
Seperti namanya hutan monster adalah hutan yang dipenuhi monster, Bellina dan kedua orang lainnya harus menghentikan kereta mereka untuk melawan mereka yang merupakan sekumpulan tupai dengan mata merah.
Mereka tidak makan biji-bijian melainkan daging dan ukurannya juga 2 kali lipat dari yang kebanyakan orang kenal. Mereka bergerak cepat bahkan ketika taring dan kukunya diarahkan pada musuhnya itu sangat mematikan.
Setelah membunuh 10, Bellina berkata ke arah Rosa yang bertarung di sisi lain.
"Apa kau yakin ini jalan termudah untuk sampai ke Neverland?"
"Tentu, walau aku bilang termudah tetap saja cukup merepotkan."
Bellina bisa menyimpulkan bahwa ada rute-rute lebih berbahaya selain yang mereka lalui sekarang. Puluhan tupai melompat padanya dan dalam sekejap mereka terbakar menjadi debu.
"Ugh, kau tidak ada ampun," sindir Rosa.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni hal konyol... Ignis."
Kawah berdiameter 50 meter terbentuk saat api berwarna putih melahap mereka tanpa sisa. Hanya dengan kengerian itu semua monster yang mendekat mulai ketakutan, Arthur yang berada di belakang mengawasi menarik nafas panjang dan bergumam pelan.
"Benar-benar kekuatan yang luar biasa."
Rosa menyikut perutnya.
"Kau tidak mencegahnya atau menghentikannya agar tidak bertindak berlebihan."
__ADS_1
"Biarkan saja, aku hanya bayangan yang akan mengikuti jalan cahaya yang ditunjukkan olehnya."
"Kau terlalu banyak membaca buku."
Mereka terus menghadapi berbagai macam monster yang berdatangan tanpa henti, Arthur menebaskan pedangnya menciptakan celah di antara pepohonan, di saat yang sama Rosa membuat tanaman yang melilit mereka.
Serangannya terkesan biasa namun dia bisa membunuh mereka dengan mudah, tak lama kemudian ketiganya sampai di sebuah tempat yang disebut Neverland, Neverland tidak berada di dunia ini melainkan dunia yang memiliki ruang dan waktu berbeda.
Untuk memasukinya seseorang harus memasuki pohon besar di mana bagian tubuhnya adalah sebuah gerbang masuk.
Di depannya tampak seorang wanita berambut putih duduk bersila selagi memeluk pedangnya.
Ketika dia membuka mata, Bellina menyadari bahwa ia memiliki mata merah Ruby, mengenakan seragam akademi dan penampilannya seperti seragam yang dikenakan Bellina dan Arthur, yang paling mencolok darinya adalah telinga panjang yang menandakan dia seorang elf.
"Aku tidak tahu sejak kapan dia berada di sini tapi penampilan, wajah, postur dan ekpresinya tetaplah sama."
"Hmmm... kamu gadis kecil waktu itu kah, kamu sudah tumbuh besar."
"Sudah sejak lama sekali Aura."
"Kamu masih mengenalku... itu, namamu siapa?"
"Kau benar-benar buruk untuk mengingat nama seseorang."
__ADS_1
"...."
"Namaku Rosa."
"Rosa hmmm jadi apa yang kau butuhkan di sini?"
"Bukan aku melainkan gadis kecil ini."
"Gadis imut itu kah, kita memiliki seragam yang sama... bagaimana sekolah kalian, apa menyenangkan?"
Bellina ingin cepat membahas topik yang diinginkannya namun ia pikir itu kurang sopan jika dia melakukannya.
"Sekolah baik-baik saja, tempat itu cukup menyenangkan dan Rosa yang kau panggil adalah seorang guru juga."
"Begitu, aku merasa senang mendengarnya... sekolah yang kubuat benar-benar bisa diterima banyak orang, ujiannya sangat ketat pasti banyak yang orang kecewa setelah memasukinya dan gagal."
"Sekolah yang kubuat?"
"Yah itu wajar, karena aku meminta tidak ada siapapun yang memberitahukan siapa pendirinya... akulah yang membuat sekolah tersebut."
Bellina mengubah pertanyaan.
"Jika itu sekolahmu kenapa kau malah berada di sini?"
__ADS_1
"Alasannya yah," ketika dia mengatakannya dia tersenyum bersama dedaunan yang berterbangan di sekelilingnya.