
Mereka menyewa penginapan dan memakai pemandian umumnya untuk membersihkan diri. Sekarang giliran Asmiranda yang membasuh punggung Earlene.
"Sudah kukatakan harusnya kau bisa menahan diri."
"Orang itu benar-benar menyebalkan, ada aturan dimana seorang pria dilarang menanyakan umur seseorang."
"Aku baru mendengar hal itu," ucap Earlene terkejut, dia adalah pria sebelumnya jadi masuk akal dia tidak mengetahui hal-hal seperti itu.
Setelahnya mereka memanjakan diri dengan berendam di pinggir kolam, para pengunjung wanita yang lain mulai berdatangan.
Earlene berdiri dengan semangat.
"Apa ini surga?"
"Anda sekarang seorang gadis juga loh."
"Sangat disayangkan tapi aku masih bisa menyentuh mereka."
"Ya ampun Anda tetap seperti dulu."
Setelah selesai mereka berisitirahat di kamar, Asmiranda sudah lebih dulu tertidur dengan perut berisi penuh makanan sedangkan Earlene disibukkan untuk membaca setiap dokumen yang berhubungan dengan akademi dan negara Prancis khususnya saat dia berhasil dikalahkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?"
Dia tidak bisa menemukannya bahkan di dalam selembaran koran kuno, satu hal yang bisa dilakukan hanya masuk ke dalam akademi dan melihat perpustakaannya.
Karena untuk pembelajaran sering kali salinan dokumen penting dari ibukota juga ditempatkan di dalam akademi. Itu memang tujuan pertama yang harus diraihnya.
Pagi berikutnya Earlene seperti biasa bangun dipelukan Asmiranda, dia sedikit mendorong tubuhnya untuk bangkit.
"Cepat bangun pemalas, waktunya bekerja."
__ADS_1
"Tapi ini masih pagi, aktivitas dimulai siang nanti."
"Memangnya kau tidak mau makan makanan yang kemarin kau lihat."
"Ah."
Dia bangkit secepat yang bisa dia lakukan.
"Mari pergi."
"Paling tidak kenakan pakaianmu dulu."
"Padahal Anda setiap malam menyusu padaku."
"Jangan membahas hal itu pokoknya cepatlah."
"Dimengerti," kata Asmiranda memberi hormat.
Di atas dahan Asmiranda mencari keberadaan hewan buruan mereka sementara Earlene di bawahnya bertanya ke arahnya.
"Bagaimana?"
Berbeda dari manusia atau monster hewan buas tidak memiliki mana, karena itu sulit bagi mereka untuk menemukannya dengan mudah.
"Ada lima ekor di depan."
"Di pinggir sungai kah, kalau begitu mari buru mereka."
Earlene melesat cepat, dia bersembunyi di balik pohon dan melihat para Boar yang sedang minum, dia menciptakan tombak-tombak es di udara kemudian meluncur untuk menusuk tepat di jantung mereka hingga roboh.
Asmiranda muncul di dekatnya.
__ADS_1
"Sesuai yang diharapkan dari Ojou-sama, Anda membunuh mereka sekali sekarang."
"Aku tidak ingin membuat mereka terlalu menderita, yang bisa aku berikan kematian cepat."
"Seperti itukah."
"Mari bawa mereka dan lain kali kita memburu lebih banyak."
"Aku ingin hamburger."
Setelah menukar perburuan, mereka bisa membeli hamburger untuk tiga hari.
"Ini enak sekali, aku mulai menyukainya."
"Kau bisa tambah lagi Asmiranda."
"Dengan senang hati."
Sudah cukup lama Earlene tidak melihat Asmiranda yang bersemangat, ia sempat memikirkan bagaimana jika dia belajar membuat hamburger serta makanan lainnya tapi hal itu bisa dipikirkannya nanti.
Ujian siswa akademi telah dimulai, ada dua orang yang menarik perhatian banyak orang.
Pertama seorang gadis dengan rambut pirang bernama Bellina Arna. Dia anak putri raja dari kerajaan Prancis yang mana menjadi murid satu-satunya Saint Agung Jeanny d'Arc, dia digadang-gadang akan menjadi pahlawan ke-502 Prancis.
Meski mereka telah mengalahkan raja iblis kesombongan Galius, mereka masih memiliki 6 raja iblis lainnya yang harus dihadapi serta berbagai masalah lainnya.
Dan kedua pemuda bernama Eligor Han, ia masuk lewat jalur rekomendasi dimana sebelumnya dia hanyalah seorang petualang berambut cepak yang cepat naik pangkat.
Sementara untuk Earlene dia diabaikan, ini sudah 10 kali dia menyapa seseorang dan tak digubris sama sekali.
"Akan kubunuh mereka Ojou-sama."
__ADS_1
"Sudah kukatakan jangan lakukan itu," katanya lemas.