Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Lepas Pandangan


__ADS_3

"Itu artinya cocok banget gitu. Ya biasa namanya juga bahasa warwerwor ye. Jadi emang rada gemulai serta lemah lemboey gityu."


Arifa tergelak dengan tawanya saat mendengar laki-laki yang separuh jiwanya perempuan itu berbicara. Sekilas ia mengerti apa yang di sampaikan tukang salon itu.


Pintu salon pun terbuka, tampak seorang laki-laki yang mengenakan toxedo berwarna hitam serta kemeja putih sebagai dasarnya berdiri di ambang pintu. Semua yang ada di dalam pun terpesona melihat ketampanan laki-laki itu, begitu pun dengan Arifa.


Aduh El, jangan ganteng-ganteng dong. Jadi makin susah aku nahan perasaan ini. Batin Arifa meronta.


"Eng, ing, eng. Duh ada lekoy ey ey gantul bingitz!" seru salah satu pegawai salon laki-laki dengan separuh sisi kewanitaannya.


Melihat tatapan mereka yang terpana akan Eliezer di dalam salon, Arifa segera menyelesaikan transaksinya lalu pergi dari sana. Bisa-bisa semakin lama di dalam, dia akan ketularan dengan bahasa-bahasa aneh yang terkadang sukar di mengerti.


Keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil yang sama seperti pergi ke acara 'ulang tahun' Eliezer tempo lalu.


"Fa, kamu cantik banget sih," puji Eliezer pada penampilan Arifa kali ini. Bukan hanya sebuah bualan, melainkan itu adalah ungkapan tulus dari dalam hati.


"Terima kasih loh El pujiannya," kata Arifa yang berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan hanya memberikan senyum simpul.


Setelah keduanya memakai sabuk pengaman, mobil yang dikendarai langsung oleh Eliezer pun melaju menuju tempat tujuan mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh dari salon tadi, jadi mereka tidak membutuhkan wakti lama untuk sampai di kafe yang sebelumnya telah di share location oleh Bianka.


Terlihat dari luar, dekorasi acara lamaran Bianka dan Aldi sangat terpasang sangat indah dipandang mata. Jelas, Bianka maupun Aldi sama-sama berasal dari keluarga terpandang di negeri ini. Seorang image pengusaha terkenal dan sukses sangat melekat pada acara ini.


Tidak terbayang sebegitu sulitnya mendekor sesuai keinginan Bianka yang sempat ada perdebatan antara dirinya juga crew. Pihak event organizer pun menyanggupinya karena biaya yang mereka terima dari kedua orang tua Bianka sangatlah tinggi. Kisaran sepuluh hingga lima belas ribu triliun.


Arifa dan Eliezer keluar dari mobil lalu berjalan bersama masuk ke tempat acara. Langkah keduanya beriringan, tampak serasi. Tapi hanya kurang satu, tidak saling menautkan tangan. Sebenarnya Eliezer ingin, tapi dia menghormati Arifa yang masih belum mau melakukan itu.


"Selamat sore, boleh tunjukkan kartu undangannya?" sapa pelayan kafe yang berada di depan pintu masuk.


"Sore."


Arifa membuka layar ponselnya lalu menunjukkan gambar undangan yang tertuju padanya.

__ADS_1


"Silahkan di scan barcode terlebih dahulu, Kak."


Pelayan itu mengarahkan ke sebuah tablet yang ada di atas meja dengan layar yang penuh dengan satu kode barcode tersedia. Arifa pun melakukan apa yang diperintahkan pelayan itu.


"Terima kasih," ucap pelayan sambil menyatukan kedua tangannya di dada.


"Sama-sama."


Mereka pun masuk ke dalam. Benar saja, dekorasi bak sebuah pernikahan terpampang nyata ketika memasuki kafe itu. Sangat berubah total dari konsep kafe pada umumnya menjadi bagaikan sebuah ballroom hotel yang sangat megah. Fantastik!


Bianka dan Aldi telah berada di podium duduk berdampingan bak pengantin baru. Padahal ini adalah sebuah acara lamaran. Bianka yang melihat kedatangan Arifa, melambaikan tangan ke arah temannya itu.


"Selamat sore, dengan Kakak siapa namanya?" sapa dan tanya seorang pelayan lainnya yang ada di dalam kafe. Bertugas untuk mengarahkan tamu ke meja yang telah di sediakan.


"Arifa Nazwa."


"Kak Arifa ... " Setelah melihat ke layar tablet yang ada di tangannya, pelayan itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Lalu matanya terhenti pada sebuah meja dengan dua kursi berada hampir di tengah ruangan. "Mari ikut saya," lanjutnya dengan ramah sambil mempersilahkan Arifa dan Eliezer jalan lebih dulu kemudian ia menyusul.


Saat kedua tamunya telah duduk, pelayan itu pergi meninggalkan mereka. Namun tiba-tiba saja ponsel Eliezer terasa bergetar dari dalam saku celana. Eliezer mengeluarkannya lalu melihat nama yang memanggilnya saat ini di sambungan telepon.


Setelah mendapat persetujuan dari Arifa, dia pun keluar dari ruangan tempat acara seraya menjawab teleponnya. Orang yang dimaksud teman itu, adalah orang kepercayaan Eliezer.


Tanpa sepengetahuan Arifa, seorang perempuan sejak tadi memperhatikannya dari sudut ruangan. Tatapan perempuan itu sangatlah sinis dan tajam bak busur panah yang terbuat dari besi yang sangat runcing. Dingin dan begitu mematikan. Perlahan dia melangkah menghampiri Arifa yang tengah asik duduk bersantai sambil menikmati musik nan merdu sebelum acara dimulai.


Akan tetapi dia tidak langsung menghampiri Arifa, melainkan pergi ke sebuah meja dengan gelas yang berisi anggur merah tertata sangat rapih. Diambilnya satu gelas dari sana, kemudian dari dia berjalan dari belakang.


Tanpa sepengetahuan dia juga, Danish yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersama seorang wanita, melihat perempuan itu dengan raut wajah yang penuh dendam sedang berjalan menghampiri Arifa.


"Kamu cari tempat duluan ya, aku ada urusan," titah Danish pada perempuan yang sejak tadi menggelayut manja. Perempuan itu hanya mengangguk paham kemudian melepaskan tangannya dari lengan Danish.


Danish mengekor perempuan yang tak lain adalah Naura. Dia ada di sana karena ayahnya yang menjadi kolega orang tua Bianka.

__ADS_1


Semakin Naura mendekat kepada Arifa, semakin cepat pula langkah kaki Danish untuk mendahului Naura.


BYUR!!! Secepat kilat Danish menghalangi anggur merah itu dari wajah Arifa yang kebetulan menoleh ke belakang--dianggapnya ada Eliezer di sana--. Malu, Naura benar-benar memalukan ayahnya kali ini. Dirinya bahkan gelagapan saat anggur merah itu menyiram toxedo berwarna putih yang sedang Danish pakai.


Arifa segera bangkit dari duduknya dengan wajah kaget. Terlebih Naura yang salah sasaran.


"Kamu apa-apaan Naura!" sentak Arifa, menelisik tajam ke arah Naura yang mulai panik.


Sedangkan Danish hanya mengepalkan tangannya lalu pergi dari hadapan kedua orang perempuan itu.


"Bagus! hebat lo Arifa. Dilindungi sama dua orang laki-laki yang kaya raya serta tampan. Pakai pelet apa sih lo tuh?" Ucapan Naura sangat benar-benar membuat Arifa merasa dipermalukan.


PLAK!!! Tamparan itu berhasil mendarat mulus di pipi Naura.


"Jangan asal bicara kamu Naura!" bentak Arifa dengan bola mata yang melebar.


Eliezer yang melihat itu langsung menghampiri mereka.


"Ada apa ini? kenapa kamu tampar Naura, Fa?"


Dengan spontanitas dan drama yang penuh totalitas, Naura langsung duduk bersimpuh sambil memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Arifa.


"Huhuhu, kamu jahat banget sama aku Arifa. Padahal aku cuma mau kasih kamu minum, tapi kamu malah menepis pemberianku. Salah aku apa? aku udah ngalah buat gak ngejar Eliezer lagi. Tapi kamu jahat banget Fa."


Benar-benar licik dan bermuka dua. Arifa hanya tersenyum menyeringai saat melihat itu.


"Fa kok kamu bisa kayak gitu sih sama Naura?"


Dari pertanyaan yang dilontarkan Eliezer sudah menandakan kalau laki-laki itu tidak melihat dari awal kejadian sebenarnya. Namun Arifa tidak menghiraukannya. Harusnya memang Arifa yang marah, tapi ironisnya tatapan Eliezer pada perempuan berwajah tirus itu kini telah berbeda, kesal dan penuh amarah. Eliezer bakan membantu Naura untuk berdiri.


"Hahaha, memang dasarnya kalian berdua itu cocok banget. Terima kasih udah nunjukkin ke aku, kalau kamu bukan laki-laki yang patut aku perjuangkan. Aku salah udah sempat punya rasa sama kamu El. Permisi."

__ADS_1


Arifa mengambil tasnya lalu pergi dari tempat acara itu.


...Bersambung ......


__ADS_2