
"Loh Tante barusan katanya pergi, ada yang ketinggalan ya?" sapa Bianka sambil beranjak dari tempat duduknya, begitupun dengan Arifa.
Riska menghampiri Bianka lalu memberinya pelukan. "Iya nih, ada yang kelupaan Tante bawa. Kamu udah lama disini Bianka?" jawabnya lalu bertanya kembali.
"Oh ... enggak kok Tan, baru aja. Oh iya, ini teman Bianka, namanya Arifa," jawab Bianka lalu memperkenalkan Arifa pada Riska.
Tanpa diduga, Riska memperhatikan Arifa sangat lekat. Ia seolah sedang menerka-nerka. "Kamu ... anaknya Sinta bukan?" tanyanya pada Arifa.
Hah? kok tante Riska ini tahu sih.
"Iya Tante, kenapa Tante bisa tahu?" Kali ini Arifa yang bertanya. Mungkin kalau dari wajah sekilas memang ada kemiripan dengan mamahnya. Tapi keseluruhan, wajah Arifa lebih mirip ke papahnya.
"Dia satu geng sama Tante, besok kita juga mau berangkat ke Bali. Biasa arisan sosialita gitu, dan ... " jawab Riska dengan lincah, namun tiba-tiba ia tidak meneruskan ucapannya. Arifa sangat menunggu kata-kata yang akan diucapkan oleh Riska setelahnya. "Dan kamu mirip dengan Sinta."
Arifa menarik napas panjang, ia mengira akan memberitahukannya tentang Sinta. Tapi dugaannya salah. Arifa hanya membalas ucapan Riska dengan senyuman.
"Tante ke dalam dulu ya, buru-buru soalnya," pamit Riska kemudian pergi dari hadapan Bianka dan juga Arifa.
Tak lama berselang, Riska pun keluar bersama pelayan yang tadi ingin mengambil gaun pesanan Bianka.
"Tante tinggal dulu ya."
"Iya, hati-hati dijalan ya Tante," ucap Bianka, sementara Arifa hanya terdiam sambil menghempaskan bokongnya di sofa.
"Nona, silahkan dicoba terlebih dahulu gaunnya," pinta pelayan dan Bianka mengangguk patuh.
"Titip tasku ya, Fa," ucap Bianka kemudian pergi ke ruang ganti pakaian. Arifa mengangguk pelan.
"Iya, Ka."
Ketika Bianka pergi, ponsel Arifa berdering lalu mengeluarkannya dari dalam saku celana. Tertera nomor asing pada panggilan itu. Arifa pun menjawabnya.
"Hallo?" sapa Arifa sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Arifa, kamu belum pulang? kok motormu masih ada ?"
Suara laki-laki yang bertanya padanya, seketika sudah bisa ditebak. Siapa lagi kalau bukan Eliezer. Arifa melihat waktu pada jam dinding yang terpasang di butik, ia pun mengerutkan keningnya.
Udah hampir jam enam. Kenapa itu orang masih ada di parkiran kampus? apa dia nungguin aku?
"Kenapa memangnya?" tanya Arifa dengan santai.
"Aku mau ngomong sesuatu langsung tadinya sama kamu. Kamu dimana memangnya?" jawab Eliezer dan langsung memberikan pertanyaan kembali.
__ADS_1
"Aku lagi di luar sama temanku, motor sengaja aku tinggal. Lagipula langit udah gelap masih aja di kampus," jawab Arifa yang masih terdengar ketus.
"Oke deh, bye."
Sambungan telepon langsung diputus oleh Eliezer. Arifa menjauhkan layar ponsel dari telinganya.
Aneh. Itulah yang Arifa rasakan acap kali meladeni sikap Eliezer. Maka dari itu, ia sebisa mungkin menghindari laki-laki. Bukan ia tidak ingin, tapi ia hanya takut jatuh kedalam sebuah perasaan yang sulit diterka.
"Arifa! lihat cocok gak?" tanya Bianka yang sedang berdiri di depan cermin panjang hingga terlihat seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Arifa tersenyum seraya mengangguk. "Cocok kok, Ka. Perfect!" jawabnya saat melihat Bianka memakai gaun dengan panjang selutut bermodel payung.
"Coraknya gimana? kelihatan norak gak sih?" tanya Bianka lagi yang merasa kurang percaya diri.
"Bagus kok. Malah kelihatan pas banget di kamu," jawab Arifa yang kemudian tersenyum.
"Beneran?" Bianka memastikan dan Arifa mengangguk cepat. "Oke deh, Mbak. Aku ambil," ucapnya pada pelayan butik.
Selagi gaun dikemas, Bianka pergi ke kasir untuk membayar. Sementara Arifa masih menunggu di sofa.
Setelah transaksi selesai, mereka keluar dari butik dan masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya sejak tadi. Mobil pun melaju saat pintu telah tertutup rapat.
"Fa, besok pagi aku jemput kamu ya. Kita jogging," ajak Bianka dengan penuh semangat.
"Syukurlah. Oke, kamu jemput jam berapa?"
"Gimana kalau jam enam?" usul Bianka.
"Oke, jam enam ya. Nanti WhatsApp lagi aja kalau udah mau berangkat ya!"
"Siap! ... Eh iya, by the way ... kita makan dulu ya. Aku lapar," kata Bianka sambil memegangi perutnya.
Arifa seketika mengingat lagi kejadian semalam. "Oh iya, oke oke. Aku juga lapar," ucapnya kemudian. Memang tidak bisa dipungkiri rasa lapar itu sudah semakin ia rasakan. Apalagi kegiatan seharian ini yang cukup padat.
Mereka pun pergi ke sebuah restauran yang masih dalam satu wilayah, alasannya hanya tidak ingin terlalu jauh. Selesai makan, Bianka mengantarkan Arifa ke tempat kost.
Alangkah terkejutnya Bianka saat tahu tempat kost Arifa.
"Fa, ini kan kost-kost an punya om Danish!" seru Bianka yang spontan berkata demikian.
Deg! jantung Arifa seolah mendengar dentuman bom Hiroshima dimasa penjajahan dulu. Iapun bersusah payah menelan ludahnya.
"Punya ... ehem," Arifa melonggarkan tenggorokannya. "Punya om Danish? kamu tahu darimana? bukannya waktu itu bilang kamu sendiri gak tahu letaknya dimana?" tanyanya dengan memborong banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Dari model kost-kost-annya, Fa. Aku tahu banget, modelnya sama seperti tempat kost miliknya yang lain di kota D."
Mendengar jawaban Bianka, Arifa menjadi salah tingkah sendiri lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh begitu ya, Ka."
Semoga omnya itu gak tahu kalau aku ngekost disini.
Arifa kemudian turun dari mobil setelah berpamitan dengan Bianka. Seusai itu, ia segera masuk dan mandi, barulah beristirahat.
...----------------...
Semalam Arifa telah mengatur alarm pukul empat dini hari, dan kini alarm itu telah berbunyi. Namun sayang, Arifa menundanya beberapa menit lagi.
Hingga dibunyi yang entah kesekian kalinya, Arifa terperanjat duduk di atas tempat tidur. Ia mulai panik dan melihat ke arah jam dinding.
"Astaga udah setengah enam! aku harus mandi sekarang sebelum Bianka ke sini!" ucapnya bermonolog setelah selesai menguap.
Sat, set, sat, set. Hanya butuh waktu tidak lebih dari dua puluh menit. Kini Arifa telah siap untuk berangkat jogging dengan memakai waistbag serta topi untuk menyematkan rambutnya. Apalagi Arifa paling malas untuk menguncir rambut.
Tepat pukul enam pagi, mobil yang ditumpangi Bianka berhenti di depan Arifa yang sejak tadi menunggu kedatangannya sambil bersandar di belakang mobil.
Bianka pun membuka kaca mobilnya. "Arifa! ayuk naik," ajaknya lalu membukakan pintu mobil.
Ketika Arifa masuk, ia belum menyadari ada yang aneh dalam mobil itu. Akan tetapi setelah ia duduk dan pintu tertutup, tidak sengaja menoleh ke kursi belakang, dengan cepat memposisikan tubuhnya ke depan kembali.
"Ka, kenapa mereka ikut?" tanya Arifa dengan penuh penekanan dan tanpa membuka lebar mulutnya seperti bicara normal.
Bianka tersenyum dan merasa salah tingkah. "Maaf ya, aku gak bilang kamu dulu, Fa," ucapnya yang merasa bersalah.
Arifa menghela napasnya lalu mengangguk pelan.
Jogging bareng dua laki-laki yang kaku. Semoga gak ikutan kaku kayak mereka.
...Bersambung ......
...****************...
...Visual Tokoh ...
__ADS_1