
"Arifa!" panggil seorang perempuan, membuat Arifa mencari keberadaannya.
"Eh, kamu kuliah di sini juga, Ka?" tanya Arifa. Tidak salah lagi, perempuan itu adalah Bianka yang kini telah berdiri di hadapannya.
Bianka mengangguk cepat, mengiyakan. "Kamu ambil jurusan apa, Fa?" tanyanya kemudian.
"Hukum, kalau kamu?" jawab Arifa dan bertanya kembali pada Bianka.
"Oh, aku ambil bisnis manajement." Bianka menjawabnya dengan penuh percaya diri.
"Pantas aja, aku yakin kamu pasti bakal jadi penerus bisnis keluargamu yang hebat," sahut Arifa dengan spontan. Bianka terdiam sejenak sambil menatap Arifa dalam-dalam.
"Darimana kamu tahu Fa kalau keluarga aku dari kalangan pembisnis?" tanya Bianka menyelidik.
"Eh, itu ... " Arifa berpikir sejenak.
Aduh kelepasan ngomong lagi, bisa panjang lebar kalau aku bilang yang sebenarnya.
"Sewaktu pacarmu menjemput di restauran, aku lihat tampilannya kayak seorang CEO pada umumnya. Ya ... aku cuma nebak aja kalau kamu juga dari kalangan yang sama," jelas Arifa sambil melebarkan senyumannya. Bianka pun tampak menghela napas panjang dan juga ikut tersenyum.
"Oh iya, kamu tinggal dimana, Fa?" tanya Bianka lagi membuat napas Arifa tertahan sejenak.
"Aku ngekost dekat sini, ya ... sepuluh menit lah. Kamu ngekost juga?"
"Aku tinggal di dekat sini juga, tapi rumahku sendiri. Eh tapi Fa ... kalau gak salah om Danish tuh punya kost-kostan juga sekitar sini. Tapi aku juga gak tahu persis tempatnya dimana," kata Bianka yang melipat tangan kirinya di dada dan tangan kanannya memijat pelipis. Ia seperti sedang berpikir keras. "Nanti aku tanyain deh ke om Danish," sambungnya, tapi Arifa hanya tersenyum datar.
"Oh iya Bi, aku ke sana dulu ya," pamit Arifa lalu menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang berkumpul membentuk sebuah lingkaran di sudut ruangan yang merupakan teman satu kelompok dengan Arifa.
"Oke, bye, Fa," kata Bianka sambil melambaikan tangan.
"Bye, Ka." Begitupun dengan Arifa yang mengangkat sebelah tangannya sekilas lalu pergi.
__ADS_1
Pantas aja aku lihat Aldi kemarin di toko alat tulis, ternyata Bianka juga kuliah di sini.
Kegiatan pun berlanjut hingga sore hari, tapi tidak dengan langit yang kurang bersahabat. Beruntung, Arifa selalu menaruh jas hujannya di dalam bagasi motor.
Selepas hari pertama ospek selesai dan semuanya telah membubarkan diri, Arifa langsung menuju tempat parkir. Setibanya di sana, iapun memilih untuk menunggu hujan sedikit reda. Sebab motor yang ia parkirkan tadi pagi, jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Fa!" Seseorang menepuk bahu Arifa sambil memanggil namanya.
"Eh, Bianka. Kamu mau pulang juga?" Arifa menoleh lalu bertanya.
"Iya nih." Bianka melihat ke sekeliling halaman kampus, seperti sedang mencari seseorang disana. "Kamu nungguin apa, Fa?" tanyanya sambil melihat Arifa.
"Nunggu hujan reda nih, aku pakai motor soalnya," jawab Arifa yang kemudian tersenyum.
"Oh gitu ... " Belum sempat Bianka menyelesaikan ucapannya. Sebuah mobil sedan pun berhenti di depan halaman kampus. Bianka tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mobil itu. "Fa, ikut aku aja yuk? biarin aja motor kamu di kampus, lagi pula hujannya belum reda juga. Kamu mau sampai malam di sini?" ajak Bianka kemudian pada Arifa.
"Gak usah, Bi. Ini aku juga mau pulang, aku duluan ya. Makasih tawarannya," kata Arifa lalu berpamitan dengan Bianka.
Arifa berjalan dengan mempercepat langkahnya dengan tas yang ia pakai, sementara ia jadikan payung di atas kepalanya. Setibanya di dekat motor, Arifa pun bergegas membuka jok dan mengambil jas hujan dari dalam bagasi lalu menutup jok motornya kembali.
Dengan gerakan cepat, ia memakai jas hujan. Setelah selesai, naik ke atas motor dan melajukannya.
Jalan yang cukup ramai membuat Arifa harus sabar untuk melewatinya. Sesekali terkena macet karena mobil angkot yang berhenti di posisi yang kurang tepat. Ada rasa kesal jika terjadi seperti itu. Bukan hanya membahayakan kendaraan yang ada di belakang dan samping, tapi juga penumpang yang hendak naik atau turun dari angkot tersebut. Apalagi ditambah kondisi hujan seperti ini, orang-orang yang berada di jalan pun seakan tidak sabar untuk segera tiba pada tujuannya.
Sedikit lebih lambat lima menit dari waktu biasanya, Arifa pun tiba di tempat kostnya. Sebelum masuk ke dalam, tak lupa untuk melepas jas hujannya terlebih dahulu, lalu menggantungnya di sebuah kapstok kayu yang tertempel di dinding samping jendela.
Kegiatan yang padat di hari ini, membuat tubuh Arifa merasa lelah. Ia memilih untuk segera mandi dan berganti pakaian.
...----------------...
Sementara itu, di dalam sebuah mobil. Bianka yang tadi dijemput oleh Aldi, seperti biasanya perempuan berwajah oriental itu selalu bercerita tentang apapun yang telah ia lewati seharian. Walau selama ini Aldi terlihat seperti tidak perduli dan dingin, tapi laki-laki itu bisa menjadi pendengar yang baik untuk Bianka.
__ADS_1
Tak lama, mobil yang di kendarai Aldi tiba di depan sebuah rumah mewah. Model serta warna rumah itu, sama persis dengan kediaman Bianka di kota D.
"Sayang, kamu mau mampir dulu?" tanya Bianka dengan lembut pada Aldi.
"Kapan-kapan ya, takut keburu malam. Aku ada meeting besok pagi," jawab Aldi dengan raut wajahnya yang datar. Bianka sudah terbiasa dengan sikap Aldi yang terlalu dingin padanya. Paling terpenting, Bianka selalu mencintai Aldi setulus hati.
"Oke, kalau gitu aku masuk ke dalam dulu ya, hati-hati dijalan Sayang," pamit Bianka dan Aldi mengangguk pelan.
"Jangan lupa pakai payungnya," ucap Aldi membuat Bianka mengangguk cepat.
Perhatian kecil seperti itupun yang selalu membuat hati Bianka bahagia dan menganggap Aldi semakin mencintainya. Lantas bagaimana dengan Aldi sendiri?
Setelah Bianka turun dari mobil dengan payung yang ia pakai. Aldi memastikan Bianka sudah masuk ke dalam rumah, barulah pergi dari sana.
...----------------...
Arifa baru saja memakai pakaiannya, ia memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur. Nyaman sekali. Tak lupa ia meraih ponsel yang berada tidak jauh darinya.
Terlintas dalam pikiran Arifa, kalau ia butuh hiburan. Akhirnya, iapun pergi ke sosial media untuk melihat artis kesayangannya itu, Haechan.
Tersenyum, tertawa, bahkan sampai berbunga-bunga. Itulah yang Arifa rasakan. Haechan memang satu-satunya hiburan yang paling ampuh untuk Arifa.
Mungkin kalau ada Farhan, Arifa tidak akan sebebas sekarang dan yang jelas tidak ada juga yang meledeknya. Saat sedang asik melihat live streaming, tiba-tiba layar ponselnya teralihkan ke sebuah panggilan telepon. Arifa melihat dengan teliti nomor baru yang tertera di sana.
"Siapa sih yang telepon pas lagi asik lihat ayang Haechan? nomor asing lagi. Males ah angkatnya." Arifa bermonolog sambil menggeser ikon berwarna merah. Seketika panggilan itu berhenti lalu tidak lama berselang, nomor yang tadi memanggil lagi.
Dengan rasa penasaran, Arifa pun terpaksa menjawabnya.
"Hallo?"
...Bersambung ......
__ADS_1