
Sebelum tiba di rumah, kakak beradik itu mengisi perut mereka di salah satu restauran padang yang biasa mereka beli. Makanan itu memanglah salah satu kesukaan mereka sejak kecil. Apalagi jika dulu Sinta sedang sibuk karena banyak pesanan pakaian yang akan dijahitnya.
Selesai makan, keduanya langsung pulang ke rumah karena waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang. Dan orang yang akan melihat dan membeli rumah mereka sepakat pukul tiga sore ini. Itu artinya ada waktu dua jam lagi untuk keduanya beristirahat.
Saat mobil telah terparkir di halaman rumah, Arifa segera turun dan kemudian masuk ke dalam rumah. Sebelum pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua, Arifa mengambil gelas untuk minum. Siang ini terasa sangat panas, padahal tadi pagi sempat mendung dan dikira akan turun hujan. Tapi ternyata salah. Matahari justeru ingin bertahta membagikan sinarnya.
Setelah minum cukup banyak, Arifa pergi ke kamarnya. Sedangkan Farhan pergi ke kamar orang tuanya untuk mencari kembali kekurangan berkas-berkas rumah mereka.
Arifa menutup pintu kamarnya lalu melepaskan tas dan juga sepatunya. Kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Nyaman. Arifa sampai mengepak-ngepakkan tangan dan juga kakinya seolah seperti kupu-kupu. Lalu ia berguling dan memposisikan tubuhnya tengkurap. Sebentar lagi kamar ini tidak akan ia tempati lagi. Arifa menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian beranjak dari tempat tidur dan mulai membereskan barang-barang miliknya yang akan ia bawa ke tempat kost.
...----------------...
Bel di rumah tiba-tiba berbunyi. Sementara Arifa masih mengemas barang-barangnya.
"Kak! ada yang dateng. Bukain pintunya dong!" teriak Arifa dari dalam kamarnya dan terdengar oleh Farhan yang tengah asik menonton televisi.
"Astaga itu suara kenapa kayak kaleng bekas si Arifa!" umpat Farhan sambil menggelengkan kepala dan beranjak dari duduknya.
Farhan membuka pintu, ada dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang kini berdiri dihadapannya. Wajah mereka terlihat seperti masih seumuran dengannya.
"Selamat sore, dengan pak Farhan?" tanya seorang laki-laki berpakaian rapih dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana panjang dan ia juga membawa sebuah map coklat ditangannya.
Dilihat dari pakaian yang dipakai salah satu dari tiga orang itu, Farhan mengenalinya. Sebab, aplikasi yang ia gunakan itu resmi.
"Iya benar, dari Olox Properti ya?" jawab Farhan yang kemudian bertanya kembali.
"Betul sekali, Pak. Saya Vian, marketing dari Olox Properti ... dan ini bapak dan ibu yang minat untuk membeli rumah Pak Farhan," jelas orang yang bernama Vian itu.
"Oh gitu. Kenalin saya Farhan, anak sulung dari pemilik rumah ini," ucap Farhan sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Arsen dan ini istri saya, Dona," kata Arsen dan mereka pun saling berjabat tangan begitupun dengan Dona.
"Bapak ibu ini pasangan yang baru saja menikah dan sedang mencari tempat tinggal yang nyaman untuk jangka panjang, semoga rumah Pak Farhan cocok dengan keinginan Bapak dan Ibu," ucap Vian.
__ADS_1
"Kalau begitu mari silahkan masuk," ajak Farhan sambil memberi jalan untuk tamunya.
"Pak, boleh gak kita lihat-lihat ruangan yang ada di rumah ini?" tanya Dona kepada Farhan.
"Boleh silahkan, mari biar saya antar," jawab Farhan.
"Kalau ke atas dulu boleh?" tanya Dona kembali.
Farhan pun menjawab. "Tentu saja."
Arifa baru saja selesai merapihkan kamarnya dengan kardus yang juga disusun rapih di sudut ruangan, terkejut saat kedatangan orang yang ingin membeli rumahnya.
"Fa, kamu baru selesai?" tanya Farhan sambil membuka pintu kamar adiknya lebar-lebar.
"Eh, Kak ... iya nih baru aja selesai," jawab Arifa sambil tersenyum kepada tamu.
"Ini ada yang mau lihat kamarmu," ucap Farhan.
"Kamar ini luas juga ya, cocok untuk jadi kamar anak kita nanti. Iya gak Mas?" kata Dona lalu bertanya pada suaminya.
"Iya kamu benar, jadi apa kamu suka?" tanya Arsen pada Dona.
Farhan dan Vian pun tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Begitu pula dengan Arifa.
"Sejauh ini aku suka, tapi kan kita belum lihat ruangan di lantai bawah," kata Dona.
"Daripada penasaran, mari saya antar kembali ke bawah," ajak Farhan dan disetujui oleh pasangan muda itu.
Kali ini, Arifa pun ikut bersama mereka. Saat telah berada di lantai bawah, satu per satu ruangan di sana mereka singgahi. Hingga tepat di depan ruang tempat dulu Sinta gunakan untuk menjahit pun dibuka oleh Farhan.
"Ruangan ini apa tidak pernah sama sekali dibuka? tanya Arsen saat debu membuatnya risih.
"Maaf, ruangan ini terakhir dibersihkan hampir setahun yang lalu semenjak mamah kami punya butik sendiri, jadi ruangan ini tidak pernah dipakai lagi," jelas Arifa yang sebenarnya merasa kangen akan kehadiran sosok mamahnya yang kini telah pergi entah kemana.
__ADS_1
"Oh gitu, mamah kalian penjahit?" tanya Dona saat melihat ada beberapa patung manekin, mesin jahit manual dan elektrik, gulungan bahan serta lemari kaca besar yang isinya beberapa pakaian yang gagal diambil pelanggan karena ada yang kebesaran atau kekecilan.
"Iya, dia seorang designer. Ya walaupun belum seterkenal Ivan Gunawan, tapi memang saya akui hasil karyanya saat ini sudah sangat bagus dan bisnisnya pun maju," jawab Farhan sambil menyilangkan tangan di dadanya.
"Oh gitu, lalu kalau rumah ini di jual apa barang-barang ini akan di bawa?" tanya Arsen.
"Niatnya setelah rumah ini kami jual, barang-barang seisi rumah ini akan kami lelang," jawab Farhan kembali.
"Sayang, bukankah kamu suka menjahit? kalau kamu mau nanti ruangan ini akan aku dekorasi ulang supaya kamu bisa nyaman menjahit," ujar Arsen pada istrinya.
Dona tampak berpikir setelah mendapat tawaran dari Arsen. Sepintas saat masuk ke dalam ruangan jahit itu, Dona sempat ingin membuat hasil karyanya sendiri.
"Iya, Mas, aku mau!" jawab Dona dengan antusias.
Arifa tersenyum dengan bahu yang dirangkul oleh Farhan.
"Pak Farhan, iklan yang Anda buat di aplikasi kami kan hanya rumahnya saja dan tidak dengan isinya. Lantas Pak Arsen kalau Anda ingin dengan isinya, mungkin bisa dilakukan di luar transaksi aplikasi ya," ucap Vian pada Farhan dan juga Arsen.
"Oh iya, Pak. Tenang aja, kalau istri saya suka dengan beberapa barang yang ada di rumah ini, nanti hari ini juga saya akan lunasi semuanya," kata Arsen yang sangat meyakinkan.
"Baiklah ... " Farhan melihat waktu yang ada di jam dinding telah pukul lima sore. "Bagaimana? apakah Bapak dan Ibu minat membeli rumah kami?" tanyanya dengan penuh harap.
Arsen dan Dona saling bertukar pandang lalu mengangguk dan tersenyum, "Iya," ucap mereka bersamaan.
"Baiklah kalau begitu, mari kita lakukan transaksi, boleh?" sahut Vian.
"Boleh, mari Pak, Bu," kata Farhan mempersilahkan tamunya untuk jalan lebih dulu.
Mereka pun berkumpul di ruang tamu untuk menyelesaikan transaksi pembelian rumah. Setelah menimbang-nimbang, sebagian besar barang yang ada di rumah itu juga dibeli oleh Arsen dan Dona. Arifa hanya mengambil beberapa barang yang akan ia bawa ke tempat kost-annya nanti. Berbeda dengan Farhan yang tidak membawa barang apapun di rumah itu kecuali pakaiannya sendiri dan juga beberapa pakaian mendiang Zakaria yang seukuran dengannya.
Satu jam berlalu, proses transaksi pun selesai. Rumah itu kini resmi dijual dan sudah berpindah tangan menjadi milik orang lain. Penghuni rumah yang baru pun berencana akan pindah sekitar satu minggu lagi. Sebab mereka butuh penyegaran design yang baru.
...Bersambung ......
__ADS_1