Retaknya Sebuah Hati

Retaknya Sebuah Hati
Pindah Kampus


__ADS_3

Satu hari setelah pulang ke tanah air, Arifa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan lalu bersiap untuk pergi ke kampus untuk memulai awal semester dua.


Ketika tiba di kampus, entah kenapa seperti ada yang hilang dari sudut perasaannya. Dia tiba-tiba merindu akan sosok yang selalu mengekor selama berada di kampus.


Bukan hanya sekadar menyapa, tapi sampai membuat emosi naik ke ubun-ubun. Sosok laki-laki yang juga pernah menorehkan luka. Dia tidak tahu, kalau sosok yang ia harapkan saat ini sudah tidak ada lagi di kampus itu.


Arifa turun dari motor, lalu berjalan menuju ruang kelasnya. Mata kuliah hari ini hanya ada satu, jadi Arifa bisa langsung bertolak ke rumah si ibu untuk mengecek produksi camilan yang dijualnya.


Sepanjang koridor yang menuju ruang kelas, tidak sengaja Arifa berpapasan dengan tiga orang yang di dahului oleh seorang perempuan yang mendapat julukan 'kuntilanak' olehnya, Naura.


"Eh Arifa!" sapa Naura. Perempuan itu tiba-tiba saja langsung bernada tinggi dan seperti telah siap mencari keributan di pagi ini.


"Apa?" tanya Arifa dengan setenang mungkin. Naura pun justru semakin geram karena melihat sikap Arifa yang masih bisa tenang, sedangkan dirinya tidak.


"Keterlaluan lo! puaskan lo udah bikin El pergi dari kampus ini? lo pasti senang bukan? jangan harap lo bisa tenang setelah El gak ada di sini. Itu artinya malaikat lo memang gak butuh orang sok polos kayak lo gini!" sergah Naura sambil menyodorkan jari telunjuknya ke dada Arifa hingga tubuh yang ditunjuk terkoyak.


Sementara itu, Arifa terkejut mendengar penuturan Naura.


Eliezer pergi dari sini? apa dia marah aku tolak? kenapa bisa? Aku harus ekstra kuat menghadapi kuntilanak satu ini. Setidaknya sampai dia lulus satu bulan lagi. Batin Arifa.


"Bukan urusan gue!" timpal Arifa lalu menghempaskan tangan Naura yang terus menunjuk dadanya bertubi-tubi. Lalu mendorong balik perempuan itu hingga hampir tersungkur ke lantai, beruntung, kedua anteknya segera menangkap.


Arifa pergi dari hadapan mereka. Walau hatinya masih terasa mengganjal, kepergian Eliezer sungguh teka teki baginya. Terlepas dari itu, dia harus tetap bersikap seperti biasa, tidak terlalu terbawa pikiran.


...----------------...


Mata kuliah hari ini pun telah selesai. Arifa keluar dari ruang kelas kemudian berjalan ke tempat parkir. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok 'kuntilanak' itu bersama kedua anteknya sedang melakukan tindakan yang sangat keterlaluan.


Kaca spion, ban dikempeskan, serta lampu depan motor milik Arifa di congkel sehingga tidak berbentuk lagi. Perempuan berwajah tirus itu, menarik napasnya dalam-dalam. Dia sangat tahu tujuan Naura hanya ingin membuat masalah pada dirinya. Akan tetapi karena sikapnya tak acuh tadi pagi, membuat motor kesayangannya itu menjadi korban.


Oh motor, malang sekali nasibmu. Andai kamu bisa bicara, pasti juga akan memaki si Naura itu.


Setelah emosinya stabil, dia berjalan dengan sengaja melewati tempat parkir begitu saja dan pura-pura tidak melihat keberadaan Naura dan kedua temannya itu di sana. Sebenarnya hatinya merasa sakit, barang miliknya dirusak oleh orang lain. Beruntung di dalam motor itu tidak ada sesuatu yang berguna. Paling hanya ada jas hujan.


Kalaupun ingin melapor ke pihak kampus atau pihak berwajib, Arifa sedikit merasa lega karena ada CCTV di area parkir serta bukti kepemilikan yang dia taruh di tempat kost.


"Eh itu kok si Arifa jalan aja? gak ke sini?" tanya salah satu anteknya Naura. Terperangah melihat Arifa melewati mereka.


"Benar kan ini motornya?" tanya Naura memastikan kepada kedua anteknya itu.


"Benar kok, aku tahu banget!" jawab satu anteknya yang lain.


Ponsel yang ada di saku celana Arifa pun bergetar, dia segera mengeluarkannya dari sana lalu menjawab sebuah panggilan yang masuk ke dalam ponselnya tersebut. Tertera nama Bi Lina pada panggilan itu.


"Hallo Bi?"


"Neng dimane? bibi di depan tempat kost ini."


"Oh iya Bi, Rifa baru selesai mata kuliah hari ini. Rifa pulang sekarang."


"Iya Neng, Bibi tunggu."


Kemudian sambungan telepon pun terputus. Baru saja Arifa memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, tiba-tiba ada panggilan masuk kembali. Kali ini Danish yang meneleponnya.


"Hallo Sayang," sapa Arifa dengan lembut, seketika lenyap sudah amarahnya yang tadi sempat di rasa.


"Coba lihat ke depan gerbang Sayang," ucap Danish yang kemudian dituruti oleh Arifa. Berjalan lebih maju lagi dan menoleh ke depan gerbang kampus. Ternyata laki-laki itu tengah berdiri sambil bersandar pada pintu mobil dengan setelan jam berwarna abu yang dipakainya.


Ya ampun ganteng banget sih calon suamiku. Seperti ini kah pemandanganku besok setelah menikah dengannya? ucap Arifa dalam hatinya yang sedang berbunga-bunga.


Tanpa memutuskan panggilannya, Arifa segera berlari lalu berhambur ke pelukan Danish.

__ADS_1


"Motormu diapain sama mereka?" tanya Danish. Laki-laki itu rupanya telah melihat dari awal kelakuan Naura dan kedua anteknya itu.


"Biasa kuntilanak itu selalu bikin ulah. Masa Eliezer pergi dari kampus ini yang di salahin aku, ya aku cuekinlah!" Nada bicara Arifa mulai meninggi. Spontan emosinya keluar dan mengalir begitu saja ketika bersama Danish saat ini. Laki-laki yang ada merangkulnya pun tidak marah. Dia tahu kalau Arifa butuh seseorang untuk meluapkan amarahnya, cukup meluapkan supaya bisa lebih tenang.


Danish mengelus punggung Arifa dengan lembut, sebab napas perempuan berwajah tirus itu sangat memburu, naik turun.


"Sudah, yuk masuk ke dalam. Biar mereka aku yang urus. Tenang ya Sayang," bujuk Danish sambil memberi kecupan hangat di kening Arifa.


"Iya, I'm okay," kata Arifa kemudian mengangguk pelan. Ia pun masuk kedalam mobil dan duduk di kursi belakang bersama Danish. Kali ini ada sopir pribadi yang mengantar laki-laki berwajah oriental itu.


"Kamu kok tumben pakai sopir Sayang?" tanya Arifa yang baru saja menutup pintu mobilnya.


"Iya lagi kerasa capek banget badanku," keluh Danish sambil memberi pijatan pada lehernya. "Oh iya kenalin ini Pak Lee, dia sopir pribadiku sudah sekitar hampir lima belas tahun ya Pak?"


"Benar Tuan."


"Oh, hai Pak Lee, saya Arifa."


"Saya Lee, Nyonya."


Arifa mengerutkan keningnya ketika mendapat panggilan nyonya dari sopir pribadi calon suaminya itu. Kemudian Danish pun mendekatkan wajahnya ke telinga Arifa sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


"Kamu kan sebentar lagi jadi istriku."


Arifa merasa geli ketika hawa panas yang keluar dari mulut Danish begitu terasa di telinganya. Ia hanya terkekeh pelan lalu tersenyum menatap Danish.


"Maaf Tuan, kita mau kemana?" tanya sopir sebelum melajukan mobilnya.


"Ke butik Pak," jawab Danish. Tiba-tiba Arifa menepuk pahanya cukup keras membuat laki-laki berwajah oriental itu tersentak kaget. Bukan hanya sang tuan, tapi sopirnya pun sama kagetnya. "Ada apa Sayang?" tanya Danish kemudian.


"Ada bi Lina di tempat kost. Aku harus segera pulang," jawab Arifa, memohon.


"Adik dari mendiang papahku."


"Oh gitu, kalau malam ini aku ajak ke butik gimana?" tanya Danish. Membuat tanda tanya lagi bagi Arifa.


"Ke butik siapa? mau ngapain?"


"Adalah, surprise pokoknya!"


"Kalau besok gimana? pulang kuliah. Aku lagi ada tugas urgent soalnya."


Tanpa menjawab usul yang Arifa berikan, Danish mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari kantong belakang kursi kemudi. Kemudian memberikannya pada Arifa.


"Apa ini Sayang?" tanya Arifa seraya menerima amplop itu dari tangan Danish.


"Coba baca dulu."


Arifa membaca tulisan yang ada di depan amplop. Sebuah universitas yang terletak di kota D. Dengan rasa penasaran, ia pun membukanya. Lalu membaca isi dari selembar kertas didalamnya dengan teliti.


"Kamu pindahin aku ke kampus ini Sayang?" tanya Arifa yang masih tidak percaya. Dia sangat terharu bisa masuk kampus termahal yang ada di kota D itu.


"Maaf Tuan, ini jadinya kemana?" tanya sopir lagi, menjeda kebahagian Arifa sejenak.


"Ke tempat kost," jawab Danish dan Arifa bersamaan.


"Baik." Sopir merasa nyalinya seketika menciut dan langsung patuh pada kedua orang yang duduk di kursi penumpang belakang. Mobil pun dilajukannya menuju tempat kost Arifa.


"Aku merasa gak tenang kalau kamu terus berada di kampus ini Sayang. Apalagi kamu punya musuh. Ya paling gak, kalau kamu di kota D, kita bisa lebih dekat lagi. Mau urus pernikahan juga gampang jadi gak harus ke luar kota. Lusa kamu sudah bisa kuliah di sana, dengan jurusan yang sama."


Setelah mendengar penuturan dari Danish, seketika wajah Arifa berubah. Tampak sedih sambil menunduk. Perlahan tangan Danish mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya laki-laki berwajah oriental itu dengan sangat lembut.


"Bisnis aku disini gimana?" Arifa bertanya balik padanya.


"Kamu bisa pantau melalui telepon Sayang, seminggu sekali aku akan antar kamu untuk mengecek keadaan rumah produksi di kota ini," jelasnya yang mencerahkan hati Arifa.


"Benarkah Sayang?" tanya Arifa dengan penuh semangat. Danish pun mengangguk seraya tersenyum.


Tak lama, mobil pun telah terparkir di halaman kost-kostan.


"Kamu mau ikut turun?" tanya Arifa yang memberi tawaran pada Danish.


"Tentu dong! kan sebentar lagi aku juga bakal jadi bagian dari keluarga kalian," jawab Danish membuat Arifa tersenyum lebar.


"Ayuk kalau gitu," ajak Arifa kemudian dan keduanya pun turun dari mobil bersamaan.


Danish meraih tangan Arifa dan menggenggamnya cukup erat. Lina berserta keluarganya terperangah melihat kedua orang yang sedang berjalan ke arah mereka itu.


"Die siapa Neng? pacar?" tanya Lina yang tampak penasaran.


"Perkenalkan, saya Danish. Calon suami Arifa, keponakan kalian," ucap Danish sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan. Dan semuanya pun menyambut uluran tangan Danish dengan ramah.


"Ya ampun, Bibi gak nyangka kalau Neng Arifa udeh mau nikah aja. Kapan lamarannye Neng?" tanya Lina yang begitu bahagia mendengar kabar baik dari keponakannya itu.


"Lamarannya sewaktu liburan di tempat kak Farhan kemarin Bi. Dinda Rifa suruh ikut gak mau!" jawab Arifa. Memang sebelum berangkat ke negara tempat Farhan berada, ia sempat menawarkan pada adik sepupunya itu. Tapi ternyata di tolak karena alasan akan ujian akhir semester.


"Oh iye juga sih."


Arifa membuka kunci pintu tempat kostnya itu.


"Yuk masuk dulu Bi!" ajaknya kemudian.


"Sayang, aku pamit pulang ya. Mau istirahat dulu," ucap Danish berpamitan dengan Arifa.


"Oh iya udah, gak apa-apa kok Sayang," kata Arifa, mengerti.


"Nanti sore aku jemput ya."


"Iya."


"Semuanya saya pamit dulu ya, permisi."


Danish pun pergi dari tempat kost Arifa menuju kediamannya yang dulu sempat ditempati bersama Bianka. Setelah kepergian Danish, Arifa bersama keluarga Lina duduk bersama di ruang depan.


"Sebentar Bi, biar Arifa ambilin minum sama makanan dulu ya!"


Lina pun mengangguk dan bersedia menunggu. Beberapa saat kemudian, Arifa datang membawa minum serta makanan yang kemarin sempat ia beli di negara tempat Farhan berada.


"Silahkan di cicipi, kebetulan kemarin sebelum pulang Rifa sempat beli makanan di sana."


"Wah kelihatannye enak, Bibi makan ye Neng."


"Iya Bi silahkan."


Di sela sedang asik mencicipi berbagai makanan, Arifa pun bertanya. "Omong-omong ada apa bi Lina ke sini?"


Lina menghentikan makannya sejenak." Jadi gini Neng, hari minggu ini si Diana mau dilamar, nah ini orangnya." Lina kemudian menunjuk laki-laki yang duduk di sebelah suaminya.


"Oh gitu, tapi bukannya Diana masih satu tahun lagi lulusnya ya, Bi?"


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2