Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Jangan Marah Dulu


__ADS_3

Arifa menghempaskan tangan Danish lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.


“Lihatlah dia, kalau udah marah seperti itu pasti harus ke tempat sushi atau minuman dengan menu latte, baru deh gak bakal ngambek lagi,” ucap Farhan, memberitahu Danish tentang sang adik. Mungkin tujuannya supaya kedepannya Danish bisa memperlakukan yang sama seperti dirinya ataupun mendiang papahnya.


Dengan santai, Danish menghampiri Arifa lalu duduk dengan bertekuk lutut di hadapan perempuan berwajah tirus itu.


“Sayang, jangan marah dulu. Kakakmu gak salah, ini semua memang sudah menjadi rencanaku. Aku harus mendapatkan hati kakakmu lebih dulu, supaya kamu bisa luluh dan terbebas dari trauma yang selama ini menghantuimu dan merasa hidupmu gak nyaman.”


Arifa melihat ke arah Farhan yang ada di depannya juga, kakaknya mengangguk lalu tersenyum. “Tapi Kak Farhan belum menikah, apa boleh aku melangkahi dia?” tanyanya pada Danish. Namun yang ditanya tidak menjawabnya melainkan mempersilahkan Farhan yang menurutnya lebih berwenang menjawab pertanyaan itu.


“Kalau kamu yakin sama pilihanmu, menikahlah. Suatu saat nanti Kakak juga akan bertemu jodoh yang tepat. Walaupun bukan sekarang. Setelah kamu menikah dengan Danish nanti, tanggung jawab yang selama ini ada pada Kakak akan jatuh pada Danish, suamimu,” ucap Farhan, lalu mengusap kepala sang adik.


"Terima kasih banyak Kak." Arifa tersenyum dengan sorot sendunya.


"Udah ah, Kakak paling sebel kalau melow kayak gini tuh. Beberapa bulan lagi kamu akan menikah dengannya, belajarlah bersikap dewasa, jangan apa-apa maunya marah terus. Inget Danish calon suamimu ini laki-laki mapan juga tampan, kalau sampai ada celah buat perempuan lain merebut hatinya, jangan nangis-nangis bilang menyesal," kata Farhan sambil memicingkan matanya, seakan Arifa tengah diintimidasi oleh kakak kandungnya sendiri.


"Biasa aja kali Kak, iya iya. Rifa usahakan, semampu Rifa, iya kan Sayang," sahut Arifa yang kemudian melihat Danish sambil memainkan alisnya, naik turun.


Sementara Danish tergelitik untuk tertawa melihat tingkah calon istrinya yang sangat random. Memang sih, diusia Arifa yang terbilang masih muda untuk memasuki dunia pernikahan tidak bisa dipastikan akan menjadi perempuan dewasa dalam sekejap. Semua butuh proses, juga seseorang yang mampu dengan sabar menemaninya dalam berproses.


Arifa menarik tangan Danish, "Sini duduk Sayang, memangnya kaki kamu gak pegal bertekuk lutut seperti itu?" imbuhnya, Danish pun membawanya ke dalam pelukan lalu mengecup kening Arifa.


"Ah! rasanya panas sekali ada di ruang tamu ini. Lebih baik aku fokus kerja lagi," seru Farhan sambil mengibas-ngibaskan baju oblong yang dipakainya lalu pergi ke ruang kerjanya kembali.

__ADS_1


Danish dan Arifa tertawa melihat Farhan yang merasa cemburu dengan kemesraan mereka.


"Hmm ... Sayang," panggil Danish lalu Arifa pun menoleh.


"Iya?"


"Besok aku ada perjalanan dinas ke negara lain, kamu gak apa-apa kan seharian besok di rumah aja? lusa kebetulan aku juga mau pulang ke Indo, jadi nanti kita bisa pulang bareng," ucap Danish dengan hati-hati, takut Arifa marah lagi.


"Giti ya Sayang?" tanya Arifa lalu terdiam kembali, mulai berpikir.


Danish mengangguk pelan, jantungnya berdetak cukup cepat. Pasalnya dia baru saja melamar Arifa, masa iya bisa putus begitu saja?


"Iya udah gak apa-apa deh. Tapi boleh kan aku selingkuh dulu sama Haechan-ku?" jawab Arifa yang kemudian bertanya kembali sembari memohon.


"Haechan-ku? yang artis Korea itu?" tanya Danish memastikan, tatapannya mulai sinis. Tapi kenyataannya, dia sama sekali tidak marah.


"Baiklah. Tapi setelah menikah nanti, kamu gak akan aku beri kesempatan melihat Haechan-mu lagi. Bisa-bisa cuma dia terus yang kamu sanjung-sanjung di depanku!" kata Danish yang merasa cemburu dan sedikit kesal.


"Oke baiklah, aku janji," ucap Arifa sambil mengangkat jari kelingkingnya lalu mengajak Danish saling menautkan jari kelingkingnya juga. "Yeay!"


Memang dasar Danish, lama-lama yang tadinya punya sikap tak acuh serta dingin kayak di kutub utara. Efek samping bergaul dengan Arifa jadi ikutan random.


Danish berdiri begitu pun dengan Arifa. "Sudah malam, aku harus kembali ke hotel. Sampai bertemu lusa, Sayang," ucapnya lalu memberi kecupan lagi pada kening Arifa.

__ADS_1


"See you next time. Sayang!" seru Arifa yang kemudian memeluk Danish.


Awalnya tadi sempat malu-malu, sekarang jadi lengket seperti ulat keket. Danish bisa jadi semakin awet muda nih.


...----------------...


Di negara ibu pertiwi, tepatnya di sebuah perguruan tinggi tempat Arifa menuntut ilmu. Seorang laki-laki tengah berada di ruang direktorat kampus untuk mengurus surat pindah ke kampus tujuannya yang ada di luar negeri.


Namun setelah selesai dari ruangan itu, dia bergegas pergi ke bandara. Mungkin bukan untuk sementara, melainkan selamanya tidak akan kembali.


Laki-laki itu adalah Eliezer. Seusai dirinya bertemu dengan Danish beberapa bulan yang lalu, terjadi perdebatan yang besar antara dirinya juga Danish. Keduanya sama-sama tidak ingin melepaskan perasaan mereka untuk Arifa. Bahkan seperti yang dibilang oleh Arifa sendiri kepada sang kakak. Sejak saat itu mereka benar-benar menghilang bagai di telah bumi.


Arifa yang awalnya tidak terlalu menghiraukan mereka, hilangnya Eliezer dan Danish dari hidupnya seakan telah mematri dirinya untuk menanti. Kalau Arifa lebih baik berteman dibanding memiliki perasaan yang akhir ya membuat keduanya saling menjauh. Balik lagi pada fitrahnya, seorang laki-laki dan perempuan tidak ada yang benar-benar murni sebagai teman. Pasti salah satu diantaranya ada yang berharap bisa memiliki lebih dari teman.


Seiring berjalannya waktu, Eliezer pun memutuskan. Untuk mundur, membiarkan Danish maju dan berjuang untuk kebahagiaan Arifa. Akan tetapi jika suatu saat Danish membuat Arifa menangis dan kecewa, jangan salahkan dia jika merebut hati Arifa kembali darinya.


"Bos, pesawat yang akan Anda tumpangi telah siap," ucap orang kepercayaan Eliezer ketika dirinya telah sampai di bandara.


"Terima kasih, lanjutkan tugasmu di sini. Saya pergi dulu, sampai jumpa lain waktu," kata Eliezer yang pamit padanya.


Dibalik kaca mata hitam yang menutupi sepasang mata bermanik coklat miliki Eliezer, menerawang jauh ke depan. Mungkin setelah ini ada rindu yang begitu berat untuk dia hadapi. Bergelut dengan ego yang masih panas bagai habis tersulut oleh api.


Eliezer kembali pada sifat aslinya yang tidak pernah ia tunjukkan di depan Arifa. Dingin, kaku serta tempramental. Di lingkungan kantor, ia sudah terkenal seperti itu, makanya para pegawai yang bekerja bersamanya pun tidak akan banyak protes.

__ADS_1


Cukup lama Eliezer mematung ditempatnya, dirinya kemudian bergegas masuk ke dalam pesawat sambil membawa jas yang ia pegang di tangannya. Tak lama, pesawat yang ditumpanginya pun terbang meninggalkan landasan.


...Bersambung ......


__ADS_2