
"Apaan sih Om! udah sana pulang!" Dengan sekuat tenaga Arifa terus mendorong pintunya.
"Arifa buka dulu, saya mau ngomong!" Danish tak ingin kalah, dia mendorong balik pintunya.
BRAK, KRETEK!
Pintu pun terlepas dari engselnya, belum lagi ada retakan pada bagian tengah. Sungguh memalukan. Apakah pantas keduanya berulah seperti itu? Para tetangga kost di kanan dan kiri yang mendengar keributan mereka seketika langsung berhambur keluar. Rasa malu bercampur kesal terlihat pada wajah keduanya.
Arifa menarik napasnya dalam-dalam dan dihembuskan perlahan, sambil meneliti semua orang yang sedang berkumpul di hadapannya. Kebanyakan dari mereka terlihat sedang menahan tawa dengan mengulum bibir. Ah, benar-benar seperti bulan-bulanan orang.
"Maaf ya, semuanya," ucap Arifa dengan rasa canggung karena terlanjur malu.
Suara orang-orang bergumam dan tertawa mengusik telinga Arifa maupun Danish, lalu membubarkan diri. Mereka tidak tau kalau Danish-lah pemilik tempat kost di sini.
"Ganti rugi pintunya sekarang!"
Danish tanpa rasa bersalah berkata demikian, Arifa pun langsung tersulut emosi.
"Enak aja! Gak mau! Salah Om sendiri, siapa suruh ikut dorong pintu. Makanya kalau jadi tamu ke tempat orang, datang baik-baik, sopan."
"Apa-apaan dia malah menasehatiku! menyebalkan," umpat Danish dalam hatinya. Kalau sudah begini, dia lebih baik mengalah dari seorang perempuan. Daripada berusaha untuk benar, tetap saja salah. Dia menghembuskan napasnya perlahan.
"Oke, sorry."
Baru kali ini dia mengalah hanya karena perempuan yang berdiri dihadapannya. Padahal selama ini, tidak ada yang mampu melunakkan keras kepalanya itu. Apa karena suara pintu yang rusak tadi sehingga egonya menurun secara drastis?
Sementara Arifa masih berdiri sambil bersilang dada dan enggan menatap Danish.
"Baiklah, sekarang bolehkah saya bicara denganmu?" tanyanya dengan raut wajah yang dia buat seteduh mungkin.
"Ya udah cepat, mau ngomong apa? saya banyak tugas," jawab Arifa dengan culas. Danish pun berdecak sambil berkacak pinggang.
"Di dalam aja. Nanti kalau di luar banyak yang dengar," kata Danish lalu seenaknya masuk ke dalam melewati Arifa begitu saja.
__ADS_1
"Hei!" Arifa berteriak dengan kedua tangan yang ia kepalkan kuat-kuat.
Danish, Danish ... karena terbiasa dengan kekuasaan yang dimilikinya, terkadang dia tidak tahu tempat untuk menentukan sikap. Mungkin setelah ini Danish akan menjadi musuh terbesar untuk Arifa. Yang jelas, perempuan itu akan sangat marah jika ada yang mengganggu privasinya.
"Kenapa kamu tidak menaruh kursi di ruangan ini? hanya ada karpet dan meja kecil," ucap Danish, ketika melihat ke sekeliling ruang depan yang tampak kosong.
"Suka-suka saya! Gak usah banyak komentar. Cepat katanya mau ngomong." Arifa semakin kesal karena merasa tersinggung dengan ucapan Danish barusan.
"Emang ya ini orang kalau ngomong gak bisa di ayak dulu. Benar-benar ngeselin!" kata Arifa dalam hati. Rasanya ingin sekali bilang secara langsung, tapi dia urungkan karena belum punya tempat pengganti untuk tinggal.
Danish merogoh ke dalam saku celana lalu mengeluarkan sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang. Kemudian dia membuka galeri foto. Setelah itu, dia tunjukkan sebuah foto pada Arifa dari layar ponselnya tersebut.
Arifa mengerutkan keningnya, dia mengenali seorang perempuan yang ada di foto itu yang tak lain adalah Sinta, ibu kandungnya. Akan tetapi laki-laki yang ada di samping mamahnya difoto itu bukanlah Zakaria, melainkan orang yang pernah dia lihat di sebuah foto keluarga, sewaktu berkunjung ke rumah Danish yang ada di kota D. Dia beranggapan kalau laki-laki itu pasti ayahnya Danish, sebab dari segi wajah dan postur tubuh sangat mirip, pikir Arifa demikian.
Kedua matanya kini beralih dari layar ponsel ke wajah Danish. Tatapannya penuh tanda tanya, seolah berbicara 'kok bisa? ada apa sebenarnya?' .
Danish kemudian mematikan layar ponsel miliknya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Kakinya tiba-tiba melangkah ke arah jendela yang tertutup oleh gorden, kedua tangannya pun masuk ke dalam saku celana. Dia membuka gorden tersebut, dan menatap ke luar jendela.
Tarikan napas yang begitu halus terdengar oleh Arifa, membuat perempuan berwajah tirus itu menghampiri Danish lalu berdiri di sebelahnya. Melihat dalam-dalam garis wajah yang begitu tegas, dan menunggu laki-laki itu menjelaskan kepadanya.
Entah kenapa tiba-tiba darah di dalam tubuh Arifa berdesir hebat. Dadanya terasa sesak, dia bahkan menahan napasnya sendiri untuk sejenak. Terasa seakan ada yang bergemuruh di relung hatinya yang paling dalam. Tapi dia masih tetap diam dan menunggu Danish berbicara lagi.
"Semua berawal ketika ibu saya mulai sakit-sakitan. Saat itu usia saya menginjak dua puluh lima tahun. Usia dimana saya memang sudah berada dalam fase 'bukan anak kecil lagi'. Ayah saya sering pulang malam bahkan terkadang tidak pulang sama sekali. Saya pernah mengikutinya, tapi percobaan pertama gagal. Ayah saya cepat sekali melesat saat berada di persimpangan jalan. Mungkin dia mengetahui keberadaan saya. Kemudian, saya pun memilih fokus dengan kesehatan ibu yang semakin hari untungnya semakin baik. Dan saat itu, saya tinggal pergi ke luar negeri untuk melebarkan sayap di dalam dunia bisnis. Kakak saya--orang tua Bianka--memang telah lama menetap di luar negeri. Dua tahun di sana, saya sama sekali tidak mendengar apapun yang janggal dari sikap ayah kepada ibu. Akan tetapi ketika saya pulang, sebuah tragedi yang tidak pernah saya duga sebelumnya terjadi. Ibu bertengkar hebat dengan ayah. Kemudian melakukan bunuh diri. Saya marah, sangat marah kepada ayah. Saya tidak tinggal diam, kemudian mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Hingga akhirnya orang suruhan saya memberikan foto itu, yang setelah saya tahu, perempuan itu adalah istri rekan bisnisnya sendiri. Sin--ta."
Arifa menarik napas dalam-dalam lalu mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Seketika dia pun bingung mau menjawab apa. Dia hanya bisa diam, berusaha berpikir keras.
"Sekarang, apa Om udah ketemu dengan mamah saya? Om tahu keberadaan mamah dimana sekarang?" Kedua mata Arifa terkunci pada sepasang mata yang ada di depannya. Mencari sebuah jawaban di dalam sana. Semakin lama, sebuah air di ekor matanya mulai membendung.
Danish tidak langsung menjawabnya. Dia malah mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.
"To, tolong hubungi supermarket bangunan di kota ini untuk segera menggantikan pintu tempat kost milik saya, di pintu nomor tiga. Segera!" perintah Danish lalu memutuskan sambungan telepon setelah Rinto berkata 'Siap Pak'.
"Sebelum langit mulai gelap karena sebentar lagi matahari akan tenggelam. Lebih baik kamu ikut saya sekarang," titah laki-laki itu yang lagi-lagi seenak jidatnya sambil menggenggam lengan Arifa.
__ADS_1
"Tunggu." Arifa mematungkan tubuhnya di tempat sambil memberi tatapan kecewa kepada Danish. "Om belum jawab pertanyaan saya," lirihnya.
"Makanya ikut dengan saya sekarang. Setelah itu kamu akan tahu jawabannya!" sentak Danish, merasa kesal.
Arifa pun terkejut, baru saja dia seperti melihat sisi lain dari Danish. Sisi sebuah kebaikan di wajah teduhnya beberapa saat yang lalu. Dia pun membuang napas kasar, lalu mau ikut dengan Danish.
...----------------...
Mobil yang ditumpangi Arifa dan Danish berhenti tepat di parkiran sebuah pemakaman umum. Seketika berhasil membuat Arifa menoleh kepada laki-laki yang sejak tadi duduk di sebelahnya.
"Kenapa kita ke sini Om?"
Lagi-lagi Danish tidak menjawabnya. Dia memilih turun dari mobil ke arah pintu masuk pemakaman. Arifa berdecak kesal.
"Apa bos Bapak tipe orang yang sangat culas? buat jawab pertanyaan aja harus ikut dengannya lebih dulu?" tanya Arifa, merasa kesal dan dilimpahkan kepada sopir yang duduk dikemudinya. Sementara sopir itu hanya menoleh dan mengangguk sebagai jawaban.
Arifa pun ikut turun dan menghampiri Danish yang masih berdiri di depan gerbang.
"Kenapa lama sekali sih turun dari mobilnya?" tanya Danish, sedikit meninggikan suaranya. Namun Arifa hanya mengangkat kedua bahunya. "Ikuti saya!" titah Danish yang kemudian melangkahkan kakinya, masuk ke dalam sana.
Arifa mengekor di belakang punggung tinggi dan kekar milik Danish. Sesekali dia menoleh ke kanan dan kiri. Tiba-tiba Danish menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah batu nisan seseorang.
BRUGH!
Danish menghadapkan tubuhnya ke depan batu nisan itu. Sesaat Arifa berhasil menubruk punggungnya.
"Kok berhenti sih Om!" kata Arifa, protes.
"Lihat ke sana," ucap Danish yang kali ini lebih santai. Matanya melirik ke arah batu nisan itu. Arifa pun langsung mengikuti pandangannya.
Tertera dalam batu nisan, ada nama Sinta di sana. Tubuh Arifa mulai bergetar seakan ingin tumbang ketika membaca tulisan tanggal wafatnya adalah tanggal di hari ini. Dia kemudian duduk berlutut di kaki makam mamahnya. Tanpa air mata, tapi hanya sebuah tatapan kosong.
"Apa ini mimpi? Mah, kenapa kita bertemu tapi disaat Mamah telah berpulang? Apa yang terjadi pada Mamah?" tanya Arifa yang ia ucapkan dalam hati. Seolah bertanya langsung pada mamahnya yang telah terbaring dibawah tumpukkan tanah merah yang masih basah serta taburan bunga diatasnya.
__ADS_1
Apa yang akan dikatakan Danish setelah ini?
...Bersambung ... ...