
"Baik Pak, besok saya akan coba membuat iklan dan memasangnya di mading kampus. Semoga bisa menemukan pekerja yang sesuai dengan perusahaan kita."
"Oke, kamu bisa pulang ke rumah. Dan jangan lupa tugasmu besok pagi," kata Danish kemudian pergi ke kamarnya. Sementara Rinto menyusul keluar dari ruang kerja Danish dan pulang ke rumahnya.
Ketika di kamar, Danish duduk di tepi tempat tidur sambil melihat ke sebuah foto keluarga yang terpasang di dinding kamarnya, dengan tatapan datar. Terlebih kepada ayahnya.
Pikirannya tiba-tiba melayang jauh saat ia baru saja tiba di Indonesia setelah menempuh pendidikan S-dua di luar negeri. Saat itu, ia berharap ada kehangatan yang menyambutnya pulang, sebuah pelukan dan senyuman dari kedua orangnya. Namun sayang, itu hanya angannya saja.
Danish justeru melihat pertikaian kedua orang tuanya hingga membuat ibunya meninggal dunia. Yang lebih menyakitkan, Danish mengetahui alasan kenapa kedua orang tuanya bisa bertengkar sehebat itu, orang ketiga dalam rumah tangga ayah dan ibunya. Danish geram, walau ia sudah dewasa dengan umurnya yang saat itu dua puluh lima tahun, tapi ia tidak ingin hal seperti itu terjadi.
Kedua tangan Danish mengepal dan menekan pinggir tempat tidurnya. Ingatan masa lalu itu membuat emosinya naik kembali. Dadanya mulai bergemuruh, apalagi saat ia tahu siapa perempuan yang menjadi simpanan ayahnya di masa itu.
Tak ingin semakin menambah amarah, Danish segera ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Percikan air dingin itu perlahan mampu meredamkan amarahnya. Kemudian ia melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin, lalu mematut di sana.
"Lihat saja, dendamku pada perempuan itu akan terbalaskan. Apalagi aku telah mengetahui dan memantau targetku saat ini. Ku harap rencana yang telah ku susun rapih bisa berjalan dengan lancar."
Selesai mematut, Danish keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tempat tidur. Ia pun membaringkan tubuhnya di sana dan kemudian pergi ke alam mimpi.
...----------------...
Suara alarm yang berasal dari ponsel milik penggemar berat artis Korea yang bernama Haechan itu telah berbunyi. Ia segera mematikan suara alarm itu, kemudian duduk di atas kasur sambil menguap dan mengangkat kedua tangannya. Setelah itu, iapun turun dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Sebelum berangkat, Arifa membuka lemari pendinginnya terlebih dahulu, melihat isinya sudah kosong tak tersisa, lalu pintunya ditutup kembali. Kemudian, ia melihat saldo ATM lewat aplikasi m-banking yang ada di ponselnya. Tertera nominal yang memang menggiurkan hasil penjualan rumah. Tapi ia ragu untuk menggunakannya, lalu beralih ke tabungan miliknya yang disimpan di bank yang berbeda. Dilihatnya melalui aplikasi juga, saldo disana pun hanya cukup untuk satu bulan ke depan. Arifa menghela napas panjang.
"Apa aku coba cari kerja paruh waktu aja kali ya? biar uang hasil penjualan rumah gak kepakai sama sekali," kata Arifa bermonolog. Setelah cukup lama berkutat dengan pikirannya. Arifa pun pergi ke kampus.
Motor matic yang Arifa kendarai, membelah jalan raya yang belum cukup ramai di pagi ini. Ia sengaja berangkat lebih pagi, supaya bisa sarapan lebih dulu. Sebab, kelas pertama di hari ini akan mulai pukul setengah delapan pagi.
Setibanya di kampus, ia menaruh motornya di tempat parkir. Kemudian menuju kantin untuk memesan makanan. Akan tetapi tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang ia kenali di depan sebuah ruangan. Tampak sedang memasang sesuatu di sebuah mading.
Dengan menyingkirkan rasa laparnya sejenak demi rasa penasaran yang tiba-tiba merasuki relung hatinya yang paling dalam, Arifa dengan hati-hati mendekati orang itu. Ia mengendap-ngendap seperti maling yang sedang berburu rumah kosong.
Arifa tidak langsung pergi ke mading itu, melainkan menunggu orang yang baru saja selesai dengan kegiatannya pergi dari sana. Tak lama kemudian, Arifa bernapas lega saat melihat orang itu telah pergi. Iapun melangkah dengan percaya diri menghampiri mading. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering, setelah ia membaca isi pengumuman lowongan pekerjaan di sana.
Memang di lembaran kertas itu tidak tertulis harus sudah lulus maupun belum untuk bisa melamar dan bergabung pada perusahaan yang tertera di sana. Tapi Arifa sudah bisa menebak pemilik perusahaan itu setelah melihat orang tadi yang tak lain adalah sekertaris Danish.
Dengan menahan segenap rasa emosi yang bercampur lapar yang mendera, Arifa tidak menghiraukannya dan memilih pergi ke kantin untuk sarapan.
"Apes banget pagi-pagi udah diteriakin kuntilanak!" umpatnya saat berjalan ke arah kantin dan telah jauh dari tempat mading berada.
"Siapa yang kuntilanak?"
Arifa seketika menghentikan langkahnya saat mendengar suara seorang laki-laki yang barusan mendengar umpatannya itu. Ia menoleh dengan muka masam lalu melunak seketika.
__ADS_1
"Eh, Pak Rinto ya? sekertarisnya pak Danish itu?" tanya Arifa yang kini menjadi ramah, berbanding terbalik dengan sebelumnya. Ia juga sebenarnya terkejut karena Rinto ternyata masih di lingkungan kampus. Sebisa mungkin ia harus bersikap santai.
"Iya, kamu masih ingat ternyata. Tadi ... siapa yang kamu bilang kuntilanak?" Rinto bertanya balik pada Arifa.
"Oh enggak Pak, biasa makhluk astral itu suka ganggu saya terus." Ucapan Arifa berhasil membuat Rinto menganggapnya bisa melihat makhluk yang tak kasat mata.
"Kamu lihat dimana memangnya? apa dia ada disekitar sini?" tanya Rinto lagi yang seketika merinding sambil melihat ke sekelilingnya. Untuk hal satu itu, Rinto memang bisa dikatakan pengecut.
"Wah, dimana-mana ada Pak. Bahkan ya, di ... " Ucapan Arifa terpotong karena deringan suara ponsel Rinto.
Segera mungkin Rinto mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Tertera nama 'Pak Bos' disana. Rinto maupun Danish memang telah mengetahui keberadaan Arifa berada di kampus yang sama dengan Bianka, termasuk jurusan mata kuliahnya.
"Sorry, saya pergi dulu," kata Rinto kemudian pergi dari hadapan Arifa sambil menjawab telepon masuk.
Arifa terkekeh geli, apalagi saat melihat raut wajah Rinto yang mulai ketakutan.
"Lucu juga ngomongin orang pakai perumpamaan lain. Ya ampun, maaf ya kuntilanak yang beneran. Gak maksud kok nyamain kamu sama si Naura," kata Arifa bermonolog lalu melangkahkan kakinya kembali untuk ke kantin.
Sementara Arifa sarapan, kini di mading telah dikerumuni banyak mahasiswa yang tertarik dengan adanya lowongan pekerjaan itu. Kemudian mereka berlomba-lomba untuk memasukkan lamaran pekerjaan melalui email yang tertera. Begitupun dengan Naura dan kedua dayang-dayangnya.
Hingga akhirnya satu per satu diantara mereka masuk ke dalam kelasnya masing-masing, begitu juga dengan Arifa. Kelas pertama seperti biasa masih tahap pengenalan tentang jurusan yang ia ambil. Masih sebatas dasar-dasar dan wejangan dosen untuk karir mereka kelak.
__ADS_1
Setelah kelas usai, Arifa masih menimbang-nimbang untuk ikut melamar di perusahaan milik Danish itu. Dengan adanya lowongan perkerjaan itu, apa Danish sedang memancing Arifa?
...Bersambung ......