
Entah harus bahagia atau sedih dengan kedatangan Arifa ke kantor untuk memberi kejutan di hari ulang tahunnya. Terlebih setelah mendengar ucapan bak bendera putih yang sedang dikibarkan oleh sang istri saat ini.
Perempuan itu sudah menyerah dengan perjuangannya selama ini. Terlebih telah merasa tidak dihargai setelah kehilangan janin yang ada di kandungannya.
Baru saja Arifa hendak melangkahkan kaki, tangan Danish lebih dulu mencekal lengannya. "Sayang ... bisakah beri aku waktu sebentar lagi. Aku sedang berusaha menerima keadaan ini. Sulit sekali rasanya aku menjelaskan semuanya. Please, aku mohon." Wajah laki-laki itu tampak sedih, matanya pun mulai berkaca-kaca.
Hembusan napas kasar pun dikeluarkan oleh Arifa. "Lepas." ucapnya dengan tegas, kemudian menghempaskan tangan Danish daru lengannya lalu membalikkan tubuhnya kembali.
"Butuh waktu sampai kapan?" tanya Arifa dengan kedua matanya yang melebar dan bibirnya mulai bergetar. "Jangan terlalu banyak memberiku harapan, kalau akhirnya kamu sendiri yang menjatuhkan ku."
Danish melangkahkan kakinya, kini tidak ada jarak sama sekali diantara mereka. Laki-laki itu bagai tersengat listrik, dan langsung memeluk istrinya. Arifa pun sontak terkejut, namun dia tidak langsung membalas pelukan itu.
"Maaf ... aku minta maaf. Tolong pikirkan kembali ucapan mu tadi. Aku tidak marah sama sekali padamu. Aku hanya kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa menjagamu serta calon anak kita. Aku begitu takut dengan sebuah kehilangan yang sangat membuatku trauma. Tolong, ku mohon. Tetaplah bersamaku ... Walau aku seperti ini, tidak pernah terbesit sedikitpun dalam niatku untuk berpisah denganmu. Sejujurnya aku merasa bersalah telah mengabaikan mu di masa tersulit mu kemarin."
Arifa masih enggan membalas pelukan suaminya yang semakin erat itu. Bahkan bahu yang kini tempat menopang kepala Danish telah dibasahi dengan air mata laki-laki itu. Arifa mulai berpikir ulang. Nada suara suaminya itu begitu memilukan. Terlebih pada saat Danish mengungkapkan permintaan maaf.
Perlahan kedua tangan Arifa diangkat dan memeluk suaminya. Tidak salah bukan untuk seorang istri memberikan kesempatan kedua pada suaminya?
"Bukti apa yang dapat aku terima supaya aku bisa memaafkan mu?" tanya Arifa. Nada bicaranya masih terdengar dingin. Hatinya masih sulit menerima ucapan Danish barusan. Kata maaf itu belum bisa mengobati luka yang ia rasakan.
"Aku akan berubah, tapi aku gak bisa janji ... aku cuma manusia biasa, kapan saja bisa melakukan kesalahan. Tapi jika hatimu masih terbuka untuk memberi maaf padaku, aku akan berusaha memperbaikinya," jawab Danish yang begitu sangat percaya diri.
__ADS_1
Brak.
Pintu ruangan itu seketika terbuka.
"Nona jangan main masuk sembarangan!" tegas Rinto yang berusaha mencekal tangan perempuan yang berhasil mendobrak pintu bosnya. Sampai laki-laki itu merasa bersalah sekaligus terharu melihat bos dan istrinya sudah akur kembali.
Danish dan Arifa pun melihat ke arah pintu itu bersamaan. Dengan lengan Danish yang masih melingkar mesra di pinggang istrinya.
"Rinto, bawa perempuan itu keluar. Kalau bisa ajak satpam untuk menyeretnya!" titah Danish sambil memandang tidak suka ke arah Amora yang masih berdiri di gawang pintu.
Rinto mengangguk sopan, "Baik Pak."
"Eh tunggu! saya mau ketemu sama bos mu itu!" teriak Amora ketika lengannya berhasil ditangkap oleh Rinto. Namun Rinto tidak langsung patuh sampai Danish memberikannya izin.
"Nanti akan aku jelaskan," jawab Danish lalu tersenyum dengan kondisi wajah yang masih ada sisa air mata. Lalu menatap Rinto. "Bawa masuk dia To. Saya ingin tahu apa yang akan dikatakan olehnya," perintahnya kemudian.
Amora mencebik lalu memutar malas kedua bola matanya. "Lepasan dulu gak ini tangannya? saya bisa jalan sendiri!"
Rinto pun melepaskan cekalan tangannya nya dan membiarkan Amora berjalan masuk ke ruangan Danish, ia pun mengekorinya lalu menutup pintu ruangan dan berjaga di depan pintu.
"Nish, bukannya kamu bilang akan keluar sama aku siang ini? kenapa jadi mesra-mesraan dengan istrimu?" tanya Amora. Pandangan perempuan itu sangat manis pada Danish. Sedangkan pada Arifa, ia begitu sinis.
__ADS_1
"Sekarang udah lengkap ya, coba jelaskan versi kalian masing-masing. Ada hubungan apa kalian ini? Apa kalian sedang merencanakan sesuatu di belakang saya?" Arifa berusaha keras melepaskan tubuhnya dari tangan Danish. Kini kedua tangannya bersilang dada, dan berdiri diantara Danish dan Amora.
"Dia yang punya maksud lain padaku," jawab Danish menatap Amora dengan penuh kebencian. Sementara itu, Amora terbelalak.
"Gak! dia justru yang mendekati saya duluan sampai sekarang saya jadi hamil," ucap Amora yang tidak mau kalah.
Hati Arifa seketika mendidih. Panas. Apalagi setelah mendengar Amora berkata hamil. "Mana buktinya kalau kamu hamil? bisa ikut sama saya sekarang ke dokter kandungan?" cecarnya yang telah tersulut emosi.
"Amora! saya gak pernah sedikitpun nyentuh kamu ya! kenapa kamu jadi fitnah saya seperti ini?" Tiba-tiba suara Danish meninggi. Laki-laki itu tidak terima.
Rinto yang melihat pemandangan yang ada di hadapannya semakin panas segera menghampiri mereka. Mencoba melerai dan meredam di hati mereka masing-masing.
"Permisi. Maaf bukan saya bermaksud ikut campur. Disini saya mau meluruskan," ucap Rinto. Seketika kedua mata Danish seolah memberi isyarat supaya Rinto membantunya menjelaskan kepada kedua perempuan ini terutama istrinya.
"Alah! kamu jangan sok jadi pahlawan!" kecam Amora yang sebenarnya hatinya mulai dirundung keresahan.
"Setelah Pak Danish memutuskan hubungannya dengan Nona Amora. Semua yang menyangkut kerja sama antara mereka telah diputus." Lalu Rinto menghadap Amora yang diselimuti dengan amarah. "Namun sekarang baik saya ataupun Pak Danish merasa heran padamu Nona, ketika Anda mengirimkan proposal kerja sama lagi. Jangan kira selama ini kami tidak tahu maksud terselubung dari kerja sama yang Anda ajukan saat ini," pungkas Rinto demikian.
"Cih! jangan sok tahu kamu. Cuma jabatan jadi sekertaris aja sok sok an kayak detektif," cibir Amora. Namun tidak ditanggapi oleh Rinto.
"Apa Anda mau saya beberkan buktinya sekarang? atau mulai detik ini jangan pernah muncul lagi di dalam kehidupan saya. Apalagi mengganggu rumah tangga saya," tegas Danish memberikan pilihan dengan ancaman yang membuat Amora mati kutu. Tatapan laki-laki itu bagaikan ujung tombak yang seketika menusuk jantungnya.
__ADS_1
"Sumpah! saya benci kalian semua! kalian yang harus enyah dari dunia ini! hahahaha." Amora seperti kesetanan. Rinto segera memanggil rumah sakit khusus kejiwaan. Karena setelah mendapat info yang akurat, kalau Amora sengaja di bawa kabur oleh ayahnya dari rumah sakit kejiwaan itu untuk sebuah ambisinya menguasai harta kekayaan yang dimiliki oleh Danish. Sebab, bisnis keluarganya saat ini telah bangkrut dan meninggalkan hutang yang begitu banyak.
...Bersambung ......