Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Jemputan Dadakan


__ADS_3

Setelah selesai mandi, bersiap ke kampus dan juga sarapan, Arifa memeriksa kembali tugasnya yang akan dikumpulkan pagi ini. Kemudian tak lupa membuka aplikasi online yang sedang ia jalanin sebuah bisnis camilan di sana.


"Waw! efek dari kemarin sore gak buka aplikasi, orderan jadi numpuk begini!" seru Arifa yang entah merasa bahagia ataupun sedih. Karena waktu yang sangat singkat membuatnya bingung. Tidak mungkin juga Arifa mengurus orderan itu sekarang. Akhirnya konfirmasi orderan pun akan dilakukan setelah ia tiba di kelas.


Arifa segera keluar dari kamar dengan membawa tas ranselnya lalu memakai sepatu. Ia harus datang lebih pagi supaya kerjaannya juga ikut kepegang dan tuntas demi kepuasan pelanggan.


Saat membuka pintu, Arifa tersentak kaget dengan keberadaan Danish di depannya. Sebelah tangannya masih terangkat, mungkin dia baru tiba dan hendak mengetuk pintu.


"Eh, Om Danish. Ada perlu apa ya kok pagi-pagi datang ke sini?" tanya Arifa, berbasa basi.


"Tiga bulan kedepan saya sedang ada kerjaan di kantor cabang di kota ini. Untuk itu, boleh kan tiap hari saya antar jemput kamu ke kampus?" jelas Danish kemudian memberi tawaran pada Arifa. Kali ini wajahnya sangat berbeda sangat teduh dan nyaman ketika dipandang. Nada bicaranya pun tidak seperti sebelumnya yang penuh dendam, kini lebih lembut dan sangat berwibawa.


"Oh gitu Om. Tapi saya kan ada motor kalau cuma pulang pergi ke kampus," tolak Arifa secara halus, kemudian melirik jam tangan, menunjukkan pukul 7.15. Sedangkan kelas akan dimulai pukul 7.45. Waktunya benar-benar tidak banyak kalau dilanjutkan mengobrol dengan Danish.


"Gak apa-apa, motornya kamu simpan dan bisa bareng saya tiap hari. Tuh saya juga tinggal di pintu ujung tempat kost ini."


"Hah!" seru Arifa secara spontan. Danish benar-benar terniat. Dia tinggal di tempat kost miliknya sendiri yang otomatis itu gratis. Pantas saja dia menawarkan untuk antar jemput.


Apa ini bagian dari pendekatan Danish pada Arifa? tapi kenapa perempuannya harus Arifa? usia keduanya pun cukup jauh. Apa Danish mulai jatuh cinta pada sosok Arifa setelah pertemuannya di taman kemarin?


"Om maaf, saya harus segera ke kampus ada kelas pagi terus juga ada kerjaan," kata Arifa kemudian sedikit mendorong Danish mundur ke belakang untuk mengunci pintu.


Setelah itu, tanpa aba-aba Danish menarik tangan Arifa untuk masuk ke dalam mobilnya yang telah terparkir di halaman. Lagi-lagi sikap Danish yang sering mendadak, membuat Arifa kebingungan cara menolaknya harus seperti apa lagi.


Disisi lain, ada rasa beruntung juga bagi Arifa. Dengan naik mobil, ia bisa sambil menyicil konfirmasi pesanan lalu dilanjutkan ke si ibu untuk segera kemas dan kirim.


Ketika keduanya telah masuk ke dalam mobil, Arifa mengerutkan keningnya. Merasa ada yang berbeda dari Danish.


"Om, nyetir sendiri?" tanya Arifa. Karena biasanya Danish selalu bersama sopir untuk mengantarnya kemanapun dia pergi.


"Berdua kan sama kamu," jawab Danish lalu mulai melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Oh ... iya." Arifa tersenyum sambil melepaskan ranselnya. Lalu mengeluarkan laptop dan langsung membukanya serta menaruhnya di atas pangkal paha. Kemudian tasnya ditaruh di samping pintu mobil.


"Ada tugas yang belum selesai?" tanya Danish melirik sekilas lalu fokus kembali melihat ke depan.


"Bukan Om, mau proses pesanan," jawab Arifa yang tanpa sadar mulai membongkar bisnisnya pada Danish.


"Pesanan? kamu jualan Fa?" tanya laki-laki itu memastikan. Namun pandangan Arifa masih tetap pada layar laptopnya.


"I ... ya," jawab Arifa lalu menoleh sekilas ke arah Danish.


Yah kelepasan ngomong, ya udah deh, udah terlanjur.


"Jualan apa memangnya? sepertinya ramai sekali yang beli."


"Camilan, awalnya cuma bantu ibu penjaga kedai di kampus karena ada suatu masalah. Eh jadi ladang usaha sampai sekarang."


"Anak yang baik, teruskan jika itu bikin kamu bahagia," ucap Danish yang reflek mengusap kepala Arifa. Seperti kebiasaannya pada Bianka. Akan tetapi anggapan Arifa berbeda, Danish melakukan itu juga karena nalurinya.


"Om, saya buka Bianka."


Seketika membuat Danish terkesiap. Benar juga apa yang dikatakan Arifa. Ia tidak seharusnya melakukan hal yang sama seperti ketika bersama Bianka.


"Maaf, saya reflek." Danish menarik tangannya kembali memegang strir mobil.


"Iya gak apa-apa," kata Arifa sambil tersenyum simpul, lalu melanjutkan pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Danish telah tiba di depan gerbang kampus.


"Fa, sudah sampai. Mau turun di depan gerbang atau masuk ke dalam?" tanya Danish yang baru saja menghentikan mobilnya.


"Di depan gerbang aja Om. Sebentar ya Om, satu pesanan lagi," jawab Arifa yang masih fokus. Danish pun mengangguk dan menunggu Arifa menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Selesai!" seru Arifa sambil menghela napas lega. Danish tersenyum melihat ada semangat yang besar dalam diri perempuan berwajah tirus yang ada di sampingnya.


Arifa mematikan laptopnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas ransel miliknya. "Terima kasih banyak Om."


"Sama-sama, oh iya hari ini kamu selesai jam berapa?" tanya Danish yang berniat untuk menjemput Arifa.


"Biasanya sih siang, sekitar jam satu atau dua. Tergantung dosen. Kenapa Om?"


"Mau jemput kamu, aku berniat mengajak kamu ke suatu tempat."


"Kemana Om memangnya?" tanya Arifa yang mulai waspada.


"Rahasia dong! kan surprise, hehe ... "


Arifa menarik sebelah sudut bibirnya, merasa kesal karena Danish merahasiakannya.


"Ya sudah sana belajar biar pintar. Nanti sekitar jam satu atau dua, saya akan telepon kamu lagi," ucap Danish sambil tersenyum. Arifa pun hanya mengangguk pelan.


Ketika Arifa baru saja menutup pintu, Danish membuka kaca jendela mobilnya hanya untuk melambaikan tangan, begitu pun dengan Arifa. Lalu mobil pun pergi dari sana.


Arifa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kampus menuju ruang kelas mata kuliah pagi ini. Sebab, terkadang setiap mata kuliah yang diikuti akan berbeda juga ruang kelas yang ditempati. Terlebih kalau mengikuti selera dosen yang memiliki suasana hati tidak stabil. Seperti anak abege.


Dari kejauhan, Eliezer memperhatikan Arifa sejak turun dar mobil yang dikendarai Danish. Ketika telah dekat dengannya, seketika lengan Arifa ditahan oleh tanhannya.


"Fa kita perlu ngomong."


"El, aku udah terlambat. Sebentar lagi dosen bakal masuk ke dalam kelas," kata Arifa sambil melepaskan tangan Eliezer dari lengannya. "Oh iya, aku udah maafin kamu kok. Aku ke kelas dulu, bye!"


Eliezer menghela napas, dihatinya masih terasa ada yang mengganjal. Apalagi melihat sikap Arifa yang mulai berbeda. Seperti teman-teman pada umumnya, bukan pada khususnya.


Kemudian, Eliezer pun akhirnya mengekori Arifa dan menunggu kelasnya hingga selesai. Akan tetapi, Arifa yang menyadari hal itu tidak menghiraukannya. Masih ada goresan luka yang masih basah, karena sikap Eliezer kemarin sore. Mungkin dia bisa memaafkan kesalahan Eliezer, tapi sayangnya tidak untuk melupakan kejadian itu. Arifa akan ingat selalu, pertama kalinya dia dipermalukan karena seolah mengecap dirinya 'perebut' kekasih orang lain.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2