Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak

Reinkarnasi Raja Iblis Menjadi Gadis Cantik Berambut Perak
Chapter 23 : Sebuah Undangan


__ADS_3

Bellina Arna telah kembali ke ibukota untuk menemui undangan mendadak dari kedua orang tuanya yaitu raja dan ratu Prancis.


Di dalam jamuan makan malam gurunya Jeanne d'Arc turut hadir, dia menjadi muridnya karena status di kerajaan ini namun Jeanne masih memperlakukannya sebagai mestinya seorang murid tanpa kerepotan ataupun mengeluh.


"Ngomong-ngomong ayahanda, kenapa aku harus cuti dari akademi?"


"Sebenarnya beberapa hari yang lalu konstatinovel telah dihancurkan, meski kita tidak terlibat dalam perebutan wilayah itu yang mengejutkan adalah bahwa pelakunya mengakui dirinya sebagai raja iblis kesombongan yang baru."


Bellina mengalihkan pandangan ke arah Jeanne yang diam, sepanjang diangkat menjadi Saint Agung dia tidak pernah membuka matanya lagi. Ornamen warna putih dari gaun pendetanya telah melekat dengannya hampir dia tidak terlihat seperti seorang kesatria yang selalu ia tampilkan di masa lalu.


Ia bahkan memutuskan untuk tidak menikah dengan siapapun.


Meski kedua matanya tertutup ia masih bisa mengetahui bagaimana ekpresi orang-orang, pergerakan mereka dan semua beda dihadapannya, terkadang Bellina sangat berharap bisa mirip dengannya, seorang dengan aura kebijaksanaan, keanggunan yang tidak bisa ditempa dalam waktu singkat.


"Terkadang hal ini memang terjadi, posisi raja iblis selalu diwariskan ke iblis lainnya," jawab Jeanne.


"Begitu, apa ayahanda memintaku untuk mengejarnya?"


"Untuk saat ini tidak usah."


Raja memberikan poster yang digambar tangan dimana di dalamnya menampilkan gadis kecil dengan topeng rubah dan ekor sembilan di belakangnya, bahkan bagi Bellina dia tidak akan tahu bahwa sosok di dalamnya adalah orang yang tempo hari dia ingin penggal.


"Jika bukan untuk mengejarnya lalu apa?"


Giliran ratu yang membalas.

__ADS_1


"Ada konferensi meja bundar yang akan dilaksanakan lima hari lagi, kami ingin kamu pergi ke sana sebagai perwakilan negara Prancis."


"Bukannya itu hal yang cukup berat."


"Mereka hanya mengadakan pembahasan soal raja iblis dan mereka mencurigai kita bahwa bersekongkol dengan raja iblis kesombongan."


"Itu mustahil."


Raja kembali mengambil alih pembicaraan.


"Ini hanya cara mereka untuk melimpahkan ketidakmampuan mereka melawan raja iblis kesombongan untuk menyeret negara Prancis terlibat dalam pengejaran raja iblis, sebenarnya mereka meminta nona Jeanne yang turut datang namun itu sangat beresiko ada kemungkinan mereka ingin merebut nona Jeanne yang satu-satunya Saint Agung yang dapat mengalahkan raja iblis kesombongan untuk keuntungan mereka, bagi kita nona Jeanne adalah orang yang paling berharga keberadaannya sampai tidak boleh keluar dari Prancis."


"Aku akan menerimanya," jawab Bellina.


Tepat saat pintu ruangan dibuka seorang berjalan masuk dengan santainya, dia memiliki rambut mangkuk dengan pedang perunggu di punggungnya.


Bellina tampak terkejut dengan keberadaannya yang jelas sudah dia kenal cukup lama, mereka satu kelas dan nyaris tidak pernah berbicara satu sama lain.


"Arthur."


"Yo, sebenarnya aku masuk ke akademi karena diminta ayahmu untuk mengawasimu."


"Bagaimana seorang rakyat jelata bisa melakukan tugas ini?"


"Dia sebenarnya anak bangsawan, jika dia mau harusnya ia menjadi raja Britania Raya."

__ADS_1


"Eh?"


Bellina jelas lebih terkejut dengan fakta tersebut, sementara Arthur menaikan bahunya lemas.


"Itu hanya masa lalu, aku sekarang hanya rakyat jelata, sebagai ganti Anda membiarkan Ibuku tinggal damai di negaranya sendiri aku senang bisa membantu kerajaan."


"Kita tidak bisa mempercayainya terlebih dia mungkin lebih lemah dariku dan tak pantas menjadi pengawalku," teriak sang putri menunjuk padanya.


"Perkataan Anda lebih beracun dari yang saya ingat di kelas, apa semua itu hanya topeng?"


Bellina mundur atas pernyataan yang cukup berani itu, sebelum perkataan lain masuk ke telinganya.


"Bagaimana kalau kita berdua bertarung, oh ngomong-ngomong nona Jeanne sangat cantik apa kita bisa minum teh bersama?"


"Itu sepertinya bagus."


"Guru?"


Jeanne berdeham sekali lalu menambahkan.


"Kalian berdua baru datang jadi lebih baik beristirahat dulu sebelum duel."


"Dengan senang hati aku menerimanya."


Arthur hanya datang 30 menit lebih awal.

__ADS_1


__ADS_2