
"Hallo?" sapa Bianka pada seseorang diujung telepon. Namun sayangnya belum ada jawaban, hanya ada suara kebisingan di sana.
"Hallo? Om? Ada apa?" ucap Bianka lagi karena Danish tidak menjawabnya sejak tadi. Lalu, Bianka tiba-tiba mendengar suara aneh di ujung telepon itu.
"Agak naik Pak, nah iya masukinnya pelan-pelan ya. Hati-hati, aduuh. Kok saya ngeri ya. Pelan-pelan ... "
Kedua mata Bianka membola seketika, mulutnya pun tak sadar terbuka lebar dengan sebelah telapak tangan yang menutupinya.
"Astaga, Om Danish!" Bianka teriak sekencang mungkin, lalu terdengar lagi suara Danish sedang mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Bianka merasa mual lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Astaga, itu perempuan siapa? bukannya om Danish mau lamaran sebentar lagi?Ampun deh laki-laki kalau punya kekuasaan kok begitu. Pakai acara masukin hati-hati. Tuh kan pikiranku jadi travelling kemana-mana," gerutu Bianka bermonolog sambil berjalan menuju lobby kampus. Tanpa ia sadar celotehannya itu, berlaku pada kekasihnya yang juga memiliki kekuasaan tak jauh beda dengan Danish.
...----------------...
Di suatu ruangan tampak seorang laki-laki dan perempuan tengah duduk di sofa. Keduanya merasa kelelahan dan masih mengatur napas mereka masing-masing.
"Pak, coba dari dulu ruangan ini di rapihkan. Jadi kita gak perlu repot-repot beresin sendiri. Lagi pula, kenapa sih Pak Danish mau turun tangan pindah-pindahin meja, lemari dan segala macam? Kan udah saya bilang Pak, panggil OB," kata perempuan yang kini tengah bersamanya itu terus menggerutu, membuat Danish merasa terusik pendengarannya.
"Pak Danish memang begitu Kinanti. Lain kali kalau bicara dengan orang yang lebih tu ... maksudnya dewasa, jadi kamu harus sopan," sahut Rinto yang ikut bergabung dengan mereka.
Kinanti merupakan adik sepupu Rinto yang bekerja satu perusahaan dengannya. Ia ditempatkan pada bagian General Affair di sana. Dibalik bicaranya yang suka ceplas-ceplos, diam-diam ia menyukai sosok Danish. Dan hari ini dewi fortuna seolah berpihak padanya, ia diperintahkan oleh Rinto untuk membantu pekerjaan Danish.
"Pak kalau boleh tanya, ruangan ini akan digunakan untuk apa?" tanya Kinanti yang kemudian berdiri dan memperhatikan tata letak ruangan itu.
__ADS_1
"Sementara menunggu gedung perkantoran di sini jadi dan aktif, ruangan ini akan digunakan untuk training ... Oh iya Rinto, bagaimana tentang lowongan kerja yang kamu sebarkan di kampus tempat kuliah Bianka?" jawab Danish lalu bertanya pada Rinto.
"Sejauh ini sudah ada seratus lima puluh tiga orang pendaftar yang masuk ke dalam email saya, Pak. Anehnya, kebanyakan dari mereka itu dari jurusan ekonomi dan sekertaris, untuk jurusan hukum sendiri belum ada," jawab Rinto sambil melihat ke layar tablet yang ada di tangannya.
"Mas Rinto, sebentar lagi akan tersingkir, hahaha ... kalau ada sekertaris baru dan itu perempuan seksi serta wajah yang menarik, bagus juga deh buat naik client supaya menang tender besar," ledek Kinanti pada kakak sepupunya dengan sikap bar-bar yang terkadang tidak tahu tempat.
Seketika tangan Kinanti di tarik oleh Rinto ke luar ruangan. Keduanya pun saling berdebat di tempat yang tidak terjangkau oleh pandangan Danish. Sementara di ruangan yang baru saja di dekorasi ulang itu, Danish mencari keberadaan ponselnya. Ia berkeliling di sana dan ternyata tergeletak pada sebuah lemari tanpa pintu. Kemudian saat membuka layarnya, mata Danish seketika terbuka lebar. Terlebih saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Bianka.
"Om, kalau mau ninaninu jangan sambil telepon aku dong! geli tahu gak sih dengernya."
Danish menepuk keningnya. Ia bahkan sampai lupa untuk berbicara di telepon dengan Bianka tadi, dan malah asik duduk di sofa. Karena tidak ingin memperkeruh keadaan, Danish segera keluar dari sana dan menuju kediaman Bianka diantar oleh sopir pribadinya. Ia menemui keponakannya itu bukan untuk menjelaskan masalah yang didengar oleh Bianka, melainkan untuk bertanya sesuatu.
...----------------...
"Siang Tuan," sapa satpam yang berjaga di depan rumah.
"Siang, kamu sudah lihat Bianka pulang kuliah belum?" tanya Danish sebelum masuk ke dalam rumah. Satpam itu tampak berpikir sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Belum lihat Tuan, biasanya sih kalau jam segini Non Bianka belum pulang dia pergi sama pacarnya atau gak temannya yang waktu tengah malam ke sini itu," jelas satpam. Danish hanya mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana untuk menghubungi Bianka.
"Hallo, Bianka kamu dimana?" tanya Danish yang langsung to the point sebelum Bianka menyapanya lebih dulu saat menjawab telepon.
"Aku di kafe Om, ada apa? udah selesai skidipabab-nya ?" jawab Bianka dan juga bertanya perihal yang di dengarnya tadi.
__ADS_1
"Sama siapa? bisa pulang sebentar tidak?" Danish malah bertanya balik dan tidak menghiraukan pertanyaan Bianka sebelumnya.
"Baru juga sampai Om, aku sendirian. Bosen di rumah jam segini. Kalau mau Om ke sini aja," jawab Bianka yang sama keras kepalanya dengan Danish.
"Ya sudah, share location ke nomor WhatsApp Om sekarang!" Kemudian sambungan telepon pun diputus oleh Danish.
Sementara Bianka yang baru saja duduk di kursinya berdecak lalu mengumpat, "Emang dasar Om lucnuck, enak banget kalau matiin telepon!"
Setelah mendapatkan lokasi yang dikirimkan oleh Bianka, Danish masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopirnya untuk pergi ke kafe yang tertera dalam maps. Sopir pun dengan patuh melajukan mobilnya. Sang Tuan duduk bersantai dikursi penumpang belakang sambil fokus pada layar ponselnya.
Tak lama, Danish tiba di kafe dan segera turun dari mobil. Saat tiba di dalam, laki-laki berwajah oriental itu mencari keberadaan Bianka di sana. Tak butuh waktu lama untuknya bisa menemukan keponakan semata wayangnya itu sedang duduk sendiri sambil menikmati live music yang ditemani ice latte dan sepotong red velvet cake di atas meja.
"Bianka, kamu sendiri di sini? tumben tidak sama Aldi atau temen kamu siapa itu namanya?" tanya Danish, berpura-pura tidak ingat nama Arifa.
Bianka mengerutkan keningnya saat Danish tiba di depannya dan berbasa-basi. "Om sehat kan? tumben banget basa-basi," katanya. Danish pun ikut duduk dalam satu meja yang sama dengan Bianka. "Apa jangan-jangan Om suka ya sama Arifa? hayo ngaku ... " ledeknya kemudian.
Wajah Danish seketika menjadi merah padam. Ia seolah dipandu harus menjatuhkan harga dirinya lebih dulu supaya bisa lebih dekat dengan Arifa. Walau sebenarnya Danish punya tujuan lain, sebisa mungkin ia harus bermain dengan halus.
"Bianka, teman kamu itu jurusan apa?" Danish bertanya lagi. Bianka menggangkat kedua bahunya sambil memakan cake itu sendok demi sendok.
"Kenapa kemarin Om gak tanya langsung aja sam dia?" Bianka malah bertanya balik. Danish menghela napas panjang.
"Jadi gini ... "
__ADS_1
...Bersambung ......