Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Menunggu Keputusan Arifa


__ADS_3

Farhan tampak kesal dan seolah tidak terima dengan dengan apa yang barusan ia baca. Hatinya seakan tidak rela jika Arifa harus melakukan sesuai apa yang tertulis dalam berkas itu.


Melihat kedua anaknya terus menatap seolah menuntut sebuah penjelasan. Zakaria pun akhirnya angkat bicara.


"Jadi, laki-laki yang kamu maksud itu anaknya pak Brama. Namanya Danish. Sebenarnya dua tahun yang lalu, pak Brama menaruh investasi besar pada perusahan Papah. Tahun pertama, berjalan dengan lancar. Tapi, di tahun kedua pasar semakin merosot, dari bulan ke bulan mengalami kerugian yang cukup besar. Usaha pun udah Papah lakuin semampu Papah, dan kerugian yang udah sangat membengkak itu semakin sulit Papah bayarkan ke pak Brama. Papah gak tahu lagi harus bagaimana, para investor lain juga udah melepaskan diri dari perusahaan Papah. Dan kali ini ... Papah juga kaget saat pak Brama memberikan surat perjanjian itu melalui anaknya ... "


"Selama ini, Papah mencoba bertahan supaya perusahaan gak sampai dijual. Mungkin bisa kalau perusahaan dijual, hutang kerugian ke pak Brama bisa terlunasi. Kalau sampai perusaan dijual, Papah gak tahu harus mendapatkan uang darimana?"


Arifa hanya terdiam. Karena selama ini ia tidak tahu menahu tentang apa yang dialami papahnya di perusahaan.


Terkecuali Farhan. Memang saat beberapa hari yang lalu ia pergi ke perusahaan papahnya, Zakaria sempat menceritakan terkait kerugian yang harus di bayarkan kepada pihak pak Brama.


"Pah, jangan Arifa deh. Farhan aja," bujuk Farhan supaya adiknya bisa melanjutkan sekolahnya.


"Dia hanya minta anak perempuan Papah, Han. Setelah ini keputusan berada di tangan Arifa," ucap Zakaria yang sudah merasa pusing memikirkan jalan keluar ini sejak lama.


"Pah, Arifa masih sekolah! dia juga mau lanjut kuliah. Apa Papah tega mematahkan cita-cita anak Papah sendiri?" Nada bicara Farhan mulai meninggi, ia seolah tidak perdulikan Zakaria yang masih sakit itu.


Entah mendapat kekuatan dari mana, Zakaria bangun dan duduk di atas tempat tidur, sambil membuka selang oksigen yang sejak tadi terpasang di hidungnya.


"Papah udah sempat bernegosiasi dengan baik ke Danish supaya Arifa bisa menyelesaikan sekolahnya lebih dulu. Dan akhirnya dia pun menyetujuinya ... " ucap Zakaria yang tidak kalah meninggi nada bicaranya, emosinya mulai tersulut. "Arifa, setelah selesai sekolah nanti, kamu pergi ke kediaman pak Brama. Papah udah kasih foto kamu ke Danish lewat akun Whatsapp-nya," sambung Zakaria kepada Arifa.


Sedangkan Arifa yang sejak tadi terdiam dengan emosi yang ia tahan sambil menatap ke arah lain, kini kedua matanya mulai memerah sambil menoleh ke arah papahnya.


"Rifa gak mau! Papah sama Mamah, sama-sama jahat! Rifa benci kalian berdua!" bentak Arifa yang menolak mentah-mentah sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu keluar dari kamar tempat Zakaria di rawat.


Farhan mengusap kasar wajahnya dengan sebelah tangannya berkacak pinggang. Sementara Zakaria tiba-tiba merasakan sakit kepala yang sangat hebat serta sesak di dadanya.


BRAK! Zakaria pingsan seketika. Farhan yang melihat itu langsung menekan tombol panggilan untuk perawat.


Tak lama, perawat pun datang dan mulai memeriksakan kondisi Zakaria. Sedangkan Farhan merasa tidak tega untuk tidak memperdulikan papahnya terlepas dari rasa marah yang tadi sempat memanas.


Satu menit ... dua menit ... tiga menit ... tidak ada perubahan pada tubuh Zakaria.


"Biar saya panggilkan dokter dulu ya, Pak," ucap perawat itu kemudian berjalan yang setengah berlari keluar dari kamar untuk memanggil dokter.


Sesaat kemudian, dokter beserta perawat tadi datang bersamaan sambil mendorong bankar masuk ke dalam kamar rawat Zakaria.


"Dok tolong segera tangani papah saya ya!" pinta Farhan yang sangat cemas.


"Anda bisa tunggu di luar tirai ya," ucap dokter dan Farhan pun mengangguk paham.


Dokter berusaha sebisa mungkin mengembalikan kesadaran Zakaria yang kondisinya mulai semakin menurun. Farhan mondar-mandir di balik tirai yang masih tertutup itu dengan perasaannya yang gelisah.


Farhan pun mencoba menghubungi Arifa melalui ponselnya. Namun ternyata nihil. Arifa tidak kunjung menjawabnya.


SREEEET. Tirai pun terbuka.

__ADS_1


Pertama kali yang Farhan lihat, Zakaria. Kedua alisnya mengkerut, merasa heran sebab papahnya masih terbaring tak sadarkan diri.


"Gimana, Dok?" tanya Farhan.


"Mohon maaf, Pak saya sudah berusaha sebisa mungkin, tapi ... " dokter menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. "Ayah Anda kini telah tiada."


Bak seperti sudah jatuh lalu ketiban tangga. Air mata Farhan berderai tanpa permisi. Ia tidak percaya dengan yang dialaminya saat ini.


Seorang ibu yang pergi meninggalkannya, dan sekarang ayah juga pergi selama-lamanya.


"Saya turut berduka cita, semoga Anda dan keluarga bisa diberi kesabaran dan kekuatan setelah ini," ucap dokter sambil menepuk bahu Farhan.


"Iya, Dok."


"Kalau gitu saya permisi dulu, nanti ada perawat yang akan mengurusnya," pamit dokter sebelum akhirnya pergi dari kamar itu. Farhan hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah dokter pergi, perawat mulai melepas alat-alat medis yang sempat terpasang ditubuh Zakaria. Farhan mencoba menelepon Arifa kembali.


...----------------...


Disebuah taman yang letaknya tak jauh dari rumah sakit, kini Arifa berada. Arifa duduk di kursi yang jauh dari keramaian taman itu. Tatapan yang kosong membuatnya tidak memperdulikan ponsel yang sejak tadi terasa bergetar di dalam saku celananya.


Hingga saat Arifa sudah merasa lebih tenang, ponsel yang terus-terusan bergetar itu pun akhirnya ia keluarkan dari dalam saku celana. Entah panggilan ke berapa yang Farhan lakukan saat ini. Arifa pun menjawabnya.


"Fa, kamu dimana? cepat ke rumah sakit sekarang!" titah Farhan dengan suara yang terdengar bergetar di telinga Arifa.


"Ada apa sih, Kak?"


"Iya."


Setelah panggilan berakhir, Arifa bergegas pergi dari taman ke rumah sakit. Semakin dekat ke rumah sakit, tiba-tiba perasaannya pun tidak enak. Tanpa sadar iapun bertanya-tanya dalam hatinya. "Ada apa ini?"


...----------------...


Arifa membuka pintu kamar tempat papahnya di rawat. Dirinya terkejut dengan sosok yang tadi sempat ia bentak kini telah terbaring dengan sekujur tubuh yang telah ditutupi oleh selimut.


Tubuh Arifa melemas seketika, dengan langkah gontai, ia menghampiri Farhan yang sedang menangis duduk di samping Zakaria.


"Kak ... " panggil Arifa dengan lirih saat ia telah berdiri di samping Farhan. "Kenapa bisa kayak gini, Pah?" tanyanya kemudian.


Farhan menggelengkan kepalanya, baik Farhan maupun Arifa sejatinya masih belum siap kehilangan Zakaria.


Arifa terduduk di lantai dengan kedua tangan berpegangan pada pinggir tempat tidur. Tangisnya pecah seketika.


"Papah kenapa pergi? Maafin Rifa udah bentak Papah tadi. Rifa belum siap kalau harus pergi dari Papah. Tapi kenapa sekarang Papah yang malah ninggalin Rifa."


"Bangun, Pah ... bangun ... jangan pergi ... hu u u u ..."

__ADS_1


Farhan mencoba membangunkan Arifa supaya tidak duduk di lantai. Lalu memeluk adik semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.


"Setelah ini, keputusan tetap ada di tanganmu, Fa. Menyerahkan diri atau kita jual perusahaan papah."


Arifa yang masih menangis, belum bisa berpikir dengan jernih. Rasa kehilangan yang sangat mendalam, sungguh rasa yang sangat dibenci olehnya.


...----------------...


Setelah pemakaman selesai, Arifa dan Farhan pulang ke rumah. Begitu pula dengan Lina dan keluarnya ikut dengan mereka.


"Rifa, jangan pernah ngerasa gak punya orang tua ye. Bibi sama bapaknye Dinda Zaki juge orang tua kalian. Kalau ada butuh ape-ape ke rumah Bibi aje, sebisa mungkin bakal Bibi bantu," ucap Lina saat dirinya tengah duduk bersama di ruang tamu.


"Iya, Bi. Makasih ya."


"Abis selesai sekolah, emangnye Rifa mau kemane? lanjutin kuliah?" tanya Lina.


"Gak tahu, Bi. Belum Rifa pikirin lagi."


"Ya udeh, mending sekarang ... Rifa fokus aje sama kelulusan ye. Biar hasilnya memuaskan, sukur-sukur bisa kuliah lewat jalur beasiswa," ucap Lina yang mencoba memberi semangat pada Arifa.


"Iya, Bi. Aamiin."


...----------------...


...^^^Visual Tokoh^^^...



...Arifa & Zakaria...



...Sinta & Arifa...



...Farhan...



...Lina & Suaminya...



...Dinda & Arifa...


__ADS_1


...Zaki...


...Bersambung ......


__ADS_2