Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Tinggal Kenangan


__ADS_3

Wajah memerah karena kesal tampak pada Arifa saat ini. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya sambil menunjuk dan memberi tatapan tajam ke arah orang yang telah menabrak bahunya. Sebab, itu benar-benar sakit. Kalau tidak, mungkin Arifa tidak akan semarah itu.


"Kamu!"


Seperti terkena sihir oleh seorang laki-laki yang ada dihadapannya. Seketika Arifa menggulung kembali jari telunjuknya, menarik napas panjang sambil mengepalkan tangan, lalu menghepaskannya dengan kasar. Raut wajah yang tadi sempat memerah kini telah padam. Arifa mengenali laki-laki itu.


"Maaf, saya tidak sengaja," kata laki-laki itu yang tak lain adalah Aldi, kekasih Bianka. Akan tetapi setelah berkata demikian, dia pergi meninggalkan Arifa.


"Aduh! kenapa harus ketemu disini sih?" umpat Arifa lalu membalikkan tubuhnya kembali, tidak memperdulikan Aldi yang telah pergi. Dan mulai mencari barang yang dibutuhkan untuk ospek di toko alat tulis tempat Arifa berada.


Cukup lama Arifa berada disana, kini akhirnya keluar dari toko dengan membawa dua kantong plastik yang cukup besar. Rona di wajahnya pun tampak bahagia, seakan puas dengan barang yang ia cari sejak tadi. Ia berjalan dengan santai menuju motor matic yang sebelumnya parkir di depan toko. Sebelum naik ke atas kendaraan tersebut, Arifa menggantungkan kedua plastik yang ada di tangannya itu ke sebuah holder gantung yang menyatu pada stang motor. Lalu mengambil helm dan memakainya, selanjutnya pun Arifa naik dan menyalakan starter, kemudian melajukannya.


Sepanjang jalan, Arifa bersenandung riang. Karena letak toko tidak jauh dari tempat kost, beberapa menit kemudian tiba di depan tempat kost. Ia parkirkan motor matic di samping mobil peninggalan mendiang papahnya. Melepas helm dan turun dari sana, tak lupa sambil membawa barang belajaan yang tadi ia beli.


...----------------...


Arifa bangun lebih awal di pagi ini. Mandi, sarapan lalu membereskan tempat kostnya supaya terlihat rapih. Setelah semua selesai, Arifa bersiap untuk berangkat menuju tempat kuliah, seperti biasa dengan motor matic miliknya.


Akan tetapi, suara petir yang mulai bergemuruh di langit yang kelabu menandakan akan turunnya hujan di pagi ini.


"Semoga hujannya kalau aku udah tiba di kampus," ucap Arifa yang sudah naik motor, bermonolog dengan penuh harap sambil memakai helm. Motor pun kemudian melaju.


...----------------...


Sinta menghentikan mobil taksi tepat di depan rumah yang dulu pernah ia tempati bersama mantan suami dan kedua anaknya.


"Ini uangnya ya Pak," ucap Sinta sambil memberikan uang kepada sopir taksi kemudian turun dari sana.


Sesaat Sinta turun, taksi pun pergi. Pandang matanya mengedar ke seluruh area halaman rumah. Tampak kotor, banyak daun kering yang jatuh dari sebuah pohon bunga kamboja di pojok halaman, berserakan. Sinta berdecak, sambil melangkahkan kakinya menuju teras rumah. Ia menghela napas, melihat debu yang ada di lantai teras itu jelas terlihat.

__ADS_1


"Apa mas Zaka udah gak sanggup bayar asisten rumah tangga? ya ampun, ini rumah atau gudang sih!"


Sinta melangkahkan kakinya kembali, dan tepat saat ia hendak memegang handle pintu, suara gemuruh petir semakin kencang dan hujan deras pun turun seketika.


"Sedang apa kamu disini, Sin?"


Suara seorang laki-laki yang sangat Sinta kenali itu terdengar dari belakangnya. Tangan Sinta pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu rumah, memilih berbalik badan. Jelas terlihat di depannya saat ini, seorang laki-laki yang pernah ia fitnah saat di persidangan waktu itu.


"Saya mau ambil barang yang tertinggal di dalam," jawab Sinta dengan ketus.


"Untuk apa? rumah ini udah punya orang lain," kata laki-laki itu sambil tertawa.


"Lancang kamu Mas menjual rumah ink tanpa persetujuan dariku!" Sinta mulai emosi tak tertahan. Ia benar-benar tidak mengetahui apapun yang telah terjadi di rumah ini sejak pergi.


"Lancang katamu? ... " laki-laki itu tertawa kembali. "Sejak kamu pergi dari rumah, sejak saat itu juga rumah ini menjadi milik anak-anak, kamu udah gak ada hak!" tegasnya kemudian.


BRUK!!


Sinta jatuh tersungkur dibawah derasnya air hujan. Pakaiannya basah kuyup, dan dia berusaha untuk berdiri kembali sambil mencari kemana perginya laki-laki itu. Ternyata di sana tidak ada orang sama sekali. Lalu, ia mencium sekilas aroma bunga melati yang cukup menyengat. Membuatnya terhanyut sambil memejamkan kedua mata.


"Mpok, ngapain maen hujanan kayak gini?" tanya Lina sambil menepuk bahu Sinta.


"Eh, Lin. Kamu disini? Mas Zaka mana? lihat gak? tadi dia disini ... bilang kalau rumah ini udah punya orang lain," jawab Sinta sambil menoleh ke kanan dan kiri seperti orang kebingungan.


Lina yang sedang berteduh tak jauh dari bekas rumah mendiang kakaknya itu memang sengaja menghampiri Sinta yang dilihatnya jatuh tersungkur.


"Mpok kagak tahu kalau abang udah meninggal?"


DEG. Pertanyaan Lina seorang menjatuhkannya ke dasar lubang yang paling dalam.

__ADS_1


"Ta-tapi ta-di ... " Sinta terbata-bata dan menggeleng cepat. Lina berdecak sambil menatap tidak suka.


"Makanye mpok, punya laki bener malah ditinggalin. Lah sekarang laki udeh gak ade malah mau disamperin. Mpok ... mpok!" kata Lina lalu memanggil Sinta yang tiba-tiba tertegun.


"Lin, tadi mas Zaka ada disini ngomong sama Mpok," sergah Sinta membuat Lina menggelengkan kepala yang tidak percaya.


"Gini deh, daripada Mpok basah-basahan kayak gini ntar yang ada masuk angin, mending Mpok ikut aye aja ke rumah ya. Ntar aye jelasin," usul Lina namun Sinta masih tidak bergeming.


"Mpok!" panggil Lina lagi.


Sinta sadar lalu menoleh. "Pergi Lin!" bentaknya dan Lina pun terkejut bukan main.


"Oke kalo itu mau Mpok, aye bakal pergi. Jangan harap aye bisa bae lagi ke Mpok!" ucap Lina yang tidak terima dirinya diusir oleh Sinta. Emosinya yang ikut terpancing, membuat rasa benci yang tadinya tidak ada, kini menjadi ada.


Lina pergi dari hadapan Sinta yang masih berdiri dibawah guyuran hujan yang sangat deras. Ia menghampiri anak dan suaminya yang sedang berteduh di tempat sebelumnya.


Sementara Sinta membalikkan tubuhnya kembali menatap rumah. Kini, semuanya hanya tinggal kenangan. Tawa canda yang dulu sempat ada di dalam rumah itu, sekarang hanya tinggal debu yang menutupi semua kebahagiaan itu. Dan ... BRUK!! Sinta jatuh pingsan.


Lalu sebuah mobil Alphard berhenti di depan rumah itu, dua orang laki-laki pun turun dari sana kemudian membawa Sinta pergi dari sana. Sedangkan Lina yang membelakangi keberadaan Sinta. Saat Lina berbalik ternyata Sinta sudah tidak ada di sana bersamaan dengan mobil Alphard yang melaju.


Lina mengerutkan keningnya, "Kemane si Mpok? cepet banget perginye," gumamnya.


...----------------...


Para panitia penyelenggara ospek akhirnya mengalihkan kegiatan ke dalam ruang aula. Sebab hujan tak kunjung reda sejak tadi pagi. Beruntung Arifa tidak terkena guyuran hujan saat di perjalanan. Kini, kelompok yang sudah dibagi-bagi telah saling memisahkan diri. Begitupun dengan panitia pendamping mereka.


"Arifa!"


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2