
Dengan berakhirnya ujian maka setiap siswa bisa menjalani kehidupan barunya di akademi, mereka diberikan seragam serta asrama untuk masing-masing orang, namun dengan kemewahan itu fakta sesungguhnya tidak bisa diabaikan begitu saja dimana beberapa orang beruntung bisa diterima dan sisanya harus menelan pil pahit.
Earlene telah duduk di kursinya saat pemuda Arthur duduk di depannya, mereka sekelas dan sama-sama rakyat jelata jadi tidak ada yang protes hal itu.
Sementara di tempat lain penuh kerumunan orang-orang yang memuakkan, yang mencari muka pada seorang murid Saint Agung serta pria petualang naik daun.
Earlene sesungguhnya tidak memperdulikan hal itu, yang dia inginkan hanyalah untuk bisa memiliki akses perpustakaan akademi ini.
Karena ini jam kelas, sosok Asmiranda hanya berdiri di luar bersama pelayan lainnya yang terdiri dari pria tua ataupun gadis muda.
Mereka tidak terus-menerus berdiri, ada ruangan di sebelah akademi yang bisa digunakan sebagai tempat menunggu hanya saja hampir semua pelayan ingin melihat bagaimana majikan mereka memulai kelas di hari pertamanya.
Arthur dengan santai memberikan potongan cokelat ke arah Earlene yang tampak menunggu bosan.
"Mau?"
"Terima kasih, tapi kuperingatkan aku ini menyukai gadis lagi."
"Tentu, kau memiliki ketertarikan menyimpang."
Sebenarnya hal itu bukanlah menyimpang karena pada dasarnya Earlene adalah pria. Dibandingkan Arthur, Earlene lebih terkejut dengan sosok pria ini.
Dia selalu bertingkah santai dan mencoba membaur seperti udara agar tidak ada siapapun yang memperhatikannya, dengan sikap itu bisa diasumsikan bahwa dia sebenarnya kuat bahkan lebih kuat dari dua siswa yang bodoh yang menganggap dunia berputar pada mereka.
Saat guru masuk mereka semua membubarkan diri, yang berdiri di depan kelas adalah sosok yang menjadi wali kelas mereka, seorang wanita dengan kuping hewan serigala serta ekor lebat di belakangnya, ia juga memiliki rambut hitam panjang.
Untuk penampilan sendiri dia mengenakan celana pendek serta sebuah jaket menutupi tubuhnya walaupun tidak tertutup baik. Dia tidak memakai apapun di balik jaketnya dengan kata lain, dia telanjang.
Pria bersorak sementara para gadis mengiris perih.
"Dadanya besar, apa bisa aku menyentuhnya nanti?" bisik Arthur.
__ADS_1
"Teruslah bermimpi anak muda, seperti pepatah lama teruslah berjalan di jalan setan."
"Bukannya itu artinya aku akan masuk neraka."
Guru itu duduk di atas meja selagi menyilangkan kakinya memamerkan seberapa putih dan mulusnya hal itu.
"Namaku Rosa, mulai sekarang aku orang yang ditunjuk untuk mengelola kelas unggulan ini, jika kalian membangkang aku tidak tahu melemparkan kalian ke luar kelas ini... jika padaku kalian tidak harus memanggilku ibu atau hal lainnya, cukup Madam, apa kalian mengerti."
"Yes Madam."
Ada senyuman dingin dan menakutkan di wajahnya namun bagi sebagian orang yang ada di kelas, itu bukan sesuatu yang menakutkan.
"Aku ingin tahu nama kalianlah jadi silahkan perkenalan diri kalian dari belakang."
Rosa menunjuk tepat ke arah Earlene.
"Kau bisa mulai lebih dulu."
Earlene bangkit selagi mengibaskan rambutnya.
Rosa menyeringai.
"Apa kau tahu di akademi ini kita tidak boleh meniru kelakuan raja iblis, terlebih raja iblis kesombongan.. kau cukup sombong dengan terang-terangan bersikap sepertinya."
"Aku hanya mengatakan fakta saja."
"Hehe begitukah."
Rosa melemparkan sebuah kapur ke arah Earlene itu melesat dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan kejutan udara namun bagi Earlene serangan tersebut hanya permainan hingga dia menangkapnya dengan baik.
"Hoh, kau benar-benar kuat... jika tidak ada dewan menyebalkan kurasa kau sudah berada jauh di atas murid Saint ini."
__ADS_1
Rosa mengalihkan pandangannya ke arah orang yang dibicarakannya dan dia jelas tampak kesal.
"Kau bisa duduk, selanjutnya."
Arthur diam-diam berinteraksi ke arah Earlene.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Aku hanya ingin tahu saja seperti apa guru kita, sepertinya guru kita tidak memihak bangsawan."
"Heh begitu, kurasa aku mungkin sedikit lega."
"Selanjutnya."
"Namaku Arthur, aku pengguna pedang biasa."
"Kau menaruh pedang di punggungmu dan juga apa itu dibuat dari perunggu?" atas pernyataan Rosa semua orang tertawa.
"Mau bagaimana lagi aku hanya orang miskin, membeli pedang mahal diluar kemampuanku ibu guru cantik."
"Apa kau sedang menggodaku?"
"Bagaimana jika ya?"
"Kuharapkan kau cukup kuat untuk memuaskan wanita dewasa sepertiku, lain kali berhati-hatilah."
"Earlene apa artinya itu?"
"Dia akan membunuhmu."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Sebaiknya jangan menyebutnya guru cantik atau sejenisnya, cukup Madam."
"Aku mengerti."