
Danish berusaha mencari minyak kayu putih di dalam nakas yang ada di samping tempat tidur Bianka. Tidak lama, ketemu lah barang yang ia cari lalu membuka tutupnya dan di dekatkan pada hidung Bianka.
Sementara Arifa yang masih sibuk menelepon rumah sakit, namun tidak ada yang menyanggupi dokter untuk datang ke rumah. Mereka hanya menerima pasien datang ke rumah sakit. Akan tetapi, saat ia menghirup aroma minyak kayu putih di seluruh ruangan, tiba-tiba rasa mual yang cukup dahsyat membuatnya ingin muntah saat ini juga.
"Huek! huek! huek!" Arifa mencari keberadaan kamar mandi di dalam kamar Bianka. Setelah menemukannya, ia langsung memuntahkan isi perut ke dalam kloset sebanyak tiga kali. Lemas, sudah pasti. Arifa sangat benci dengan minyak kayu putih dengan aroma lavender. Tubuhnya lunglai dan jatuh terduduk di lantai.
Danish yang melihat Arifa, mengerutkan keningnya. Sementara itu, Bianka pun terbangun, membuka matanya lebar-lebar.
Saat Bianka sudah sadar, dua orang pelayan di rumah itupun baru saja datang dan berdiri di ambang pintu. Danish menatap tajam kedua orang itu.
"Ambilkan Bianka minum dan juga makan!" sentak Danish yang mulai emosi. Sebab ia tahu pasti. Bianka memiliki penyakit asam lambung kronis sejak usianya sepuluh tahun. Jadi, tidak bisa makan telat waktu. Kalau sudah seperti ini, Bianka harus menebus obat yang telah di resepkan dokter dari Singapura, selama ini dikonsumsi.
Kedua pelayan itu tampak ketakutan dan mengangguk cepat setelah mendengar perintah Danish.
"Baik, Tuan." Mereka pun bergegas pergi dari kamar Bianka.
Seorang satpam yang tadi bersama Danish, masih berdiri di luar ruangan.
"Pak, tolong ke sini sebentar," panggil Danish pada satpam itu, yang kemudian mengangguk pelan dan berjalan menghampirinya.
"Ada apa, Tuan?" tanya satpam yang kini telah berdiri di hadapan Danish.
Secarik kertas Danish keluarkan dari dalam laci nakas paling atas. Ia membacanya kembali sebelum memberikan kertas yang bertuliskan resep obat Bianka pada satpam.
"Tolong tebus obat ini di apotek terdekat, dan ini ... " Danish kemudian mengeluarkan dompet dari dalam saku celana serta beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam dompet tersebut. "Ini uangnya, tolong jangan lama-lama ya," ucapnya sambil memberikan kertas resep dan juga uang ke satpam.
"Baik, Tuan. Laksanakan!" Satpam itu kemudian pergi dari kamar Bianka.
Tak lama dua orang pelayan tadi datang kembali sambil membawa masing-masing nampan berwarna hitam di tangan.
"Tuan, kami bawakan makan juga minum untuk Nona Bianka. Ini harus taruh dimana ya?"
"Di atas nakas aja." Bianka mewakili Danish menjawab pertanyaan mereka.
__ADS_1
"Kalian ikut saya!" titah Danish sambil berdiri lalu keluar dari kamar Bianka.
"Ba-baik, Tuan." Keduanya saling menyenggol sikut satu sama lain. Segera mereka taruh nampan itu, dan pergi mengikuti Danish, tak lupa salah satu dari keduanya menutup pintu kamar.
Danish berhenti di sudut yang berlawanan dari kamar tempat keponakannya itu berada. Kedua tangannya bersilang dada dengan raut kemarahan yang sangat jelas terlihat di wajahnya. Kedua pelayan itu tampak takut dan bingung saat dilihat Danish dari kejauhan.
Mereka berdiri sambil menunduk di hadapan Danish. Sebelum bicara, Danish pun memijat keningnya.
"Kenapa Bianka bisa terkunci di dalam kamar?" tanya Danish dengan suara yang penuh penekanan.
"Ma-af Tuan, sebelumnya ada petugas dari service home untuk memperbaiki telepon rumah yang rusak. Kami berdua sedang berada di dapur, kalau saya masak dan bersih-bersih rumah, sedangkan dia mencuci pakaian dan membersihkan halaman," jelas salah seorang pelayan itu.
"Lantas diantara kalian tidak ada yang tahu kapan orang yang memperbaiki telepon itu pulang? dan mengecek kembali rumah ini?" tanya Danish yang lebih menekan. Kedua pelayan itu hanya menggeleng cepat.
"Kalian berdua saya pecat! keluar dari rumah ini sekarang!" ucap Danish dengan nada yang meninggi. Kedua pelayan itu segera pergi dari hadapan Danish dengan perasaan yang kacau dan sedih.
Danish mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu mencari kontak seseorang di sana.
"To, tolong carikan asisten rumah tangga. Lima orang, ke rumah Bianka yang ada di kota J. Besok pagi harus sudah tiba," perintah Danish dengan tegas.
Setelah mendengar jawaban Rinto, sekertarisnya. Ia memutuskan sambungan telepon itu. Mungkin kalau bukan Rinto orangnya, akan merasa sakit hati bila mendapati sikap Danish yang demikian. Tapi itulah Danish. Dingin, to the point dan juga tegas.
Sementara itu di dalam kamar Bianka. Arifa kini telah mampu untuk berdiri, iapun keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri Bianka yang sedang menikmati makanannya.
"Loh, Fa ... kamu beneran ke sini?" tanya Bianka dengan matanya yang mulai berkaca-kaca saat melihat keberadaan Arifa di kamarnya.
Arifa pun merasa heran, kenapa Bianka tampak begitu senang dengan keberadaannya di sana? lalu ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku pikir kamu gak bakalan mau datang ke sini." Kali ini nada bicara Bianka terdengar menyedihkan, ia menundukkan kepalanya lalu menatap makanannya.
"Aku panik, Ka. ya bagaimana pun kamu teman ku sejak di akademi dulu. Toh lagi pula dekat dengan tempat kostku ... oh iya kamu udah merasa lebih baik?" ucap Arifa yang kemudian bertanya pada Bianka.
"Iya, kalau udah seperti ini. Mau tidak mau aku harus paksakan untuk makan. Soalnya asam lambungku udah kronis," jawab Bianka dengan wajah sendunya.
__ADS_1
Arifa pun tersenyum. Baru kali ini ia melihat sosok Bianka yang biasanya glamor dan ramai, seketika berubah menjadi pendiam dan sangat murung.
Ingin sekali Arifa melanjutkan perbincangannya dengan Bianka, tapi saat ia melihat waktu di jam dinding kamar itu telah menunjukkan pukul satu dini hari, ia urungkan.
"Ka, sebenarnya aku ingin bicara banyak sama kamu. Tapi ini udah larut banget. Nanti pagi kamu izin aja ke ketua penyelenggara ospek, punya gak nomor WhatsApp-nya?" ucap Arifa. Lalu Bianka menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala.
"Oh, okey. Kalau gitu nanti aku coba izinin ya," kata Arifa. Dan Bianka mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.
"Makasih banyak, Fa. Maaf udah repotin kamu tengah malam gini ... oh iya besok sepulangnya dari kampus kamu mau gak ke sini? atau kalau kamu capek, kamu pindah aja ya ke sini biar aku ada temannya. Aku bosan sendirian terus." Bianka merayu seperti layaknya seorang anak kecil yang sangat kesepian.
Arifa tampak berpikir keras. Pikirannya terus mengatakan tidak, tapi hatinya sangat lembut untuk menolak Bianka yang terlihat lebih menyedihkan dibanding dirinya.
"Gini aja, kita main kalau sedang libur ya, Ka. Kamu mau kemana? aku temani selagi aku ada waktu luang," kata Arifa yang coba menghibur Bianka.
"Benarkah? asik!" Raut wajah bahagia yang kini ada pada Bianka, membuat Arifa bersyukur. Membahagiakan orang lain merupakan tugas yang mulia juga, bukan?
Arifa mengangguk lalu berkata, "Ka, aku pamit pulang ya. Ngantuk banget soalnya."
"Iya, Fa. Kamu bisa gak pulang sendiri? atau aku minta om Danish buat antarkan kamu," tanya Bianka yang kemudian memberi usulan.
Dengan cepat Arifa menolak. "Jangan!"
"Jangan?" Bianka mencoba mencari tahu.
"Iya, jangan repot-repot maksudnya," kilah Arifa sambil menghembuskan napasnya.
"Oh, baiklah. Hati-hati dijalan ya, Fa. Makasih banyak sekali lagi."
"Iya sama-sama. Bye, Ka."
Arifa keluar dari kamar Bianka yang tidak lupa menutup pintunya kembali. Ia berjalan sambil sesekali menguap karena rasa kantuk yang mulai menguasai dirinya. Hingga tiba di lantai satu, Arifa melihat punggung Danish yang tampak sedang berbicara dengan seseorang pada ponselnya. Arifa terus berjalan menuju pintu keluar rumah. Dan tiba-tiba ...
"Tunggu!"
__ADS_1
...Bersambung ......