
Setelah Amora dibawa pergi oleh perawat rumah sakit jiwa. Kini Danish maupun Rinto bisa bernapas lega. Satu hama telah mampu mereka singkirkan.
Beruntung orang kepercayaan Danish segera menemukan informasi yang akurat. Jadi bukti yang diterimanya pun mampu menjadi senjata untuk memusnahkan Amora dan juga ayahnya.
"Pak, Bu ... kalau begitu saya permisi," pamit Rinto sambil menunduk, lalu pergi dari ruang kerja Danish.
Sementara itu, Arifa yang sejak tadi terdiam mendadak menghela napas panjang. Ia kemudian berjalan ke arah sofa lalu duduk di sana.
Danish melirik istrinya dan ikut duduk bersama di sofa tersebut. "Apa yang masih mengganjal di hatimu Sayang? tanyanya dengan hati-hati.
"Aku hanya berpikir, kalau aku kasih kamu kesempatan kedua ... apa aku gak bakal dikecewain lagi?" ucap Arifa lalu men des ah pelan.
Danish pun baru menyadari, diusia Arifa yang baru menginjak sembilan belas tahun, belum mampu sepenuhnya untuk berpikir dewasa. Bahkan yang sedang mereka perdebatkan itu bukan logika Arifa, melainkan perasaannya.
"Sayang ... " Danish mendekatkan dirinya duduk bersebelahan dengan sang istri tanpa ada jarak diantara keduanya. "Mau kan maafin aku dan kasih aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku yang kemarin? aku gak akan maksa kamu harus detik ini menerima. Karena aku tahu, perasaan tidak bisa diubah seperti mudahnya membalikkan telapak tangan."
"Ya itu kamu tahu," jawab Arifa lalu menyandarkan tubuhnya. "Kecuali kalau kamu memang beneran selingkuh dari aku ... I'm sorry good bye."
"Jadi kamu maafin aku Sayang?" tanya Danish dengan penuh Harap. Matanya seketika berbinar.
"Iya aku udah maafin kamu dari kemarin juga, tapi bukan untuk melupakan. Sebab kejadian kemaren benar-benar membuatku trauma," jawab Arifa dengan wajahnya yang mendadak murung.
"Sini aku ingin peluk kamu," pinta Danish sambil merentangkan kedua tangannya. Arifa pun mengangguk lalu memeluk suaminya. Walau masih terasa asing, tapi perempuan itu mencoba keluar dari zona kelamnya.
"Setelah ini kamu mau kemana Sayang?" tanya Danish yang masih memeluk istrinya. Arifa pun menengadah menatap suaminya itu.
"Ke rumah sakit, hari ini adalah kontrol lukaku. Kalau hasilnya bagus, bisa langsung lepas perban," jawab Arifa, ia ikut tersenyum ketika melihat suaminya juga tersenyum.
"Aku antar ya!" seru Danish dengan penuh semangat.
"Kamu yakin?" tanya Arifa sedikit ragu.
"Yakin dong!" kata Danish lagi memastikan.
"Ya udah kalau gitu, ayuk!" ajak Arifa yang kemudian keduanya beranjak dari sofa tersebut.
Arifa pun merapihkan pakaian suaminya. Rindu rasanya setiap pagi memilih serta memasangkan dasi untuk suaminya itu. Danish yang melihat tingkah Arifa menyunggingkan senyumannya kembali.
Perlahan laki-laki itu mengangkat lembut dagu istrinya. Dua pasang mata itu saling bertemu. Danish memajukan wajahnya, menuju tempat favorite yang juga membuatnya begitu candu.
Mata Arifa seketika terpejam ketika bibir Danish menyentuh lembut bibirnya yang sedikit terbuka. Danish pun memulainya. Mengecup, menge sap, serta lebih dalam lagi merasakan kenikmatan setelah libur panjang.
Beberapa menit kemudian, Danish menghentikannya. Laki-laki itu tersadar kalau Arifa belum waktunya untuk dicum bui. Meski ada bagian yang sudah menegang, tetap saja Danish harus bisa menahannya sampai waktunya tiba.
__ADS_1
...----------------...
Mobil yang Danish kendarai berhenti sejenak di sebuah restauran junk food untuk menuruti keinginan Arifa sebelum pergi ke rumah sakit. Dengan senang hati, demi hubungan keduanya membaik kembali apapun akan Danish lakukan supaya Arifa bahagia.
"Apa ada lagi yang mau dipesan Sayang?" tanya Danish sambil mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana.
Arifa pun menggelengkan kepala, iya yakin tidak ada yang diinginkannya lagi.
"Baik, ditunggu pesanannya ya," ucap penjaga kasir sambil menerima black card milik Danish.
Setelah digesek dan berhasil, struk pembelian pun keluar dan kartu itu diberikan kembali kepada pemiliknya. Danish dan Arifa pun kemudian menuju kursi tunggu yang letaknya tidak jauh dari kasir.
Sesaat kemudian, pandangan keduanya tertuju pada sebuah tempat bermain khusus anak-anak yang telah disediakan oleh restauran itu. Sorot mata sendu pun tampak pada sepasang suami istri itu.
"Apa aku bisa hamil lagi ya?" tanya Arifa secara spontan. Danish yang mendengar itu langsung menoleh ke arah istrinya.
"Kenapa enggak? aku bisa kok bikin kamu hamil lagi!" seru laki-laki itu sangat bersemangat sekali.
Arifa mengerutkan keningnya seraya menoleh ke arah Danish yang duduk disebelahnya.
"Kenapa mukanya seperti itu?" tanya Danish lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gak apa-apa."
"Atas nama Danish?" tanya penjaga kasir itu memastikan.
"Iya," jawab Danish sambil meneliti dan mengingat-ingat pesanan yang sebelumnya dipesan olehnya.
Setelah sesuai, Danish membawa makanan dan juga minuman itu menghampiri Arifa.
"Yuk Sayang! kita makan di mobil aja," ajak Danish lalu mendapat anggukkan kepala dari istrinya. Keduanya pun keluar dari restauran itu menuju tempat parkir.
...----------------...
Setibanya di rumah sakit, Danish mengurus administrasi untuk Arifa terlebih dahulu. Proses administrasi pun tidak memakan waktu yang lama. Hanya beberapa menit dan selesai.
"Nyonya Arifa!" sapa seseorang yang tiba-tiba memegang lengan Arifa, membuat sang empunya terkejut.
"Suster!" seru Arifa lalu memeluk perawat yang kemarin menemaninya selama di rumah sakit.
Lalu perawat itu melihat Danish berdiri di samping Arifa. Seulas senyum pun ditunjukkan oleh perawat itu. Hatinya sedikit lega karena suami Arifa sudah mau menerima kenyataan yang ada.
"Tuan," sapanya menunduk hormat.
__ADS_1
"Sus, aku ke dokter dulu ya. Mau cek kondisi perban," ucap Arifa, pamit dari hadapan perawat itu.
"Iya silahkan Nyonya, semoga lukanya sudah kering ya."
"Aamiin Sus, yuk mari."
Danish meraih tangan Arifa lalu digenggam. Rasanya bunga-bunga di dalam taman hati perempuan itu mulai tumbuh kembali setelah mati di terpa hama kekecewaan.
Tidak berselang lama, keduanya masuk ke dalam ruang dokter kandungan yang kemarin sempat mengoperasi serta merawat selama Arifa di rumah sakit ini.
"Mari Nyonya langsung saja rebahan di atas kasur," titah dokter itu yang kemudian beranjak dar tempat duduknya.
Arifa yang dibantu Danish merebahkan tubuhnya di atas kasur yang telah disediakan. Perawat yang membantu dokter itu sedang mempersiapkan berbagai macam keperluan untuk melepas perban.
"Bagaimana Nyonya apa selama di rumah ada keluhan diarea perut?" tanya dokter yang mulai membantu Arifa mengangkat dress yang ia pakai dengan kaki sampai paha yang di tutupi oleh selimut putih.
"Gak ada Dok. Jalan pun udah ringan. Terus nyerinya udah berkurang juga," jawab Arifa yang terkadang meringis saat dokter menekan-nekan di area dekat jahitannya.
"Iya, ini udah bagus. Kondisi perutnya juga tidak keras dan tidak ada gumpalan. Ayuk Sus," ucap dokter itu seraya memanggil perawat untuk segera menaruh perlengkapannya di dekat Arifa terbaring.
Dokter pun membuka secara perlahan perban tersebut dan kemudian bernapas lega karena hasilnya sangat memuaskan. Hanya tampak garis dan tidak menonjol. Arifa pun di terapi kembali untuk gerak miring kanan dan kiri, terngkurap sampai terbaring lalu duduk.
Arifa tampak biasa saja, berbeda dengan Danish yang sesekali meringis seakan dia yang merasakan sakit pada luka itu. Setelah dilihat tidak ada keluhan apapun, perban pun resmi di buka dengan catatan jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu.
Setelah konsultasi cukup lama, Arifa dan Danish pun keluar dari ruangan dokter itu dan pulang tanpa diberikan resep obat dari dokter karena sudah dinyatakan sembuh dan sehat.
Dalam perjalanan ke tempat parkir, ponsel Arifa berdering. Ia segera mengeluarkan ponselnya di dalam tas yang ia pakai. Tertera nama Farhan di layar yang menyala tersebut.
"Coba angkat Sayang, siapa tahu penting," usul Danish yang mengajak istrinya menepi sejenak mencari tempat duduk untuk menerima panggilan.
"Hallo saya dari pihak kepolisian ingin mengabarkan kalau pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di ruas jalan tol dari arah bandara menuju kota D. Dan dia meninggal di tempat."
Tangan serta bibir Arifa bergetar. Lalu menatap Danish dengan air mata yang sudah terjatuh entah sejak kapan.
"Ada apa Sayang?" tanya Danish dengan lembut. Arifa tidak kuasa untuk menjawabnya. Perempuan itu langsung memberikan ponselnya kemudian memeluk erat suaminya.
Danish pun mengambil alih sambungan telepon itu. "Hallo, ada apa ?" tanyanya yang merasa kesal karena melihat Arifa menangis sampai tergugu.
Kemudian orang yang menelepon dari pihak kepolisian itu mengulanginya kembali. Danish pun tersentak kaget, pantas saja Arifa sampai menangis pilu seperti ini.
Setelah telepon ditutup, Danish duduk disebelah Arifa, memeluk memberi ketenangan untuk istrinya itu.
"Kak Farhan!!! " teriak Arifa.
__ADS_1
...Bersambung ......