
Tubuh Eligor mulai membesar dua kali lipat, bukan, tiga kali lipat, bulu hitam tumbuh di setiap bagian dirinya bersamaan wajahnya yang sedikit demi sedikit menyerupai gorila hitam dengan taring besar menyeruak dari mulutnya.
Dia seutuhnya iblis.
Dia membuang senjatanya lalu mengirimkan sebuah pukulan tepat di wajah Bellina yang mana segera ditahannya, seringai muncul di wajah Earlene.
Dia cukup kuat juga.
Arthur tak tinggal diam karena itulah dia maju ke depan.
Dia mengincar bagian leher Eligor sayangnya, Eligor tidak cukup bodoh membiarkannya hingga dia melompat untuk menghindarinya, kekuatan fisiknya jelas turut meningkat juga.
"Sudah kukatakan aku bisa mengalahkannya sendirian," protes Bellina.
"Dengan wujud iblis seperti itu jelas kau tidak akan mampu, biar aku juga ikut serta denganmu."
Earlene menimpali.
"Benar apa yang dikatakan Arthur, manusia tidak akan kuat hanya seorang diri, mereka perlu rekan, teman, atau bahkan kawan untuk melakukan segala sesuatu hal. Bukannya itu bagaimana manusia bisa bertahan dari generasi ke generasi dalam pertempuran mengerikan."
"Seperti biasa kau mengatakan hal berbelit-belit, tapi kenapa kau duduk di sana selagi meminum teh."
"Aku hanya ingin melihat bagaimana kalian mengalahkan iblis itu."
__ADS_1
Bellina mendecapkan lidahnya dan berpikir akan menerima bantuan Arthur yang telah siap dengan excaliburnya.
"Dia memiliki kekuatan serta gerakan gesit, jangan sampai lengah Bellina."
"Harusnya aku yang mengatakan itu."
Arthur dua langkah lebih maju dibandingkan Bellina, dia mengayunkan pedangnya yang mana ditahan salah satu punggung tangannya.
"Kekeke~"
Dia tertawa dengan aneh sebelum menghempaskan Arthur dengan kekuatannya, di sisi lain Bellina juga telah muncul di arah berbeda, pedang diayunkan dan itu sedikit melukai lengan musuhnya.
Dia mengarahkan tangannya untuk menembakan api suci. Gorila iblis membuka mulutnya untuk menghisapnya ke dalam mulutnya.
"Dia bisa menyerap sihir."
"Sungguh konyol, kau memberikan jiwamu pada iblis."
"Akui saja Bellina, kita manusia tidak akan memiliki kesempatan melawan raja iblis... Di masa lalu Saint Agung mengalahkan raja iblis kesombongan hanya keberuntungan karena sebelumnya Prancis telah menggempurnya dengan ratusan pahlawan."
Setengah benar dan setengahnya salah, apa yang dipikirkan Earlene sekarang.
"Itu bukan hanya sebuah keberuntungan, guruku memang kuat."
__ADS_1
"Jika aku bisa mengalahkanmu perkataanku tidak salah kan."
"Lihat saja nanti."
Arthur telah muncul di atas kepala Eligor, dia mendaratkan kaki di bahunya kemudian mengirim tusukan mengenai kepalanya. Itu menancap dengan baik namun Eligor tetap masih hidup, dia bahkan mencengkeram kaki Arthur kemudian melemparkannya hingga menembus deretan pepohonan layaknya sebuah bola baseball.
Bellina juga menyerang, seolah disengaja Eligor membiarkan tebasan melukai tubuhnya, entah seberapa tubuhnya terpotong-potong dia tidak mati.
Jari-jarinya berserakan bersama jeroan perutnya, lehernya terpenggal dan darah merah yang kental membanjiri seluruh kakinya, saat itu juga tubuhnya kembali sedia kala, di waktu bersamaan di menendang tubuh Bellina hingga menghempaskannya jatuh di sisi Earlene yang meminum tehnya dengan santai.
"Apa aku harus membantu juga?" ucap Earlene jahil.
"Tidak perlu, dia menghina guruku... aku akan puas jika membunuhnya sendiri."
"Itu baru semangat, kelemahan iblis adalah jantungnya... jantung itu bisa berpindah-pindah di dalam tubuhnya, karena itulah pastikan kau menikamnya atau menghancurkannya."
Bellina sedikit terkejut bagaimana Earlene mengetahui banyak soal iblis.
Menebak reaksinya.
"Jangan bilang kalian tidak tahu hal itu... yah meskipun hanya beberapa iblis yang seperti itu."
"Kami tidak tahu."
__ADS_1
Earlene sudah mulai bisa menebaknya, Merlin kau bekerja sama dengan raja iblis nafsu, haha sepertinya sesama manusia juga tidak luput dari pengkhianatan.
Sifat manusia selalu menarik.