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Ayah kita sudah mati."
"Begitu."
"Kau sama sekali tidak sedih ataupun menangis."
"Jangan konyol memangnya dia pantas ditangisi."
Arthur berbalik untuk meninggalkan Charlotte yang kembali ke wajah dingin dan mematikannya.
"Selamat untuk tahtanya kalau begitu."
"Kau yakin bahwa aku yang akan mendapatkannya."
"Aku ragu ada yang mau melawanmu, aku tebak pasti mereka sudah meninggalkan Britania sejak lama."
"Mereka pergi ke negara lain, kau bisa menebaknya dengan mudah... karena inilah aku membencimu."
"Aku juga sama kakakku yang menawan."
Jauh dari keduanya Bellina telah menunggu kedatangan Arthur.
"Kakak menawan?"
"Jika sekilas penampilannya memang seperti itu."
"Dasar Siscon, karena sudah selesai di sini mari kembali. Kita juga harus masuk ke akademi."
"Saat di sana aku tidak akan menjadi pengawalmu."
"Omong kosong, mulai sekarang kau akan terus berada di sisiku."
"Rasanya seperti sebuah lamaran."
"Aku tidak akan terpancing dengan omonganmu itu."
__ADS_1