Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Lebih Sakit Dari Luka


__ADS_3

Danish mengalihkan pandangannya dari layar laptop itu. Kini menatap Rinto dengan sorot yang begitu dingin dan acuh.


"Biarkan saya sendiri, tolong jangan bahas itu lagi."


Sesaat kemudian Danish kembali melihat ke layar laptopnya. Sedangkan Rinto mengerutkan alis, merasa heran dan aneh dengan bosnya itu.


"Maaf Pak sebelumnya, bukan maksud untuk menggurui. Tapi bukan alangkah baiknya Pak Danish temani istri Bapak di rumah sakit. Dia lebih butuh banyak support dari Anda. Padahal setahu saya kalau perempuan setelah operasi sesar itu mentalnya bisa jatuh jika diabaikan dan merasa tidak ada yang memperdulikannya ... maaf Pak sekali lagi, kalau memang Pak Danish mau menemani istri Bapak di rumah sakit, biar urusan pekerjaan saya yang handle."


Merasa tidak ada respon apapun dari Danish, Rinto pun akhirnya pamit. "Kalau gitu saya permisi Pak."


Setelah pintu ditutup kembali oleh Rinto, Danish menaruh kedua tangannya di atas meja. Wajahnya pun di usap kasar lalu seketika memerah. Bisa dibilang saat ini Danish sedang tidak pakai hati.


Ditengah rumitnya kenyataan yang harus ia terima, sebuah panggilan dengan nama sang kakak masuk ke dalam ponselnya. Danish menghela napasnya, lalu menjawab.


"Hallo Kak," sapa Danish yang terdengar seperti biasa-biasa saja.


"Nish, sepertinya hari ini Kakak dan kakak iparmu gak bisa jenguk Arifa. Ada kerjaan mendadak keluar negeri. Bianka juga mau touring sama Aldi. Tolong sampaikan permintaan maaf dari kami ya untuk Arifa."


"Iya Kak, nanti aku sampaikan."


Lalu ... panggilan telepon pun di akhiri oleh Danish. Bukannya bergegas pergi ke rumah sakit, Danish justru melanjutkan pekerjaannya kembali.


Ada apa dengan laki-laki itu? sebegitu sulitnya kah berada di samping sang istri untuk saat ini? Tanpa dia tahu, sikapnya yang seperti ini membuat istrinya terus menyalahi dirinya sendiri.


...----------------...


Keesokan harinya, siang ini Danish akan menemui Amora di sebuah kafe yang telah di lakukan reservasi oleh Rinto. Seharian kemarin, Danish sama sekali tidak ke rumah sakit walau hanya sekadar melihat keadaan sang istri. Benar-benar keterlaluan. Kalau Farhan tahu, mungkin bisa saja laki-laki itu habis dimaki-maki.

__ADS_1


Sedangkan di rumah sakit, Arifa sudah diperbolehkan untuk pulang. Perempuan itu sengaja tidak memberitahukan suaminya maupun Farhan. Sebab saat ini dirinya benar-benar ingin sendiri.


Seorang perawat yang selama di rumah sakit mengurus Arifa, kembali dari bagian administrasi ke ruangan tempat dia di rawat. Di tangan perawat itu Arifa bisa bangkit dari keterpurukannya, dan juga keperluan kepulangannya pun di urus oleh perawat tersebut.


"Nyonya ini berkas administrasinya telah selesai," ucap perawat itu seraya memberikan kertas yang ada ditangannya pada Arifa.


"Terima kasih banyak Sus, saya merasa tidak kesepian lagi karena ada Suster selama aku di sini," ucap Arifa lalu memeluk perawat itu seperti memeluk ibunya sendiri.


Perawat itu menangis sendu. "Sama-sama Nyonya ... " lalu melepaskan pelukannya. "Semoga Nyonya dalam keadaan sehat selalu," ucapnya, memberi doa untuk Arifa.


"Aamiin, Suster juga." Keduanya pun tersenyum satu sama lain.


Setelah semuanya siap, Arifa diantar perawat itu ke depan lobby menggunakan kursi roda. Mobil yang telah menunggunya di sana bukan mobil yang biasa dikendarai oleh Lee. Melainkan taksi online yang dipesan oleh Arifa ketika perawat itu mengurus administrasi untuknya.


Pintu mobil pun ditutup kembali oleh sopir taksi, setelah itu kaca jendela mobil sengaja di buka oleh Arifa. Kedua telapak tangannya di satukan.


"Terima kasih banyak Suster."


"Hati-hati di jalan ya Nyonya."


Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit. Jarak dari rumah sakit menuju kediamannya di kota D bisa dibilang cukup jauh. Sepanjang perjalanan Arifa hanya terdiam sambil memandang ke luar jendela. Tak terasa ia pun tertidur.


Satu jam sudah berada di sepanjang tol, mobil itu akhirnya masuk ke kawasan kota D. Deretan kafe mewah di sepanjang pusat kota menjadi pemandangannya saat ini. Di antara gedung itu ada sebuah kafe yang menjadi pusat perhatiannya dari kejauhan.


Sayangnya kafe itu berada di sebrang jalan dan jalan untuk memutar arah pun masih cukup jauh. Arifa memilih bertanya terlebih dahulu pada sopir taksi itu.


"Pak, mau antar saya ke kafe Sehati yang di sana gak?" Arifa menunjuk ke arah kafe yang dimaksud.

__ADS_1


"Oh baik, Nyonya. Tapi untuk tarifnya disesuaikan ya," jawab sopir itu. Tidak ingin rugi supaya bisa dilebihkan dari setoran.


"Iya Pak tenang aja." Arifa menyanggupinya.


Namun ketika melewati kafe yang ingin di tuju, Arifa melihat seorang laki-laki yang sangat dikenalinya. Dia tidak sendiri melainkan bersama seorang wanita di dalam kafe itu. Sangat jelas terlihat dari kaca besar yang transparan.


Hatinya bagai tertusuk pedang yang sangat tajam, sakit. Sakit sekali. Bayangkan saja, untuk menemani istrinya di rumah sakit saja laki-laki itu begitu enggan. Sekarang, dia malah terlihat bahagia sedang asik mengobrol dengan seorang perempuan yang juga dikenali oleh Arifa.


Ya, tentu saja. Mereka adalah Danish dan Amora. Pandangan Arifa tidak lepas dari mereka, terlebih jalanan yang padat merayap. Mungkin karena akan mendekati lampu merah di depan. Pemandangan itu membuatnya semakin merasa tercabik-cabik. Perihnya sampai mengalahkan luka pasca operasinya itu.


"Pak, kita langsung ke tujuan utama aja," ucap Arifa dengan mata yang masih memperhatikan suaminya dari kejauhan. Air matanya terjatuh entah sejak kapan. Mengalir, bahkan menetes dan membasahi pakaiannya.


Tanpa bertanya apapun lagi dan terlihat dari wajah Arifa yang sangat sedih, sopir taksi itu hanya mengangguk paham. Setelah melewati sebuah lampu merah, jalanan pun mulai lancar kembali.


Arifa sudah tidak kuasa lagi menahan tangisnya, dan kini ia tergugu dengan sebelah tangan yang menutup mulutnya. Sopir itu memperhatikan dari kaca kecil yang ada di depannya. Dia merasa iba, namun hanya berdoa di dalam hatinya supaya Arifa bisa mendapat kebahagiaan setelah ini.


Sepuluh menit kemudian, Arifa telah sampai di kediamannya bersama Danish. Rumah itu tampak sepi, hanya ada seorang satpam dan pelayan yang menyambut kepulangannya.


"Nyonya, ya ampun Nya. Kok pulang gak bilang-bilang sih. Tuan juga gak bilang sama kami," ucap salah satu pelayan. Arifa hanya tersenyum.


"Bi saya boleh minta tolong?" Arifa kini bertanya.


"Boleh dong Nyonya, mau minta tolong apa?"


"Siapkan kamar tamu untuk saya, terus pakaian yang ada di kamar tolong pindahin ke kamar tamu ya," titah Arifa. Perempuan itu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Ketiga pelayan yang ada di hadapannya mengerutkan alis lalu saling bertukar pandang. Mereka merasa heran. Ada apa sebenarnya yang terjadi pada Nyonya nya mereka itu? Tidak ingin membantah, ketiga pelayan itu menganggukkan kepalanya mengiyakan.

__ADS_1


"Baik Nyonya, akan kami laksanakan. Kalau begitu kami permisi dulu ya."


...Bersambung ......


__ADS_2