Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Efek Cuaca Pagi


__ADS_3

"Danish, kenapa kamu menikah gak bilang sama kami? memangnya kami udah gak dianggap saudara lagi bagimu?" Paman Malih, kakak sepupu dari mendiang ibunya Danish. Dia memang pandai bermain karakter sejak dulu. Bahkan ketika ibunya masih hidup. Saat masih kecil Danish tidak pernah mereka anggap keponakan karena sang ibu tidak menurutinya untuk menikah dengan Pak Kades yang beristri empat waktu itu.


"Maaf. Tapi bukannya Paman sama Bibi ini yang menjauhkanku dan juga kakak? kenapa sekarang bertanya seperti itu? apa karena sekarang nama ibuku terpandang di desa ini?" ucap Danish. Raut wajah laki-laki itu masih tampak santai, tapi dalam hatinya dia menahan amarahnya sambil mempererat genggaman tangannya pada sang istri.


Arifa tahu betul, Danish sebenarnya marah. Namun karena di rumah sedang ada acara, sebisa mungkin laki-laki itu tetap menjaga emosinya.


"Kamu ini, dibilangin malah memutar balikkan fakta aja. Mana rasa hormat kamu pada orang yang lebih tua? sama aja seperti ibumu yang sulit di atur!" Paman Malih tiba-tiba meninggikan suaranya.


"Memutar balikkan fakta Paman bilang? Cih!" Danish berdecih lalu tersenyum menyeringai. "Fakta mana yang telah saya putar balikkan, hm?" lanjutnya.


"Sudahlah percuma bicara sama orang kaya yang begitu sombong seperti dia. Ayuk kita pergi aja dari sini!" Paman Malih sudah tidak kuasa menahan amarahnya. Laki-laki itu lebih memilih pergi dari kediaman mendiang ibunya Danish itu, mengajak yang lainnya juga.


Setelah mereka semua pergi, Danish pun kembali ke depan rumah hingga acara selesai.


"Sayang, boleh gak lepasin dulu tanganku? keram soalnya," pinta Arifa dengan hati-hati. Sesaat kemudian Danish tersadar kalau lama-lama dia bisa menyakiti tangan istrinya sendiri.


"Maaf, Sayang." Danish pun melepaskan genggaman tangannya.


...----------------...


Malam sudah mulai larut. Acara berbagi kebahagiaan pun telah usai. Kedua mempelai pun telah masuk ke dalam kamar.


Begitu pula dengan Bowo serta Angki yang baru saja selesai membersihkan rumah dibantu orang-orang yang akan melepaskan tenda. Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Namun Danish yang masih merasa geram dengan paman dan bibi dari mendiang ibunya itu, sulit untuk memejamkan matanya. Sedangkan Arifa sudah pergi ke alam mimpi sejak beberapa menit yang lalu.


Waktu bergulir terasa begitu cepat. Hingga pukul tiga pagi, Danish masih saja terjaga yang kini duduk di sebuah kursi, depan meja belajarnya dengan laptop yang menyala di hadapannya.


Arifa terbangun lalu duduk sambil bersandar pada kepala tempat tidur, kemudian mengambil segelas air yang ada di atas nakas kecil di samping tempat tidur. Ketika sedang asik minum, tiba-tiba dirinya tersendak air saat melihat Danish yang duduk memunggunginya.


*Uhuk! Uhuk!*


Danish menoleh lalu segera bangkit dan menghampiri istrinya.


"Pelan-pelan Sayang, gak ada yang minta minuman kamu kok," ucap Danish, membantu Arifa menaruh gelas itu kembali ke tempat semula.

__ADS_1


"Bukannya gitu Sayang ... aku kaget ada kamu di kamar ini," sahut Arifa.


"Kenapa kaget? kan kita sudah resmi menjadi suami istri."


"Iya ... aku belum terbiasa aja kita satu kamar, hehe," jawab Arifa sambil cengengesan.


"Dasar deh! Lebih baik kamu tidur lagi ya Sayang." Danish mengelus lembut kepala Arifa lalu mengecup keningnya cukup lama. Perempuan berwajah tirus itu sendiri merasa bibir Danish semakin lama mulai bergemetar. Dia segera memeluk suaminya.


"Kalau sedih, marah ataupun senang jangan dirasain sendiri. Coba sini berbagi sama aku. Walau cuma kamu yang bisa ngerasain, tapi bukannya lebih nyaman diutarakan supaya gak jadi penyakit?" ucap Arifa lalu mengeratkan pelukannya.


Danish terdiam sejenak. Laki-laki itu awalnya tidak ingin istrinya terlibat dalam perang batin yang sedang dia rasakan. Tapi, perkataan Arifa ada benarnya juga. Salah satu hubungan suami istri yang baik dimulai dari adanya komunikasi dua arah, kamu dan aku.


Perlahan pelukan itu terlepas. Keduanya saling pandang satu sama lain, lebih lekat dan lebih lekat lagi. Seakan mencari sesuatu yang hilang di dalam tatapan itu. Tapi yang ada hanya tersirat kasih sayang yang mendalam di mata keduanya.


"Udah pagi, lebih baik kita tidur sebentar terus berjalan-jalan di sini. Kayaknya kalau pagi udara disini terasa sangat bersih ya?" kata Arifa, mencoba mencairkan suasana yang tadi sempat runyam.


"Sayang, apa kamu bahagia menikah denganku?" Danish tiba-tiba mempertanyakan hal yang sebenarnya dia sendiri sudah tahu jawabannya. Arifa mengerutkan kening, sedikit memiringkan kepalanya dan seakan bertanya balik 'kenapa harus dipertanyakan lagi?'. Tapi mungkin, Danish sedang butuh kekuatan batin.


"Iya, aku bahagia, sangat bahagia." Dengan setulus hati, Arifa menjawab penuh keyakinan. Walau usia pernikahan mereka belum ada sehari. Kini Arifa mulai mengenal Danish dari sisi lainnya yang selama ini terlihat tak acuh, kejam bahkan sering menghilang seperti hantu.


"Tapi Sayang ... " Danish tidak melanjutkan perkataannya lagi. Melainkan, wajahnya mulai mendekat dan semakin dekat dengan wajah istrinya.


Arifa seketika tercekat, batinnya menduga kalau Danish akan meminta haknya saat ini juga. Debar di jantungnya menimbulkan rasa menggelitik yang membuat arus darah dalam nadi memiliki sebuah sensasi, yaitu hasrat.


Awalnya Danish hanya memberi sebuah kecupan singkat di bibir tipis milik Arifa. Namun yang kedua kalinya, menjadi sebuah pagutan yang semakin membuat Arifa kebingungan.


"Ikuti nalurimu, rasakan nikmatnya ... dan balas ci*umanku ini," kata Danish di sela pagutannya yang mulai memanas.


Arifa pun mengikuti apa yang dikatakan suaminya barusan. Bagaikan seperti naik ke puncak gunung. Semakin membalas, membuat Danish semakin tambah bersemangat untuk melakukan lebih.


Setelah pakaian keduanya ditanggalkan lalu di buang ke sembarang arah. Danish mulai permainan intinya.


"Pelan-pelan," kata Arifa sambil meringis ketika Danish mulai menancapkan pusakanya untuk menikmati indahnya surga dunia.


Permainan pun dipimpin Danish dengan senyaman mungkin baik untuk dirinya dan juga sang istri. Ini adalah pertama kalinya mereka lakukan. Terlebih Danish di saat usianya sudah sangat mapan, tapi setelah merasakan kenikmatan yang tiada tara, seolah kembali ke masa remaja.

__ADS_1


Hingga dua jam sudah keduanya saling meneguk hasrat yang memburu, rasa puas pun terlihat dari wajah sepasang pengantin baru itu.


"Kamu hebat Sayang," kata Danish pada istrinya.


"Kamu jauh lebih hebat Sayang, aku sampai kualahan tadi," sahut Arifa sambil cekikikan.


Danish pun merebahkan tubuhnya yang masih polos di samping Arifa lalu keduanya saling berpelukan.


"Sayang, soal Paman tadi jangan terlalu dipikirkan ya. Aku cuma takut kamu jadi ikut kepikiran," kata Danish, yang saling menatap sambil mengusap wajah sang istri yang masih terlihat banyak peluh yang mengalir melewati pipi tirusnya.


"Iya, aku justru malah kepikiran sama kamu. Memangnya hubungan kalian udah gak baik ya sejak lama?" jawab Arifa yang kemudian bertanya balik.


"Dulu, ibuku sudah gak punya orang tua sejak usianya lima tahun. Nah beliau diurus oleh paman Malih itu."


"Paman Malih yang bicara denganmu semalam?"


"Iya. Dia orangnya ... terus pas ibuku lulus sekolah, usianya saat itu seusia kamu sekarang. Delapan belas tahun. Ada kepala desa yang datang ke rumah minta ibuku jadi istri ke-limanya. Ibuku gak mau. Terus paman bilang kalau ibuku menikah dengan dia hidupnya bakal terjamin terus paman juga dapat bagian dari jatah ibuku. Otomatis, ibuku menolak tegas. Dia memilih pergi merantau ke kota orang untuk cari kerja. Ya singkat cerita, saat ibuku telah bekerja dan saat itu pula bertemu dengan ayahku. Dulu paman marah sekali pas tahu ibuku memilih menikah dengan ayahku ketimbang pilihannya."


Arifa mengangguk paham. "Berarti rumah ini peninggalan nenek kamu? bukan begitu?"


"Salah, rumah ini hadiah dari ayah saat ibuku tengah ulang tahun dan sedang mengandung kakakku."


"Oh jadi begitu. Tapi kok paman Malih itu seakan gak punya muka ya semalam datang tiba-tiba bilang kalau kamu gak anggap mereka?"


Mendengar ucapan istrinya, Danish hanya tergelak dengan tawanya.


"Sekarang gini ... kalau ada orang bermuka dua, kita harus bisa bermuka lima. Supaya orang yang menganggap saudara ketika kita sukses itu, akan terperangkap pada permainannya sendiri."


"Berarti aku tadi kalah muka dong ya sama kamu!" sentak Arifa tiba-tiba memasang wajah cemberut.


"Hah? kok gitu?" Danish mengangkat sebelah alisnya. Belum paham maksud istrinya.


"Iya, aku jadi terperangkap sama permainanmu tadi, malah sampai dua jam lagi!" keluh Arifa yang berpura-pura marah pada Danish.


Seketika tawa laki-laki berwajah oriental itu pun pecah. Lalu dia pun membawa sang istri ke dalam pelukannya.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2