
Selepas pulang sekolah, Earlene mengurung dirinya di dalam perpustakaan. Dibantu Asmiranda dia telah menumpuk banyak dokumen di atas meja.
"Apa kau menemukan sesuatu, Asmiranda?"
"Tidak, hanya ada majalah dewasa dan juga beberapa buku usang."
"Amankan majalah dewasanya, aku yakin beberapa murid menyembunyikannya di sana."
"Hoh, memang harta karun, dadanya besar.. Earlene kau harus melihatnya."
"Kau ini maniak kah."
Arthur jelas lebih suka mengikuti kemanapun Earlene pergi, dia sedikit kesal harus diikuti tapi disaat yang sama mungkin ini tidak terlalu buruk juga.
Selama ini raja iblis kesombongan hanya melakukan hal sendiri bahkan dibandingkan mengandalkan orang lain dia selalu mencoba untuk menyelesaikan semuanya sendirian, persepsi hal itu mungkin seharusnya dirubah.
"Aku menemukannya."
Entah Asmiranda atau Arthur mereka mengintip dari belakang.
"Ini berita lama yah, Armada tentara Spanyol yang dihancurkan oleh raja iblis kesombongan sebelum mendarat di Prancis sebagai pasukan bantuan, memangnya ada apa?" tanya Arthur tidak menerima tanggapan apapun kecuali Asmiranda yang terkejut.
"Tuan?"
__ADS_1
"Sudah jelas itu bukan aku, aku tidak ingat menghancurkan tentara Spanyol apalagi Prancis dan membantu Britania untuk melakukan invasi semacam ini."
"Apa maksud kalian? kalian berkata seolah raja iblis kesombongan adalah orang yang palsu."
Asmiranda dan Earlene saling menatap satu sama lain dan akhirnya setuju untuk mengatakannya.
"Aku adalah raja iblis kesombongan, banyak hal yang terjadi tapi aku berubah jadi seorang gadis sekarang."
"Ini benar-benar tidak masuk akal, tapi akan kucoba mempercayainya."
"Kau tidak terkejut?"
"Aku hanya memikirkan semua hal secara rasional kekuatanmu besar untuk gadis berusia 10 tahun dan juga pelayanmu mengenakan cincin yang bisa menyembunyikan aura iblis, aku hanya mengira saja."
Orang ini jenius kah? teriak Earlene dan Asmiranda di dalam pemikirannya sendiri.
"Sepertinya ada yang memfitnah tuan hingga pihak gereja ortodoks suci menargetkannya untuk dibunuh, bahkan mereka tak segan-segan mengirim banyak pahlawan ke markas kami."
"Itu memang aneh jika kalian tidak melakukan apapun."
Earlene menciptakan sebuah bongkahan es di tangannya kemudian mengarahkan ujung runcing di leher Arthur.
"Rasanya tidak adil jika hanya indentitas kami yang diketahui sebaiknya kau juga melakukan hal sama agar pertukaran kita setara."
__ADS_1
"Kau benar-benar raja iblis, seperti yang kubilang aku memang ingin tinggal bersama ibuku, ibuku seorang selir raja Britania, karena perebutan hak waris ia memilih untuk meninggalkan istana dan aku juga mengikutinya beberapa bulan berikutnya sampai sekarang."
"Perebutan hak waris, bukannya tuan seharusnya itu diberikan pada anak ratu?"
"Britania sedikit unik Asmiranda, mereka menentukan hak waris dengan cara melakukan kontes dan siapa yang menang mereka bisa mengambil tahta tak terkecuali kau anak selir ataupun anak pertama."
"Ada hal seperti itu juga."
"Kami memandang kekuatan segalanya karena itulah kami mencoba menginvasi tanah lainnya, aku benar-benar minta maaf."
"Aku iblis sebaiknya minta maaf pada orang yang tepat."
"Benar juga," balas Arthur tersenyum pahit.
"Mari kesampingkan konflik tentang peperangan antar manusia, yang ingin kuketahui siapa yang mencoba melibatkanku dalam peperangan semacam ini?"
"Mungkin orang yang tidak suka denganmu."
"Banyak orang yang tidak suka pada tuan, mungkin itu sekitar setengah populasi ras iblis."
"Itu menganggumkan."
"Aku tidak peduli dengan semacam itu."
__ADS_1
Earlene mulai membuka tiap halaman, kecuali kerusakan yang dilakukan raja iblis tidak ada apapun informasi yang menjanjikan, namun ada satu tempat di mana raja iblis kesombongan menjadikan tempat itu sebagai markas utama.
Jika pergi ke sana mungkin bisa mendapatkan sebuah petunjuk.