
"Iya Neng. Calonnya Diana namanye Ujang. Umurnye udah dua puluh lima tahun. Die ntuh demen sama si Diana. Lah kemaren ujug-ujug bilang ngelamar. Terus Bibi bilang pan ye, minta lamaran beneran. Eh die nyanggupin."
"Terus Diana gimana? mau nikah muda?" tanya Arifa yang kini melihat Dinda yang sedari tadi hanya menunduk duduk di samping Lina.
"Diana belum siap Teh. Mamah udah maksa Diana aja buat nikah habis lulus sekolah," jawab Diana dengan suara yang bergetar, menahan tangis yang masih bisa ia tahan.
Arifa merasa tidak tega melihat adik sepupunya akan dipinang seorang laki-laki. Apalagi usia Diana dua tahun di bawahnya, walau sikapnya dewasa. Siapa tahu hatinya belum tentu siap untuk berumah tangga.
"Bi, apa gak bisa tunggu Diana siap dulu?" tanya Arifa dengan hati-hati, takut salah bicara malah bikin suasana makin runyam. Apalagi Diana dipaksa menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya sendiri.
"Gak bisa Neng. Orang tua Ujang udah sakit-sakitan, mereka pengen Ujang nikah sama perempuan yang disukainya. Walaupun pekerjaan Ujang jadi buruh pabrik, tapi kan gajinya lumayan. Udah punya rumah sendiri pula."
Penjelasan Lina sudah bisa Arifa pastikan kalau keputusannya menjodohkan Dinda memang sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat.
"Oh gitu ya Bi. Ya udah, Rifa nanti usahakan datang ke acara lamarannya Diana. Rifa doain semoga acaranya lancar ya Bi, terus Diana juga biar lancar sekolahnya, bisa kasih nilai yang terbaik," ucap Rifa sambil menyunggingkan senyumannya. Walau hati merasa terenyuh melihat Dinda yang tampak murung.
"Dapet nilai bagus juga percuma Teh. Ujung-ujungnya nikah," timpal Diana yang langsung mendapat tatapan tajam dari ibunya. Sementara Ujang hanya terdiam, tanpa ekspresi serta tanpa sepatah katapun.
"Ya udeh deh Neng. Bibi pulang dulu ya. Takut keburu hujan. Tahu sendiri pan kalau sore hujan mulu," kata Lina. Pamit undur diri dari tempat kost Arifa. Diikuti keempat orang yang lainnya.
"Iya Bi, hati-hati di jalan ya! Ini pulangnya naik apa Bi?" seru Arifa yang kemudian bertanya pada Lina.
"Itu si Ujang nyewa mobil, tuh pan Neng lumayan juga bisa nyetir mobil. Biarpun nyewa, siapa tahu nanti kebeli," ujar Lina yang sebenarnya sedikit melukai hati calon mantunya. Tapi karena terlanjur cinta sama anaknya, maka Ujang pun menganggap yang diucapkan Lina itu adalah angin lalu.
"Mari Arifa, kami pulang dulu. Makasih jamuannya ya," kata suaminya Lina, lalu mengangguk sopan. Laki-laki itu memang berbanding terbalik dengan sifat istrinya yang terlalu bar-bar kalau bicara. Walau hatinya baik, tapi kali ini sedang bertolak belakang dengan anak perempuannya.
"Iya sama-sama Om."
Namun saat Diana keluar belakangan dari tempat kost itu, Arifa mengelus punggungnya dengan lembut. Layaknya seorang kakak kepada adiknya.
"Sabar."
Hanya kata itu yang mampu di ucapkan Arifa. Karena percuma walau rasanya secara umum sama (tidak terima), namun sebuah rasa hanya bisa dipahami oleh diri sendiri.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil dan telah pergi dari halaman tempat kost tersebut, Arifa menutup pintunya lalu masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya sejenak. Tidak lama setelah itu ponselnya pun berdering.
"Hallo Sayang? ada apa?" sapa Arifa lalu memposisikan tubuhnya tengkurap.
"Kamu lagi apa Sayang? bisa siap-siap gak sekarang?" Danish bertanya balik padanya.
__ADS_1
"Siap-siap? Aku lagi rebahan Sayang ... memangnya mau kemana?" Rasa malas masih membuatnya nyaman berada di atas tempat tidur.
"Sebentar lagi makan siang, kita makan bareng aja gimana? kamu juga belum ada makanan apa-apa bukan?" ajak Danish. Laki-laki itu tidak ingin calon istrinya sakit karena telat makan.
"Ya udah deh. Aku siap-siap dulu ya Sayang."
"Iya, Bye Sayang."
Oh ... Danish, oh ... Arifa dua insan yang sedang dimabuk asmara. Seakan dunia milik kalian berdua dan yang lain hanya ngontrak.
...----------------...
Waktu makan siang pun telah tiba. Danish mengajak Arifa untuk makan di salah satu tempat makan berbentuk saung-saung di pinggir kota J. Di tempat makan tersebut, bisa juga untuk memancing. Ada kolam khusus di sana untuk para mancing mania.
Sayangnya Danish tidak menyukai hal itu. Dia lebih suka duduk di kursi kebesaran serta mengecek berkas di atas meja yang kokoh, terbuat dari kayu jati. Sedangkan Arifa sendiri, hanya lebih suka makan.
Menu yang ada di tempat makan itupun khas di pedesaan. Ada hidangan yang digoreng, tumis serta berbagai macam sambal. Bukan hanya itu, makannya pun tidak memakai sendok, alias pakai tangan.
Walau uang tak terhitung jumlahnya di berbagai kartu ATM. Tapi selera makan Danish masih merakyat. Terlebih Arifa yang apa saja bisa dimakan.
Setelah memesan makanan, keduanya menunggu sambil melihat ke sekeliling tempat makan.
"Kamu tahu darimana tempat makan ini Sayang?" tanya Arifa. Perempuan itu mulai menyukai tema dar tempat makan itu yang sejuk walau di tengah kota.
"Oh gitu, kenapa sekertarismu itu gak di ajak? siapa tahu dia lapar juga, iya kan?"
"Aku sudah memberinya gaji yang besar. Dia bisa sendiri datang ke sini sesuka hati. Sekarang aku cuma mau sama kamu buat makan siang di sini," kata Danish. Laki-laki berwajah oriental itu sudah mulai bucin rupanya.
Arifa tersipu malu dengan jawaban yang di berikan oleh Danish. Raut wajahnya yang datar dan terkadang pelit sekali untuk tersenyum, tapi bagi Arifa itulah letak ketampanan seorang Danish, tetap stay cool.
Walau bukan Arifa yang menjadi cinta pertama baginya, tapi entah kenapa Danish merasa kali ini berbeda. Atau mungkin karena jarak usia diantara mereka cukup jauh, itu yang membuat Danish merasa muda kembali.
Tidak sampai menunggu lama, makanan yang di pesan oleh mereka telah tiba. Dua orang pelayan satu per satu menaruh makanan yang ada di nampannya ke atas meja.
Dengan perut yang sama-sama telah berbunyi. Keduanya pun menyantap makanan yang terasa nikmat tiada tara.
...----------------...
Setelah makan siang, Danish dan Arifa masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju menuju suatu tempat.
__ADS_1
"Sayang, maaf ya matanya aku tutup dulu. Biar beneran jadi kejutan," kata Danish seraya mengeluarkan sehelai kain berwarna merah muda dari saku celananya.
"Beneran kejutan nih Sayang?" tanya Arifa, memundurkan kepalanya lalu terkekeh geli.
"Iya Sayang, hayolah ... "
Arifa pun menurut, menghentikan tawanya lalu memejamkan mata. Membiarkan Danish memasangkan kain itu sebagai penutup matanya.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah butik bernuansa modern dengan cat warna putih dan lampu taman yang mengarah ke tembok.
Danish keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Arifa yang matanya masih tertutup kain.
"Hati-hati turunnya Sayang," ucap Danish yang meraih kedua tangan Arifa. Tak sengaja jarak antara wajahnya dengan wajah Arifa hanya beberapa centi saja. Tiba-tiba ia membayangkan kembali ketika saat itu mengecup singkat bibir tipis milik Arifa.
"Sayang kita mau kayak gini terus?" tanya Arifa yang merasa pegal karena tubuhnya tertahan oleh pintu mobil. Sementara itu, Danish terkesiap, ada rasa aneh yang seketika menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Iya, ayuk!" ajak laki-laki itu, merangkul pinggang Arifa lalu menutup pintunya kembali.
Lalu langkah mereka terhenti tepat di menghadap ke arah bangunan butik. Sopir pun ikut turun sambil membawa sebuah map coklat di tangannya.
"Aku buka ya," ucap Danish yang kemudian melepaskan penutup mata itu.
Arifa mengejapkan matanya sesaat. Seketika dirinya terpana dengan sebuah bangunan butik yang terpampang nyata di depannya. Bangunan yang dapat dikenalinya walau sudah lama tidak ia kunjungi. Butik itu milik mendiang mamahnya, Sinta.
"Butik ini masih beroperasi Sayang?" tanyanya merasa tidak percaya. Bahkan butik itu sudah semakin maju.
"Tentu," jawab Danish lalu memberi kode dengan tangannya kepada sopir agar memberikan map coklat yang sejak tadi di pegang olehnya. "Ini, bukalah," lanjutnya sambil memberikan map coklat itu pada Arifa.
Dengan senang hati Arifa pun menerima lalu membukanya. Isi di dalam map itu ada surat izin usaha, surat kepemilikan, dua buah kartu ATM, dua buah buku tabungan, kunci, serta sertifikat tanah.
"Ini semua .... " Arifa menatap lekat kedua mata Danish, menuntut sebuah jawaban di sana.
"Ya, ini semua sekarang adalah milikmu."
Arifa merasa sangat terharu, lalu berhambur memeluk Danish sangat erat.
"Terima kasih banyak, Sayang."
"Sama-sama. Yuk kita lihat ke dalam!" seru Danish lalu merangkul bahu Arifa.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam untuk bertemu pada pegawai dan melihat-lihat yang ada di dalam butik itu.
...Bersambung ......